Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 September 2026 | 12.59 WIB

5 Alasan Orang Sering Membanggakan Betapa Sedikitnya Waktu Tidur Mereka Menurut Psikologi

seseorang yang membanggakan sedikitnya waktu tidur. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - “Semalam saya cuma tidur tiga jam, tapi tetap bisa kerja.” “Saya biasa tidur empat jam. Tidak masalah.” “Saya nggak butuh tidur banyak seperti orang lain.”

Kalimat-kalimat seperti ini terdengar sederhana. Namun, jika seseorang terus-menerus membanggakan betapa sedikitnya waktu tidur yang mereka butuhkan, perilaku tersebut bisa memiliki makna psikologis yang lebih kompleks.

Tidur biasanya dipandang sebagai kebutuhan biologis. Akan tetapi, dalam kehidupan sosial modern, tidur juga dapat menjadi simbol: simbol produktivitas, ketangguhan, ambisi, disiplin, bahkan status.

Di lingkungan yang sangat menghargai kesibukan, seseorang yang mengatakan bahwa dirinya hanya tidur empat jam terkadang tidak sekadar sedang menceritakan kebiasaan. Ia mungkin sedang menyampaikan pesan tersirat: “Saya sangat sibuk,” “Saya sangat kuat,” “Saya tidak seperti kebanyakan orang,” atau “Saya mampu melakukan lebih banyak daripada orang lain.”

Psikologi dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian orang melakukan hal ini.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (10/9), terdapat lima alasan yang mungkin berada di balik kebiasaan tersebut.

1. Mereka Mengaitkan Sedikit Tidur dengan Produktivitas dan Kesuksesan

Salah satu alasan paling sederhana adalah karena seseorang telah membangun hubungan mental antara kurang tidur dan produktivitas.

Dalam budaya yang sangat berorientasi pada pencapaian, waktu sering diperlakukan seperti sumber daya yang harus dimaksimalkan. Delapan jam tidur kemudian bisa dianggap sebagai “delapan jam yang hilang”, sementara bekerja hingga larut malam terlihat seperti bukti ambisi.

Akibatnya, seseorang mungkin mulai merasa bahwa tidur lebih sedikit membuat dirinya lebih produktif.

Ada pola pikir seperti ini:

“Kalau saya tidur lebih sedikit, berarti saya punya lebih banyak waktu untuk bekerja.”

Secara matematis, memang benar bahwa mengurangi waktu tidur menghasilkan lebih banyak jam terjaga. Tetapi persoalannya adalah jumlah waktu terjaga tidak sama dengan kualitas fungsi mental.

Kurang tidur dapat memengaruhi perhatian, konsentrasi, suasana hati, kemampuan mengambil keputusan, dan berbagai aspek fungsi kognitif. Jadi, seseorang mungkin memperoleh beberapa jam tambahan untuk bekerja, tetapi belum tentu memperoleh produktivitas yang sebanding.

Namun secara psikologis, persepsi bisa berbeda.

Orang tersebut mungkin melihat dirinya sedang melakukan pengorbanan demi kesuksesan. Karena itu, tidur sedikit menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan.

Semakin besar pengorbanan yang ia rasakan, semakin besar pula kemungkinan ia menceritakannya kepada orang lain.

Misalnya:

“Saya baru tidur jam tiga pagi karena menyelesaikan proyek.”

Kalimat tersebut secara tidak langsung bukan hanya mengatakan bahwa ia kurang tidur. Ia juga mengatakan:

“Saya rela mengorbankan kenyamanan pribadi demi pekerjaan saya.”

Dalam konteks tertentu, pengorbanan seperti itu dapat menjadi bagian dari identitas seseorang.

Tidur sebagai simbol kerja keras

Di lingkungan tertentu, orang yang selalu sibuk mendapatkan penghargaan sosial. Mereka dianggap ambisius, berdedikasi, dan mempunyai tujuan besar.

Karena itu, kurang tidur bisa menjadi semacam “lencana kehormatan”.

Bukan berarti semua orang yang kurang tidur sengaja mencari pengakuan. Banyak orang memang mempunyai jadwal berat, pekerjaan dengan tuntutan tinggi, atau kondisi kehidupan yang membuat mereka sulit tidur.

Tetapi ketika seseorang berulang kali menekankan betapa sedikitnya ia tidur, ada kemungkinan bahwa jumlah tidur tersebut telah menjadi bagian dari cara ia mendefinisikan produktivitas dirinya.

2. Mereka Ingin Terlihat Lebih Tangguh daripada Orang Lain

Alasan kedua berkaitan dengan citra diri dan kebutuhan untuk terlihat kuat.

Manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain. Kita ingin mengetahui apakah kita lebih kompeten, lebih kuat, lebih sukses, atau lebih mampu menghadapi tekanan dibandingkan orang di sekitar kita.

Dalam konteks ini, kemampuan bertahan dengan sedikit tidur dapat dianggap sebagai bukti ketangguhan.

Seseorang mungkin berpikir:

“Orang lain butuh delapan jam, saya cuma butuh empat.”

Jika keyakinan tersebut menjadi bagian dari identitas, maka tidur sedikit tidak lagi dipandang sebagai kekurangan.

Sebaliknya, ia dipandang sebagai keunggulan pribadi.

Ini berkaitan dengan konsep psikologis tentang social comparison, yaitu kecenderungan manusia mengevaluasi dirinya dengan membandingkannya dengan orang lain.

Jika seseorang melihat tidur sebagai sesuatu yang membatasi kemampuan manusia, maka orang yang tidur lebih sedikit dapat dianggap lebih unggul.

Contohnya:

“Saya tetap bisa bekerja walaupun cuma tidur empat jam.”
“Saya tidak gampang capek.”
“Saya bisa menghadapi tekanan.”
“Saya tidak seperti orang yang sedikit-sedikit butuh istirahat.”

Pesan yang muncul bukan lagi mengenai tidur.

Pesannya adalah:

“Saya lebih kuat daripada yang Anda kira.”

Mengapa perlu terus diceritakan?

Karena identitas sosial membutuhkan penguatan.

Jika seseorang mendapatkan respons positif setiap kali mengatakan bahwa dirinya hanya tidur sedikit—misalnya dianggap hebat, pekerja keras, atau sangat produktif—perilaku tersebut dapat diperkuat.

Pada akhirnya, ia mungkin belajar bahwa cerita tentang kurang tidur menghasilkan validasi.

Ini menciptakan siklus:

kurang tidur → diceritakan kepada orang lain → mendapat pengakuan → merasa identitasnya sebagai orang tangguh semakin kuat → semakin sering menceritakannya.

Dengan demikian, kebiasaan membanggakan sedikit tidur bisa berfungsi sebagai cara mempertahankan citra diri.

3. Mereka Mencari Validasi dan Pengakuan dari Lingkungan Sosial

Tidak semua orang yang membanggakan sedikit tidur benar-benar merasa percaya diri.

Kadang-kadang justru sebaliknya.

Di balik pernyataan seperti “Saya cuma tidur tiga jam” dapat terdapat kebutuhan untuk mendapatkan validasi.

Manusia memiliki kebutuhan psikologis untuk merasa bahwa usaha mereka dilihat dan dihargai.

Bayangkan seseorang bekerja sepanjang hari, menyelesaikan berbagai tugas, tidur sangat sedikit, kemudian menceritakannya kepada teman.

Ketika temannya berkata:

“Gila, kamu kuat banget.”

atau:

“Hebat, kamu bisa produktif begitu.”

orang tersebut mendapatkan penghargaan sosial.

Penghargaan itu dapat membuat perilaku tersebut terasa bermakna.

Ketika kesibukan menjadi sumber harga diri

Masalahnya dapat muncul ketika seseorang mulai mengukur nilai dirinya berdasarkan seberapa sibuk dirinya.

Jika seseorang merasa:

“Saya berharga karena saya produktif,”

maka tidur dan istirahat dapat terasa seperti ancaman terhadap identitas tersebut.

Beristirahat berarti tidak bekerja.

Tidak bekerja berarti tidak produktif.

Tidak produktif kemudian secara keliru dianggap berarti tidak berharga.

Dalam pola seperti ini, tidur sedikit justru dapat memberikan perasaan bahwa seseorang sedang “bernilai”.

Ia mungkin tidak secara sadar berpikir demikian. Tetapi secara psikologis, pola tersebut bisa terbentuk dari kebiasaan dan penguatan sosial.

Media sosial dapat memperkuat fenomena ini

Di era media sosial, kehidupan sering ditampilkan sebagai rangkaian pencapaian:

bekerja sampai tengah malam,
bangun pukul lima pagi,
olahraga sebelum bekerja,
menjalankan bisnis,
membaca buku,
belajar,
mengurus keluarga,
lalu tetap terlihat produktif.

Dalam lingkungan seperti itu, “saya hanya tidur empat jam” mudah berubah menjadi bagian dari narasi keberhasilan.

Orang bukan hanya membagikan apa yang mereka capai, tetapi juga berapa banyak pengorbanan yang mereka lakukan untuk mencapainya.

Dan tidur adalah salah satu pengorbanan yang mudah diceritakan.

4. Mereka Telah Menjadikan Kurang Tidur sebagai Bagian dari Identitas Diri

Ada perbedaan antara seseorang yang sesekali mengatakan “semalam saya kurang tidur” dan seseorang yang secara konsisten mengatakan:

“Memang saya orangnya tidak perlu tidur banyak.”

Pernyataan kedua menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.

Ia mengubah perilaku menjadi identitas.

Dalam psikologi, identitas seseorang terdiri dari berbagai cerita yang ia gunakan untuk menjelaskan siapa dirinya.

“Saya orang yang disiplin.”

“Saya pekerja keras.”

“Saya sangat mandiri.”

“Saya tidak mudah menyerah.”

“Saya tidak membutuhkan banyak tidur.”

Ketika sebuah kebiasaan sudah masuk ke dalam identitas, orang tersebut cenderung mempertahankannya karena mempertahankan kebiasaan tersebut terasa seperti mempertahankan gambaran dirinya sendiri.

Identitas “orang yang tidak membutuhkan tidur”

Bayangkan seseorang selama bertahun-tahun mengatakan bahwa dirinya hanya membutuhkan empat atau lima jam tidur.

Lama-kelamaan, kalimat tersebut mungkin tidak lagi sekadar menggambarkan pola tidur.

Ia menjadi cerita tentang dirinya.

Karena itu, ketika orang lain menyarankan agar ia lebih banyak tidur, ia mungkin merasa saran tersebut sebagai kritik terhadap dirinya.

“Kenapa saya harus tidur lebih banyak? Saya memang seperti ini.”

Padahal, kebutuhan tidur tidak selalu merupakan persoalan karakter.

Ada faktor biologis, usia, kondisi lingkungan, kebiasaan, kualitas tidur, dan berbagai faktor lain yang memengaruhinya.

Sebagian kecil manusia memang memiliki variasi biologis yang memungkinkan mereka berfungsi baik dengan waktu tidur yang relatif sedikit. Namun, fenomena tersebut tidak boleh disamakan dengan orang yang sebenarnya mengalami kurang tidur tetapi merasa sudah terbiasa.

Ini adalah perbedaan yang penting.

Merasa mampu berfungsi dengan sedikit tidur tidak selalu berarti tubuh benar-benar tidak membutuhkan tidur lebih banyak.

Tubuh bisa beradaptasi terhadap rasa lelah

Salah satu hal yang membuat fenomena ini menarik adalah bahwa manusia dapat terbiasa dengan kondisi tertentu.

Seseorang yang terus-menerus tidur kurang mungkin mengatakan:

“Saya sudah biasa.”

Dan memang, ia mungkin tidak lagi merasakan kantuk sekuat sebelumnya.

Namun, persepsi subjektif tentang rasa kantuk tidak selalu identik dengan performa objektif.

Dengan kata lain, seseorang bisa merasa “baik-baik saja” sementara beberapa aspek perhatian atau fungsi kognitifnya tetap terpengaruh.

Karena itu, kalimat “Saya sudah terbiasa tidur empat jam” sebaiknya tidak otomatis diterjemahkan sebagai “Saya memang hanya membutuhkan empat jam.”

5. Membanggakan Kurang Tidur Bisa Menjadi Cara Menutupi Kerentanan

Alasan kelima jauh lebih kompleks.

Dalam beberapa kasus, membanggakan kurang tidur dapat menjadi bentuk pembingkaian ulang terhadap sesuatu yang sebenarnya sulit.

Misalnya, seseorang sebenarnya kelelahan.

Ia kewalahan dengan pekerjaan.

Ia tidak memiliki kendali terhadap jadwalnya.

Atau kehidupannya sedang sangat penuh.

Tetapi daripada mengatakan:

“Saya kelelahan dan tidak punya cukup waktu untuk beristirahat,”

ia mengatakan:

“Saya memang cuma butuh tidur sedikit.”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara psikologis sangat besar.

Pernyataan pertama menunjukkan kerentanan.

Pernyataan kedua menunjukkan kekuatan.

Mengubah masalah menjadi keunggulan

Ini dapat menjadi strategi psikologis yang membantu seseorang mempertahankan rasa kontrol.

Daripada merasa:

“Saya kekurangan waktu dan tidak mampu mengatur semuanya,”

seseorang dapat membangun narasi:

“Saya memang berbeda. Saya bisa bekerja dengan tidur sedikit.”

Narasi kedua terasa jauh lebih kuat.

Ini bukan berarti orang tersebut secara sadar sedang berbohong. Bisa saja ia benar-benar percaya pada narasi tersebut.

Manusia memang sering menggunakan berbagai cara untuk menjaga konsistensi antara keadaan hidupnya dan gambaran dirinya.

Jika kehidupan seseorang menuntutnya tidur sedikit, lebih mudah secara psikologis untuk melihat kondisi tersebut sebagai bukti ketangguhan daripada sebagai sesuatu yang membuat dirinya rentan.

Mengapa Orang Lain Bisa Merasa Terganggu oleh Kebiasaan Ini?

Menariknya, persoalan bukan hanya berada pada orang yang membanggakan sedikit tidur.

Pendengarnya juga dapat memiliki reaksi emosional.

Misalnya, seseorang berkata:

“Saya cuma tidur empat jam, tapi tetap produktif.”

Bagi pendengar, kalimat tersebut mungkin terdengar seperti:

“Kalau saya bisa bekerja dengan empat jam tidur, kenapa kamu tidak?”

Dengan demikian, pembicaraan tentang tidur dapat berubah menjadi kompetisi tidak langsung.

Siapa yang lebih sibuk?

Siapa yang lebih kuat?

Siapa yang lebih produktif?

Siapa yang membutuhkan lebih sedikit istirahat?

Pada titik tersebut, tidur bukan lagi sekadar kebutuhan biologis.

Ia menjadi alat perbandingan sosial.

Ada Perbedaan antara “Kurang Tidur” dan “Memilih Tidur Sedikit”

Hal yang penting untuk dipahami adalah bahwa tidak semua orang yang tidur sedikit memiliki motivasi psikologis yang sama.

Ada orang yang:

memiliki pekerjaan dengan jam tidak teratur,
merawat anak,
bekerja malam,
mengalami gangguan tidur,
memiliki tanggung jawab keluarga,
sedang menghadapi tekanan hidup,
atau memang memiliki variasi kebutuhan tidur.

Jadi, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa setiap orang yang tidur sedikit sedang mencari perhatian atau merasa superior.

Begitu pula, seseorang yang menceritakan bahwa dirinya tidur sedikit belum tentu sedang “membanggakan”.

Konteks sangat penting.

Yang menjadi menarik secara psikologis adalah pola yang terus-menerus: ketika seseorang berkali-kali menggunakan sedikitnya waktu tidur sebagai bukti bahwa dirinya lebih produktif, lebih kuat, lebih disiplin, atau lebih unggul.

Di situlah tidur dapat menjadi bagian dari konstruksi identitas.

Mengapa “Saya Cuma Tidur 4 Jam” Bisa Menjadi Semacam Status Sosial?

Dalam lingkungan tertentu, kelangkaan waktu dianggap sebagai tanda pentingnya seseorang.

Orang yang sangat sibuk dianggap memiliki banyak tanggung jawab.

Orang yang tidak sempat tidur dianggap memiliki banyak pekerjaan.

Orang yang terus-menerus bekerja dianggap sangat dibutuhkan.

Akibatnya, kesibukan dapat menjadi semacam simbol status.

Ini menghasilkan fenomena menarik:

Semakin sedikit waktu yang seseorang miliki untuk dirinya sendiri, semakin penting ia mungkin merasa dirinya.

Dalam konteks tersebut, tidur menjadi kebalikan dari status.

Tidur berarti berhenti.

Berhenti berarti tidak bekerja.

Tidak bekerja kemudian dianggap sebagai kehilangan kesempatan.

Karena itu, sebagian orang bahkan merasa bersalah ketika beristirahat.

Mereka bukan hanya kehilangan waktu tidur.

Mereka kehilangan kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya produktif.

Namun, Produktivitas Tidak Sama dengan Jam Terjaga

Di sinilah perspektif psikologi perlu dipadukan dengan pemahaman biologis.

Manusia bukan mesin yang otomatis menjadi lebih produktif hanya karena menambah jam kerja.

Ada titik ketika waktu tambahan tidak lagi menghasilkan kualitas kerja yang lebih baik.

Bayangkan seseorang memiliki dua pilihan:

Pilihan A: bekerja 16 jam dengan kondisi sangat lelah.

Pilihan B: bekerja 10 jam dengan tidur dan pemulihan yang cukup.

Secara kasatmata, pilihan A terlihat lebih “rajin”.

Tetapi produktivitas sebenarnya bukan sekadar jumlah jam yang dihabiskan.

Yang lebih penting adalah kualitas fungsi selama jam tersebut.

Karena itu, seseorang yang bekerja paling lama belum tentu menghasilkan pekerjaan terbaik.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Sedang Dibanggakan?

Ketika seseorang berkata:

“Saya cuma tidur empat jam,”

pertanyaan menariknya bukan hanya:

“Mengapa dia tidur sedikit?”

Tetapi:

“Apa arti tidur sedikit bagi dirinya?”

Bagi satu orang, itu mungkin berarti:

“Saya sedang mengejar tujuan.”

Bagi orang lain:

“Saya kuat menghadapi tekanan.”

Bagi yang lain:

“Saya sangat sibuk dan penting.”

Atau:

“Saya berbeda dari kebanyakan orang.”

Dan dalam kasus tertentu:

“Saya tidak ingin terlihat lemah atau kewalahan.”

Itulah sebabnya perilaku yang sama dapat memiliki makna psikologis yang berbeda pada setiap orang.

Kesimpulan: Kurang Tidur Kadang Menjadi Cerita tentang Diri, Bukan Sekadar tentang Tidur

Sebagian orang terus-menerus membanggakan sedikitnya waktu tidur mereka bukan semata-mata karena mereka menyukai kurang tidur.

Tidur dapat menjadi simbol dari sesuatu yang lebih besar.

Pertama, mereka mungkin menghubungkan sedikit tidur dengan produktivitas dan kesuksesan.

Kedua, mereka mungkin ingin terlihat lebih tangguh dibandingkan orang lain.

Ketiga, mereka mungkin memperoleh validasi sosial ketika orang lain mengagumi betapa sibuk atau kuatnya mereka.

Keempat, kurang tidur dapat menjadi bagian dari identitas diri yang sudah terbentuk.

Kelima, dalam beberapa situasi, membingkai kurang tidur sebagai “keunggulan” dapat membantu seseorang menghadapi atau menyembunyikan rasa lelah dan kerentanan.

Namun, penting untuk tidak menghakimi seseorang hanya berdasarkan kebiasaan tidurnya. Tidak semua orang yang tidur sedikit sedang mencari perhatian, dan tidak semua orang yang membicarakannya sedang membanggakan diri.

Yang lebih menarik adalah memahami makna yang diberikan seseorang terhadap perilakunya.

Sebab terkadang, ketika seseorang berkata,

“Saya cuma tidur empat jam.”

yang sebenarnya ingin ia sampaikan bukanlah tentang tidur.

Mungkin ia sedang berkata:

“Lihat betapa kerasnya saya bekerja.”

“Lihat betapa kuatnya saya.”

“Lihat berapa banyak yang mampu saya tanggung.”

Dan mungkin, dalam beberapa kasus, ia juga sedang meyakinkan dirinya sendiri tentang hal yang sama.***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore