Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 September 2026 | 04.29 WIB

6 Alasan Mengapa Sebagian Orang Sulit Mengakui Kesalahan yang Mereka Buat Menurut Psikologi

seseorang yang tidak layak dipertahankan dalam hidup / foto: Magnific/tirachardz

 

JawaPos.com - Mengakui kesalahan terdengar seperti sesuatu yang sederhana. Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya keliru, secara logika seharusnya ia cukup mengatakan, “Saya salah,” lalu memperbaikinya.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kenyataannya tidak selalu demikian.

Ada orang yang bahkan ketika bukti sudah jelas, tetap berusaha mencari alasan. Ada yang langsung menyalahkan keadaan. Ada pula yang mengubah pembicaraan, membela diri, atau justru menyerang orang yang menunjukkan kesalahannya.

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?

Menurut psikologi, kesulitan mengakui kesalahan tidak selalu semata-mata disebabkan oleh kesombongan atau niat buruk. Dalam banyak situasi, ada proses psikologis yang membuat seseorang merasa bahwa mengakui kesalahan merupakan ancaman terhadap dirinya sendiri.

Kesalahan dapat membuat seseorang merasa malu, kehilangan harga diri, takut dianggap tidak mampu, atau merasa posisi sosialnya menjadi lebih rendah. Karena itu, otak dan emosi seseorang terkadang mendorongnya untuk mempertahankan pandangan tentang dirinya sendiri, bahkan ketika kenyataan menunjukkan bahwa ia telah melakukan kekeliruan.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (18/9), terdapat enam alasan mengapa sebagian orang sulit mengakui kesalahan mereka.

1. Mengakui Kesalahan Bisa Terasa Seperti Ancaman terhadap Harga Diri

Salah satu alasan paling umum adalah karena seseorang menghubungkan kesalahan dengan nilai dirinya sebagai manusia.

Misalnya, seseorang melakukan kesalahan dalam pekerjaan. Alih-alih melihatnya sebagai tindakan yang keliru, ia mungkin berpikir:

“Kalau saya mengakui kesalahan ini, berarti saya tidak kompeten.”

Atau:

“Kalau saya salah, orang lain akan menganggap saya bodoh.”

Masalahnya adalah adanya perbedaan antara “Saya melakukan kesalahan” dan “Saya adalah orang yang gagal.”

Secara psikologis, kedua hal tersebut sangat berbeda. Kesalahan merupakan perilaku atau keputusan tertentu, sedangkan harga diri berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai dirinya secara keseluruhan.

Orang yang memiliki cara berpikir sangat defensif dapat mencampurkan keduanya. Akibatnya, mengakui satu kesalahan terasa seperti mengakui bahwa dirinya adalah pribadi yang buruk, lemah, tidak kompeten, atau tidak layak dihargai.

Karena terasa mengancam, muncul dorongan untuk mempertahankan diri.

Ia kemudian mencari pembenaran.

“Situasinya memang seperti itu.”

“Orang lain juga melakukan hal yang sama.”

“Saya sebenarnya tidak salah, hanya disalahpahami.”

“Kalau dia tidak melakukan itu, saya tidak akan melakukan kesalahan.”

Dengan cara tersebut, seseorang berusaha menjaga gambaran positif tentang dirinya.

Ironisnya, semakin seseorang merasa bahwa harga dirinya bergantung pada selalu terlihat benar, semakin sulit baginya menerima kenyataan bahwa dirinya juga bisa keliru.

Padahal, kemampuan mengakui kesalahan justru dapat menjadi bagian dari harga diri yang sehat.

Seseorang yang mampu mengatakan, “Saya salah dalam hal ini, tetapi saya masih bisa memperbaikinya,” tidak perlu menghancurkan seluruh pandangan positif tentang dirinya hanya karena melakukan satu kesalahan.

2. Mereka Mengalami Cognitive Dissonance

Dalam psikologi terdapat konsep yang dikenal sebagai cognitive dissonance, yaitu ketidaknyamanan psikologis yang muncul ketika seseorang memiliki keyakinan, pikiran, atau perilaku yang saling bertentangan.

Bayangkan seseorang selama bertahun-tahun melihat dirinya sebagai orang yang selalu rasional, teliti, dan mampu mengambil keputusan dengan baik.

Kemudian suatu hari ia membuat keputusan yang ternyata salah.

Fakta tersebut bertentangan dengan gambaran dirinya.

Di satu sisi:

“Saya orang yang rasional.”

Di sisi lain:

“Saya baru saja membuat keputusan yang tidak rasional.”

Kontradiksi tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan.

Salah satu cara manusia mengurangi ketidaknyamanan itu adalah dengan mengubah cara mereka menafsirkan situasi.

Daripada berkata:

“Saya salah mengambil keputusan.”

Seseorang mungkin berkata:

“Keputusan saya sebenarnya benar, hanya hasilnya yang tidak sesuai harapan.”

Atau:

“Tidak ada orang yang bisa memprediksi keadaan seperti itu.”

Dalam beberapa kasus, penjelasan tersebut memang bisa masuk akal. Tidak setiap kegagalan berarti seseorang telah melakukan kesalahan.

Namun, ketika mekanisme tersebut digunakan terus-menerus untuk menghindari tanggung jawab, seseorang dapat menjadi sangat sulit menerima kesalahannya sendiri.

Ia bukan sekadar mempertahankan sebuah keputusan.

Ia sedang mempertahankan konsistensi dengan gambaran dirinya.

Inilah sebabnya orang yang sangat yakin bahwa dirinya “selalu benar” terkadang justru membutuhkan lebih banyak pembenaran ketika terbukti keliru.

3. Mereka Takut Kehilangan Wibawa atau Status di Mata Orang Lain

Mengakui kesalahan tidak hanya berkaitan dengan hubungan seseorang terhadap dirinya sendiri. Hal itu juga berkaitan dengan bagaimana ia merasa dipandang oleh orang lain.

Dalam lingkungan tertentu, kesalahan dapat dianggap sebagai tanda kelemahan.

Misalnya, seorang pemimpin merasa bahwa jika ia mengakui kesalahan kepada bawahannya, kewibawaannya akan berkurang.

Seorang orang tua mungkin merasa bahwa meminta maaf kepada anak berarti kehilangan otoritas.

Dalam hubungan pertemanan, seseorang mungkin takut dianggap tidak tahu apa-apa.

Dalam hubungan pasangan, seseorang mungkin merasa bahwa mengalah berarti kehilangan posisi.

Akibatnya, orang tersebut memilih mempertahankan argumennya daripada mengakui kesalahan.

Padahal, wibawa dan kemampuan mengakui kesalahan sebenarnya tidak selalu bertentangan.

Seseorang dapat tetap memiliki otoritas sambil mengatakan:

“Keputusan saya kemarin ternyata kurang tepat.”

“Saya keliru memahami situasinya.”

“Saya minta maaf karena tindakan saya membuat kamu terluka.”

Bahkan dalam banyak hubungan interpersonal, pengakuan kesalahan yang tulus justru dapat meningkatkan kepercayaan karena menunjukkan adanya tanggung jawab.

Sebaliknya, terus-menerus mempertahankan diri ketika kesalahan sudah jelas dapat membuat orang lain merasa bahwa berkomunikasi dengannya tidak ada gunanya.

Masalahnya bukan lagi tentang siapa yang benar.

Masalahnya adalah tidak adanya ruang untuk mengevaluasi diri.

4. Mereka Terbiasa Menghindari Rasa Malu

Tidak semua orang mampu menghadapi rasa malu dengan baik.

Bagi sebagian orang, kesalahan memunculkan emosi yang sangat tidak nyaman: malu, bersalah, takut ditolak, atau merasa tidak berharga.

Perbedaan antara rasa bersalah dan rasa malu juga penting.

Rasa bersalah cenderung berfokus pada perilaku:

“Saya melakukan sesuatu yang salah.”

Sementara rasa malu dapat terasa lebih menyeluruh:

“Ada sesuatu yang salah dengan diri saya.”

Jika seseorang memiliki kecenderungan kuat untuk mengalami rasa malu, pengakuan terhadap kesalahan dapat terasa sangat menyakitkan.

Karena itu, ia mungkin melakukan berbagai cara untuk menghindari emosi tersebut.

Ia menyangkal.

Ia mencari alasan.

Ia menyalahkan orang lain.

Ia mengecilkan masalah.

Atau bahkan menjadi marah.

Menariknya, kemarahan terkadang dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan terhadap emosi yang lebih rentan seperti malu dan takut.

Misalnya, ketika seseorang ditegur karena kesalahannya, ia sebenarnya merasa malu. Tetapi daripada menunjukkan rasa malu tersebut, ia merespons dengan kemarahan:

“Kenapa kamu selalu menyalahkan saya?”

“Kamu sendiri juga pernah melakukan kesalahan!”

“Tidak usah menggurui saya!”

Respons seperti itu tidak otomatis berarti orang tersebut sengaja memanipulasi orang lain. Bisa jadi ia sedang berusaha melindungi dirinya dari perasaan yang sangat tidak nyaman.

Namun, memahami mekanismenya bukan berarti membenarkan perilakunya.

Tetap saja, seseorang perlu belajar bertanggung jawab atas tindakannya.

5. Pola Asuh dan Pengalaman Masa Lalu Bisa Memengaruhi Cara Seseorang Menghadapi Kesalahan

Cara seseorang bereaksi terhadap kesalahan juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman yang pernah ia alami.

Bayangkan seorang anak yang setiap kali melakukan kesalahan langsung dipermalukan, dibandingkan, atau dihukum secara berlebihan.

Anak tersebut mungkin belajar bahwa:

“Kesalahan itu berbahaya.”

“Kalau saya mengaku salah, saya akan dimarahi.”

“Lebih aman mencari alasan.”

“Jangan sampai orang tahu bahwa saya melakukan kesalahan.”

Seiring waktu, pola tersebut dapat terbawa hingga dewasa.

Ketika melakukan kesalahan, refleks pertamanya bukan mengevaluasi tindakan, melainkan melindungi diri.

Tentu, seseorang tidak bisa menjelaskan seluruh perilaku orang dewasa hanya berdasarkan masa kecilnya. Kepribadian, lingkungan, pengalaman sosial, budaya, dan pembelajaran sepanjang hidup juga berperan.

Namun, pengalaman sebelumnya dapat membantu menjelaskan mengapa dua orang yang melakukan kesalahan yang sama bisa memberikan respons yang sangat berbeda.

Orang pertama mungkin berkata:

“Ya, saya salah. Mari kita perbaiki.”

Orang kedua mungkin langsung panik dan berkata:

“Bukan saya yang salah!”

Perbedaannya tidak selalu terletak pada tingkat kesalahannya, tetapi pada bagaimana masing-masing orang belajar menghadapi kesalahan.

Seseorang yang sejak kecil mendapatkan pengalaman bahwa kesalahan dapat dibicarakan dan diperbaiki mungkin lebih mudah mengembangkan sikap terbuka.

Sebaliknya, seseorang yang belajar bahwa kesalahan selalu berujung pada penghinaan dapat mengembangkan kebiasaan defensif.

Kabar baiknya, pola seperti ini bukan berarti tidak bisa berubah.

Orang dewasa tetap dapat belajar bahwa melakukan kesalahan tidak sama dengan kehilangan nilai sebagai manusia.

6. Mereka Memiliki Pola Berpikir yang Membuat Diri Sendiri Selalu Terlihat Benar

Ada orang yang terbiasa melihat dirinya sebagai pihak yang benar dalam hampir setiap konflik.

Ketika terjadi masalah, fokusnya selalu mencari penyebab dari luar dirinya.

“Dia yang memulai.”

“Keadaannya yang memaksa saya.”

“Saya melakukan itu karena dia.”

“Kalau orang lain tidak begitu, saya tidak akan seperti ini.”

Dalam psikologi, manusia memang memiliki berbagai kecenderungan kognitif yang dapat membuat kita memberikan penjelasan yang berbeda terhadap keberhasilan dan kegagalan diri sendiri.

Kita cenderung ingin mempertahankan citra diri yang positif.

Masalah muncul ketika kecenderungan tersebut menjadi pola yang sangat kuat.

Seseorang akhirnya tidak lagi bertanya:

“Bagian mana dari tindakan saya yang perlu diperbaiki?”

Melainkan hanya bertanya:

“Siapa yang harus disalahkan?”

Perbedaan kedua pertanyaan tersebut sangat besar.

Pertanyaan pertama membuka ruang untuk refleksi.

Pertanyaan kedua lebih mudah mengarah pada pembelaan diri.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat merusak hubungan. Orang-orang di sekitar akhirnya merasa bahwa apa pun yang terjadi, orang tersebut tidak pernah bersedia bertanggung jawab.

Mengapa Mengakui Kesalahan Sebenarnya Penting?

Mengakui kesalahan bukan berarti merendahkan diri.

Bukan pula berarti membiarkan orang lain memperlakukan kita semena-mena.

Mengakui kesalahan berarti mampu membedakan antara harga diri dan perilaku yang perlu diperbaiki.

Seseorang dapat tetap menghargai dirinya sambil berkata:

“Saya salah.”

“Saya kurang mempertimbangkan dampaknya.”

“Saya seharusnya tidak mengatakan itu.”

“Saya memahami sekarang bahwa keputusan saya keliru.”

Kemampuan seperti ini merupakan bagian penting dari refleksi diri.

Tanpa kemampuan mengevaluasi kesalahan, seseorang akan sulit belajar dari pengalaman.

Ia mungkin mengulangi pola yang sama berkali-kali karena setiap kegagalan selalu dijelaskan sebagai kesalahan orang lain atau keadaan.

Sebaliknya, orang yang mampu menerima kesalahan memiliki kesempatan untuk bertanya:

Apa yang sebenarnya terjadi?

Bagian mana yang menjadi tanggung jawab saya?

Apa yang bisa saya lakukan secara berbeda?

Bagaimana saya dapat memperbaiki dampaknya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih produktif daripada sekadar mencari siapa yang harus disalahkan.

Mengakui Kesalahan Tidak Sama dengan Menjadi Orang Lemah

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa orang yang meminta maaf atau mengakui kesalahan berarti memiliki posisi yang lebih rendah.

Padahal, pengakuan terhadap kesalahan membutuhkan kemampuan untuk menghadapi kenyataan yang tidak selalu menyenangkan tentang diri sendiri.

Seseorang harus cukup terbuka untuk mengatakan:

“Saya tidak sempurna.”

“Saya bisa salah.”

“Saya tidak selalu memiliki informasi yang lengkap.”

“Pandangan saya bisa berubah ketika mendapatkan fakta baru.”

Sikap seperti itu justru memungkinkan seseorang berkembang.

Tidak ada manusia yang selalu benar.

Orang yang sehat secara psikologis bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan orang yang mampu menghadapi kesalahan tanpa harus menghancurkan dirinya sendiri atau menyalahkan semua orang di sekitarnya.

Bagaimana Menghadapi Orang yang Sulit Mengakui Kesalahan?

Jika Anda berhadapan dengan seseorang yang selalu defensif, tidak selalu efektif untuk memaksanya mengakui kesalahan.

Semakin ia merasa diserang, semakin besar kemungkinan ia mempertahankan diri.

Daripada mengatakan:

“Kamu memang tidak pernah mau mengakui kesalahan!”

lebih baik membicarakan perilaku dan dampaknya.

Misalnya:

“Yang ingin saya bicarakan bukan siapa yang paling salah. Saya ingin kita memahami apa yang terjadi dan bagaimana supaya masalah ini tidak terulang.”

Pendekatan seperti ini dapat mengurangi fokus pada pertarungan ego.

Namun, ada batas yang juga perlu diperhatikan.

Memahami alasan psikologis seseorang bukan berarti Anda harus menerima perilaku yang terus-menerus merugikan.

Jika seseorang berkali-kali menolak bertanggung jawab, menyalahkan orang lain, atau menggunakan kemarahan untuk menghindari pembicaraan, Anda tetap berhak menetapkan batas.

Memahami bukan berarti membenarkan.

Pada Akhirnya, Kesalahan Adalah Bagian dari Menjadi Manusia

Tidak ada orang yang selalu mengambil keputusan yang benar.

Kita semua dapat salah memahami situasi, salah berbicara, salah mengambil keputusan, atau bertindak berdasarkan informasi yang ternyata tidak lengkap.

Yang membedakan seseorang bukan hanya apakah ia pernah melakukan kesalahan, tetapi bagaimana ia merespons setelah menyadarinya.

Apakah ia menyangkal?

Apakah ia mencari kambing hitam?

Apakah ia menyerang orang yang mengkritiknya?

Atau apakah ia mampu berhenti sejenak, melihat kembali tindakannya, kemudian berkata:

“Ya, saya salah. Saya akan memperbaikinya.”

Mengakui kesalahan memang tidak selalu mudah karena menyentuh harga diri, rasa malu, identitas, dan hubungan sosial seseorang.

Namun, ketika seseorang mulai memahami bahwa melakukan kesalahan tidak membuat dirinya menjadi manusia yang gagal, pengakuan terhadap kesalahan dapat menjadi lebih mudah.

Kesalahan tidak harus menjadi ancaman terhadap harga diri.

Kesalahan bisa menjadi informasi.

Ia menunjukkan sesuatu yang perlu dipahami, diperbaiki, dan dijadikan pelajaran.

Pada akhirnya, kedewasaan bukan tentang menjadi orang yang tidak pernah salah.

Kedewasaan adalah kemampuan untuk melihat kesalahan dengan jujur, mengambil tanggung jawab atas bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita, dan tetap menghargai diri sendiri sambil berusaha menjadi lebih baik.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore