Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 September 2026 | 12.30 WIB

7 Alasan Mengapa “Bebal” Menjadi Sebutan Buruk untuk Orang yang Sulit Dihadapi Menurut Psikologi

seseorang yang hidupnya bebal. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata-kata tertentu untuk menggambarkan orang yang dianggap sulit diajak berkomunikasi. Salah satunya adalah “bebal”. Kata ini biasanya diarahkan kepada seseorang yang dianggap keras kepala, sulit menerima nasihat, tidak mau mengakui kesalahan, atau terus mengulangi perilaku yang sama meskipun sudah diberi tahu.


Namun, dari sudut pandang psikologi, seseorang yang tampak “bebal” belum tentu benar-benar tidak mampu memahami sesuatu. Perilaku yang terlihat keras kepala atau sulit dihadapi dapat muncul dari berbagai proses psikologis: cara seseorang mempertahankan harga diri, pengalaman masa lalu, kebutuhan untuk mempertahankan kendali, bias dalam berpikir, hingga cara menghadapi kritik.

Dengan kata lain, “bebal” lebih merupakan label sosial daripada istilah psikologis atau diagnosis.

Lalu, mengapa sebutan tersebut memiliki konotasi yang begitu buruk?

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (10/9), terdapat tujuh alasannya.

1. “Bebal” mengubah perilaku menjadi seolah-olah sifat permanen

Salah satu alasan utama kata “bebal” terdengar buruk adalah karena kata tersebut cenderung mengubah sebuah perilaku menjadi identitas seseorang.

Misalnya, ada seseorang yang tidak mau menerima pendapat dalam sebuah diskusi. Kita dapat mengatakan:

“Dia sulit menerima kritik dalam pembicaraan ini.”

Namun, ketika kita mengatakan:

“Dia memang bebal.”

fokus pembicaraan berubah. Yang sebelumnya merupakan perilaku tertentu kini seolah-olah menjadi karakter permanen.

Dalam psikologi sosial, manusia memang memiliki kecenderungan untuk menjelaskan perilaku orang lain berdasarkan karakter atau sifat mereka. Kita mudah menyimpulkan bahwa seseorang bertindak demikian karena “memang orangnya begitu”, sementara kita lebih sering mempertimbangkan situasi ketika menjelaskan perilaku diri sendiri.

Inilah yang membuat label seperti “bebal” berbahaya dalam hubungan sosial.

Seseorang mungkin tidak menerima nasihat karena sedang defensif, malu, takut kehilangan kendali, memiliki pengalaman buruk dengan orang yang memberi nasihat, atau merasa pendapatnya sedang diserang. Tetapi label “bebal” menghilangkan kompleksitas tersebut.

Akibatnya, kita berhenti bertanya:

“Mengapa dia bertindak seperti itu?”

dan mulai berpikir:

“Memang dia orang seperti itu.”

Perubahan kecil dalam cara memandang seseorang ini dapat membuat konflik semakin sulit diselesaikan.

Ketika seseorang sudah diberi label negatif, perilaku berikutnya cenderung ditafsirkan melalui label tersebut. Jika dia diam, dianggap keras kepala. Jika dia menjelaskan diri, dianggap mencari alasan. Jika dia mempertahankan pendapat, dianggap tidak mau mengerti.

Dengan demikian, label dapat menciptakan lingkaran persepsi negatif.

2. Orang yang sulit menerima kritik sering kali sedang mempertahankan harga dirinya

Tidak semua penolakan terhadap nasihat berarti seseorang tidak memahami nasihat tersebut.

Kadang-kadang, seseorang sebenarnya mengerti, tetapi secara emosional belum siap menerimanya.

Hal ini dapat terjadi ketika kritik menyentuh bagian penting dari identitas dirinya.

Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun melihat dirinya sebagai orang yang pintar, mandiri, berpengalaman, atau selalu mampu menyelesaikan masalah. Ketika orang lain mengatakan bahwa keputusan yang dibuatnya salah, informasi tersebut bukan sekadar informasi.

Kritik tersebut bisa terasa seperti ancaman terhadap gambaran dirinya.

Muncullah respons defensif:

mencari alasan,
menyalahkan keadaan,
membantah,
mengubah topik,
menyerang balik,
atau menolak kritik sepenuhnya.

Dari luar, perilaku ini mungkin terlihat “bebal”.

Padahal, di baliknya bisa terdapat mekanisme pertahanan psikologis.

Manusia secara umum memiliki kebutuhan untuk mempertahankan pandangan positif mengenai dirinya sendiri. Ketika informasi baru bertentangan dengan pandangan tersebut, muncul ketidaknyamanan psikologis.

Karena itu, seseorang terkadang lebih mudah mengatakan:

“Kamu yang salah.”

daripada mengakui:

“Mungkin aku memang salah.”

Ini bukan berarti semua orang yang defensif harus dimaklumi. Perilaku tetap dapat dikritik jika merugikan orang lain. Namun, memahami mekanismenya membantu kita membedakan antara ketidakmampuan memahami dan ketidakmauan menerima sesuatu yang terasa mengancam harga diri.

3. “Bebal” sering dikaitkan dengan keras kepala karena manusia memiliki kecenderungan mempertahankan keyakinannya

Manusia tidak selalu memproses informasi secara netral.

Ketika seseorang sudah memiliki keyakinan tertentu, dia cenderung memperhatikan informasi yang mendukung keyakinannya dan lebih mudah mengabaikan informasi yang bertentangan.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari, mengingat, atau menafsirkan informasi dengan cara yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki.

Contohnya sederhana.

Seseorang yakin bahwa:

“Orang lain selalu meremehkan saya.”

Ketika seseorang memberikan kritik, kritik tersebut mungkin dipahami sebagai penghinaan.

Ketika seseorang memberikan pujian, pujian tersebut mungkin dianggap basa-basi.

Akhirnya, pengalaman yang sebenarnya beragam justru digunakan untuk memperkuat keyakinan awal.

Dalam situasi seperti ini, orang tersebut bisa terlihat sangat sulit diajak berdiskusi.

Bukan karena otaknya tidak mampu memahami argumen, melainkan karena informasi yang masuk diproses melalui kerangka berpikir yang sudah terbentuk sebelumnya.

Itulah sebabnya seseorang bisa mengetahui fakta tertentu tetapi tetap mempertahankan kesimpulan lama.

Informasi saja tidak selalu cukup untuk mengubah keyakinan.

Manusia juga mempertimbangkan pengalaman, emosi, identitas, hubungan sosial, serta konsekuensi yang mungkin muncul apabila ia mengubah pendapat.

4. Orang yang merasa kehilangan kendali dapat menjadi lebih keras dalam mempertahankan pendapat

Ada alasan lain mengapa seseorang terlihat sulit dihadapi: kebutuhan akan kendali.

Sebagian orang merasa nyaman ketika mereka dapat menentukan keputusan sendiri. Ketika orang lain terlalu memaksa, memberikan perintah, atau terus mengatakan apa yang harus dilakukan, mereka dapat merasakan bahwa kebebasannya sedang dibatasi.

Dalam psikologi terdapat konsep psychological reactance, yaitu kecenderungan untuk menolak ketika seseorang merasa kebebasan memilihnya sedang terancam.

Contohnya:

Jika seseorang berkata:

“Kamu sebaiknya mempertimbangkan pilihan ini.”

responsnya mungkin:

“Aku akan menentukan sendiri.”

Namun, jika kalimatnya berubah menjadi:

“Kamu harus melakukan ini. Jangan membantah.”

reaksinya bisa menjadi jauh lebih keras.

Bahkan, seseorang mungkin sengaja melakukan kebalikan dari apa yang diperintahkan.

Dari luar, perilaku tersebut bisa terlihat sebagai kebebalan.

Padahal, sebagian reaksinya mungkin berasal dari kebutuhan untuk mempertahankan otonomi.

Ini tidak berarti semua tindakan keras kepala harus dibenarkan. Ada perbedaan antara mempertahankan hak untuk mengambil keputusan sendiri dan menolak semua masukan meskipun keputusan tersebut jelas merugikan diri sendiri atau orang lain.

Namun, memahami kebutuhan akan otonomi dapat menjelaskan mengapa pendekatan yang terlalu memaksa justru sering menghasilkan perlawanan yang lebih besar.

5. Label “bebal” memperburuk komunikasi karena membuat orang merasa diserang

Kata “bebal” bukan sekadar deskripsi. Dalam banyak konteks, kata tersebut merupakan penilaian negatif terhadap kemampuan atau karakter seseorang.

Ketika seseorang mendengar:

“Kamu bebal.”

yang diterimanya bukan hanya informasi tentang perilakunya.

Ia bisa menangkap pesan:

“Kamu bodoh.”

atau:

“Kamu tidak layak dihargai.”

Akibatnya, percakapan berpindah dari persoalan yang sedang dibahas menuju pertahanan diri.

Alih-alih membahas:

“Apa yang membuat keputusan ini bermasalah?”

kedua pihak akhirnya memperdebatkan:

“Siapa yang lebih bodoh?”

Inilah salah satu alasan label negatif sering tidak efektif dalam menyelesaikan konflik.

Kritik terhadap perilaku biasanya lebih mudah diterima dibandingkan serangan terhadap identitas.

Bandingkan:

“Kamu bebal. Sudah dibilang berkali-kali masih saja begitu.”

dengan:

“Keputusan ini sudah beberapa kali menimbulkan masalah. Menurutmu, apa yang bisa kita ubah?”

Kalimat kedua tidak berarti lebih lembut semata. Ia juga mengarahkan perhatian kembali pada masalah yang dapat diselesaikan.

Dalam komunikasi interpersonal, perbedaan tersebut sangat penting.

Jika tujuan kita adalah mengubah perilaku, mempermalukan seseorang sering kali justru menjadi kontraproduktif.

6. Seseorang yang terus mengulangi kesalahan belum tentu tidak belajar

Salah satu alasan seseorang disebut “bebal” adalah karena dia dianggap mengulangi kesalahan yang sama.

Namun, perilaku berulang memiliki banyak kemungkinan penyebab.

Seseorang mungkin:

tidak memahami konsekuensi jangka panjang,
terbiasa dengan pola perilaku tertentu,
kesulitan mengendalikan impuls,
berada dalam lingkungan yang terus memperkuat kebiasaan tersebut,
memiliki tujuan yang berbeda dengan orang yang menilainya,
atau mengetahui risikonya tetapi tetap menganggap manfaat perilaku tersebut lebih besar.

Contohnya, seseorang terus menunda pekerjaan.

Orang lain mungkin berkata:

“Sudah tahu akibatnya, masih saja begitu. Bebal.”

Padahal, mengetahui bahwa menunda pekerjaan itu buruk tidak otomatis membuat seseorang mampu mengubah kebiasaannya.

Pengetahuan dan perubahan perilaku adalah dua hal berbeda.

Manusia dapat mengetahui sesuatu secara intelektual tetapi tetap kesulitan menerapkannya secara konsisten.

Itulah sebabnya dalam psikologi perilaku, perubahan tidak hanya bergantung pada nasihat. Lingkungan, kebiasaan, penghargaan, konsekuensi, emosi, dan kemampuan regulasi diri juga memiliki peran.

Jadi, mengulangi kesalahan bukan bukti sederhana bahwa seseorang “tidak mengerti”.

Terkadang masalahnya bukan pada pemahaman, melainkan pada kemampuan menerjemahkan pemahaman menjadi perilaku baru.

7. Sebutan “bebal” terasa buruk karena mengandung unsur merendahkan martabat

Pada akhirnya, alasan paling sederhana mengapa “bebal” menjadi sebutan buruk adalah karena kata tersebut memiliki muatan sosial yang merendahkan.

Bahasa tidak hanya menyampaikan informasi. Bahasa juga menyampaikan sikap.

Ketika seseorang disebut “bebal”, ada pesan implisit bahwa orang tersebut:

sulit diajak berpikir,
tidak mampu memahami,
keras kepala,
tidak mau belajar,
atau tidak layak didengarkan.

Karena itu, kata tersebut dapat menjadi bentuk stigmatisasi dalam interaksi sehari-hari, meskipun penggunaannya tidak selalu dimaksudkan untuk menyakiti.

Masalahnya, label seperti ini dapat memengaruhi cara kita memperlakukan orang tersebut.

Jika kita sudah yakin bahwa seseorang “bebal”, kita mungkin berhenti menjelaskan dengan sabar.

Kita mungkin tidak lagi mendengarkan alasan mereka.

Kita mungkin langsung mengantisipasi bantahan.

Dan pada akhirnya, hubungan menjadi semakin tegang.

Ironisnya, perlakuan seperti itu dapat membuat orang yang dilabeli menjadi semakin defensif. Sikap defensif tersebut kemudian dianggap sebagai bukti bahwa label awal memang benar.

Terbentuklah sebuah lingkaran:

label negatif → ekspektasi negatif → komunikasi buruk → respons defensif → label semakin kuat.

Karena itulah, dalam menghadapi orang yang sulit, penting untuk memisahkan antara menilai perilaku dan merendahkan pribadi.

Jadi, Apakah Orang “Bebal” Benar-Benar Tidak Bisa Berubah?

Tidak ada dasar psikologis sederhana untuk menyimpulkan bahwa seseorang yang keras kepala atau sulit menerima nasihat pasti tidak dapat berubah.

Manusia memiliki kemampuan untuk belajar, mengevaluasi pengalaman, dan mengubah perilaku.

Yang berbeda adalah seberapa siap seseorang untuk berubah dan apa yang menghambat perubahan tersebut.

Ada orang yang berubah setelah mendapatkan konsekuensi nyata.

Ada yang membutuhkan waktu.

Ada yang baru terbuka ketika merasa aman untuk mengakui kesalahan.

Ada pula yang baru mempertimbangkan pendapat orang lain setelah menemukan sendiri bukti yang bertentangan dengan keyakinannya.

Karena itu, ketika berhadapan dengan seseorang yang sulit, pertanyaan yang lebih produktif bukan:

“Mengapa dia begitu bebal?”

melainkan:

“Apa yang membuat dia sulit menerima informasi ini?”

Pertanyaan kedua membuka kemungkinan untuk memahami masalah.

Bagaimana Sebaiknya Menghadapi Orang yang Sulit Diajak Berkomunikasi?

Jika seseorang benar-benar sulit dihadapi, ada beberapa pendekatan yang lebih konstruktif daripada memberikan label.

1. Fokus pada perilakunya

Hindari:

“Kamu memang keras kepala.”

Lebih baik:

“Ketika saya memberikan masukan, kamu langsung menolaknya sebelum kita membahas alasannya.”

Perilaku lebih mudah dibicarakan daripada karakter.

2. Gunakan pertanyaan

Daripada terus memberikan nasihat, cobalah bertanya:

“Apa yang membuat kamu yakin pilihan ini yang paling tepat?”

Pertanyaan dapat membuat seseorang mengevaluasi pikirannya sendiri tanpa merasa sedang dihakimi.

3. Berikan ruang untuk mempertahankan harga diri

Tidak semua orang dapat menerima kritik ketika mereka merasa dipermalukan.

Jika pembicaraan dilakukan secara pribadi, tenang, dan penuh rasa hormat, kemungkinan seseorang mendengarkan dapat menjadi lebih besar.

4. Jangan memaksakan perubahan

Kita dapat memberikan informasi, konsekuensi, atau batasan. Namun, kita tidak selalu dapat memaksa orang lain mengubah cara berpikirnya.

Memahami batas kendali diri merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.

5. Bedakan antara memahami dan membenarkan

Memahami alasan seseorang bertindak bukan berarti membenarkan perilakunya.

Kita dapat mengatakan:

“Saya mengerti mengapa kamu merasa seperti itu.”

sekaligus:

“Tetapi saya tetap tidak bisa menerima cara kamu memperlakukan saya.”

Dua hal tersebut dapat berjalan bersamaan.

Penutup

Dalam bahasa sehari-hari, “bebal” memang mudah digunakan untuk menggambarkan seseorang yang keras kepala, sulit menerima nasihat, atau terus melakukan kesalahan.

Namun, psikologi mengingatkan bahwa perilaku manusia jauh lebih kompleks daripada sebuah label.

Seseorang yang terlihat “bebal” mungkin sedang mempertahankan harga dirinya, mempertahankan keyakinan yang sudah lama terbentuk, merasa kebebasannya terancam, mengalami bias dalam memproses informasi, atau sekadar kesulitan mengubah kebiasaan.

Karena itu, menyebut seseorang “bebal” mungkin terasa sebagai penjelasan, padahal sebenarnya hanya memberikan label terhadap sesuatu yang belum kita pahami sepenuhnya.

Dalam menghadapi orang yang sulit, kemampuan untuk berkata:

“Saya tidak setuju dengan perilakunya, tetapi saya ingin memahami mengapa dia bertindak demikian.”

sering kali jauh lebih berguna daripada:

“Dia memang bebal.”

Sebab, ketika kita berhenti menghakimi karakter dan mulai mengamati perilaku, kita memiliki peluang lebih besar untuk menemukan akar masalah—dan mungkin menemukan cara yang lebih efektif untuk menghadapinya.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore