Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 September 2026 | 03.06 WIB

7 Ungkapan yang Lebih Menyakiti Anak daripada yang Disadari oleh Para Orang Tua Menurut Psikologi

seseorang yang menyakiti anak tanpa disadari. (magnific)

 

 
JawaPos.com - Menjadi orang tua tidak berarti seseorang harus selalu tenang, sabar, dan tahu persis apa yang harus dikatakan dalam setiap situasi. Ada kalanya anak membuat kesalahan, membantah, sulit diatur, atau melakukan sesuatu yang membuat orang tua kehilangan kesabaran.


Dalam kondisi seperti itu, beberapa kalimat bisa keluar begitu saja.

“Kenapa kamu tidak pernah bisa seperti kakakmu?”

“Dasar anak nakal.”

“Kalau begini terus, Ibu malu punya anak seperti kamu.”

Bagi orang tua, kalimat tersebut mungkin hanya dianggap sebagai teguran. Bahkan terkadang diucapkan dengan maksud mendidik, membuat anak jera, atau agar anak belajar dari kesalahan.

Namun, dari sudut pandang psikologi perkembangan, cara orang tua berbicara kepada anak dapat memengaruhi bagaimana anak melihat dirinya sendiri, memahami hubungan dengan orang lain, dan belajar mengelola emosi.

Anak belum memiliki kemampuan yang sama dengan orang dewasa untuk memisahkan antara “aku melakukan kesalahan” dan “aku adalah orang yang buruk”. Karena itu, kritik terhadap perilaku dapat dengan mudah diterjemahkan menjadi penilaian terhadap dirinya.

Bukan berarti satu kalimat yang salah akan langsung membuat seorang anak mengalami masalah psikologis. Yang lebih penting adalah pola komunikasi yang berulang, terutama ketika anak terus-menerus menerima pesan bahwa dirinya tidak cukup baik, tidak dicintai, atau hanya berharga ketika memenuhi harapan orang tua.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (10/9), terdapat tujuh ungkapan yang mungkin terdengar biasa, tetapi berpotensi lebih menyakiti anak daripada yang disadari orang tua.

1. “Kamu kok tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar?”

Kalimat ini sering muncul ketika anak melakukan kesalahan yang sama berulang kali.

Anak menumpahkan makanan. Lupa membawa buku. Salah mengerjakan tugas. Tidak sengaja memecahkan sesuatu. Atau gagal mengikuti instruksi orang tua.

Orang tua yang sudah lelah mungkin spontan berkata:

“Kenapa sih kamu tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar?”

Masalahnya bukan hanya pada kata-katanya, tetapi pada pesan yang mungkin ditangkap anak.

Anak tidak hanya mendengar, “Tadi kamu melakukan kesalahan.”

Ia bisa menangkap pesan yang lebih luas:

“Aku memang tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar.”

Dalam psikologi, perbedaan antara mengkritik perilaku dan memberi label pada diri seseorang sangat penting.

Anak perlu belajar bahwa kesalahan adalah sesuatu yang bisa diperbaiki, bukan bukti bahwa dirinya tidak mampu.

Jika anak sering mendengar bahwa dirinya selalu salah, ia dapat menjadi lebih takut mencoba. Anak mungkin mulai berpikir bahwa kegagalan adalah sesuatu yang memalukan dan harus dihindari.

Pada sebagian anak, responsnya bukan menjadi lebih berhati-hati, melainkan justru menyerah lebih cepat.

“Percuma mencoba. Aku memang tidak bisa.”

Apa yang sebaiknya dikatakan?

Daripada mengatakan:

“Kamu tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar.”

Orang tua bisa lebih spesifik terhadap perilakunya:

“Tadi kamu lupa membawa bukumu. Sekarang kita pikirkan bagaimana supaya besok tidak lupa lagi.”

Perbedaannya sederhana, tetapi pesannya sangat berbeda.

Kalimat pertama menyerang identitas anak.

Kalimat kedua membantu anak menyelesaikan masalah.

Anak tetap mendapatkan batasan dan konsekuensi, tetapi tidak harus merasa bahwa dirinya adalah masalah.

2. “Lihat kakakmu. Kenapa kamu tidak bisa seperti dia?”

Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau sepupunya merupakan kebiasaan yang cukup umum.

“Kakakmu bisa dapat nilai bagus.”

“Lihat adikmu, dia tidak pernah membantah.”

“Temanmu saja bisa, masa kamu tidak?”

Orang tua biasanya memiliki tujuan tertentu ketika melakukan perbandingan.

Mungkin ingin memotivasi.

Mungkin ingin menunjukkan contoh.

Mungkin berharap anak menjadi lebih disiplin.

Namun, perbandingan yang terus-menerus dapat membuat anak merasa bahwa dirinya selalu berada dalam kompetisi untuk mendapatkan penerimaan orang tua.

Anak dapat mulai mengembangkan pertanyaan:

“Apakah aku cukup baik kalau aku tidak sehebat kakakku?”

Ini juga dapat memengaruhi hubungan antarsaudara.

Alih-alih melihat saudara sebagai teman dan tempat berbagi, anak dapat melihatnya sebagai standar yang harus dikalahkan atau sebagai orang yang selalu mendapatkan sesuatu yang tidak ia dapatkan.

Lebih buruk lagi jika orang tua tidak hanya membandingkan prestasi, tetapi juga kepribadian.

“Kakak itu penurut, kamu keras kepala.”

“Kakak rajin, kamu malas.”

“Kakak pintar, kamu biasa saja.”

Anak mungkin akhirnya membawa label tersebut ke dalam cara ia melihat dirinya.

Cara yang lebih sehat

Orang tua tetap boleh menunjukkan perilaku positif dari orang lain, tetapi fokusnya sebaiknya pada perilaku yang dapat dipelajari.

Misalnya:

“Kakak punya kebiasaan menyiapkan buku sejak malam. Menurutmu, apakah cara itu bisa membantu kamu juga?”

Dengan demikian, kakak bukan dijadikan alat untuk merendahkan anak.

Ia menjadi contoh strategi yang bisa dicoba.

Pesannya berubah dari:

“Kamu tidak sehebat kakakmu.”

menjadi:

“Ada cara yang bisa kamu pelajari untuk menghadapi masalah ini.”

3. “Jangan cengeng. Kamu kan sudah besar.”

Ketika anak menangis, sebagian orang tua langsung berusaha menghentikannya.

“Sudah, jangan nangis.”

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng.”

“Kamu sudah besar.”

“Hal seperti itu saja ditangisi.”

Orang tua mungkin bermaksud mengajarkan ketangguhan.

Tetapi ketangguhan emosional bukan berarti anak tidak boleh merasakan emosi.

Anak perlu belajar bahwa sedih, kecewa, takut, marah, dan frustrasi merupakan bagian dari pengalaman manusia.

Jika setiap emosi dianggap sebagai kelemahan, anak bisa belajar bahwa emosi tertentu harus disembunyikan.

Akibatnya, anak mungkin terlihat “kuat” dari luar, tetapi tidak belajar bagaimana mengenali dan mengatur emosinya dengan sehat.

Di sinilah konsep validasi emosi menjadi penting.

Memvalidasi emosi bukan berarti menyetujui semua perilaku anak.

Misalnya, anak marah karena tidak boleh bermain lebih lama.

Orang tua dapat mengatakan:

“Kamu kecewa karena waktu bermain sudah selesai. Ibu tahu kamu masih ingin bermain. Tapi sekarang memang waktunya berhenti.”

Kalimat tersebut melakukan dua hal sekaligus.

Perasaan anak diakui.

Batasan tetap ada.

Anak belajar bahwa:

“Perasaanku boleh ada, tetapi tidak semua tindakan boleh dilakukan.”

Itulah pelajaran emosional yang jauh lebih berguna daripada sekadar menyuruh anak berhenti menangis.

4. “Kalau kamu terus seperti ini, siapa yang mau berteman denganmu?”

Ini adalah salah satu bentuk ancaman sosial yang mungkin terdengar seperti nasihat.

Orang tua mungkin mengucapkannya ketika anak sulit berbagi, mudah marah, tidak mau mengikuti aturan, atau bertengkar dengan teman.

Tujuannya biasanya agar anak memahami bahwa perilakunya memiliki konsekuensi sosial.

Tetapi ada perbedaan antara menjelaskan konsekuensi dan membuat anak takut kehilangan hubungan.

Anak kecil sangat bergantung pada hubungan dengan orang dewasa dan lingkungan sosialnya. Karena itu, ancaman seperti:

“Tidak ada yang akan menyukaimu.”

“Teman-temanmu nanti meninggalkan kamu.”

“Siapa yang mau punya teman seperti kamu?”

dapat terasa jauh lebih besar daripada yang dibayangkan orang tua.

Anak bukan hanya belajar bahwa perilakunya perlu diperbaiki.

Ia dapat menyimpulkan:

“Ada sesuatu yang salah dengan diriku sehingga orang lain tidak akan menyukaiku.”

Hal tersebut sangat berbeda.

Bagaimana menyampaikannya?

Daripada mengatakan:

“Siapa yang mau berteman dengan anak seperti kamu?”

Orang tua bisa menjelaskan dampak perilakunya:

“Kalau kamu merebut mainan teman, dia bisa merasa tidak dihargai. Kalau kamu ingin bermain bersama, coba minta izin dan tunggu giliran.”

Anak tetap belajar tentang konsekuensi sosial.

Namun, fokusnya berada pada perilaku yang bisa diubah, bukan pada kelayakan dirinya untuk dicintai atau disukai.

5. “Ibu sudah capek mengurus kamu.”

Ini adalah kalimat yang sangat manusiawi.

Orang tua memang bisa lelah.

Mengasuh anak membutuhkan energi fisik dan emosional. Orang tua bisa bekerja sepanjang hari, mengurus rumah, menghadapi masalah pribadi, kemudian masih harus menghadapi anak yang tantrum atau sulit tidur.

Mengatakan bahwa kita lelah bukan sesuatu yang salah.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pesan tersebut disampaikan.

Ada perbedaan besar antara:

“Ibu sedang sangat lelah. Ibu perlu istirahat sebentar.”

dan:

“Ibu sudah capek mengurus kamu.”

Kalimat kedua dapat terdengar seperti keberadaan anak adalah penyebab penderitaan orang tua.

Bagi orang dewasa, mungkin maksudnya hanya “Saya sedang kelelahan.”

Namun bagi anak, terutama anak yang masih kecil, pesan tersebut dapat terasa seperti:

“Aku adalah beban.”

Anak bahkan mungkin mulai merasa bersalah ketika memiliki kebutuhan.

Ia membutuhkan bantuan, tetapi takut meminta.

Ia ingin bercerita, tetapi khawatir merepotkan.

Ia ingin dipeluk, tetapi merasa harus menunggu karena orang tua sedang sibuk.

Padahal kebutuhan emosional anak bukanlah sebuah kesalahan.

Orang tua boleh mengakui kelelahan

Justru anak dapat belajar hal yang sehat ketika orang tua mengungkapkan kondisi emosionalnya dengan tepat.

Misalnya:

“Ayah sedang lelah sekali. Ayah butuh duduk sebentar supaya bisa tenang. Setelah itu kita bicara.”

Ini memberikan contoh penting bahwa orang dewasa juga memiliki batas energi.

Anak belajar bahwa kebutuhan orang lain perlu dihormati tanpa harus menyimpulkan bahwa dirinya adalah beban.

6. “Kalau kamu benar-benar sayang Mama, kamu pasti mau menurut.”

Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, bahkan penuh kasih.

Tetapi sebenarnya ia menghubungkan kepatuhan anak dengan bukti cinta.

“Kalau sayang Ayah, jangan bikin Ayah kecewa.”

“Kalau kamu mencintai Mama, kamu harus menurut.”

“Berarti kamu tidak sayang Ibu kalau masih melakukan itu.”

Masalahnya, anak seharusnya tidak dibuat merasa bahwa cinta kepada orang tua harus dibuktikan melalui kepatuhan.

Anak boleh mencintai orang tuanya sekaligus tidak setuju.

Anak boleh kecewa.

Anak boleh mengatakan tidak terhadap hal-hal tertentu.

Anak juga perlu belajar bahwa hubungan yang sehat memungkinkan seseorang memiliki perasaan dan batasan tanpa takut kehilangan kasih sayang.

Jika cinta terus dikaitkan dengan kepatuhan, anak dapat belajar pola relasi yang kurang sehat:

“Agar dicintai, aku harus melakukan apa yang diinginkan orang lain.”

Padahal dalam pengasuhan, batasan tetap diperlukan.

Orang tua tidak harus mengabulkan keinginan anak.

Namun batasan dapat disampaikan tanpa mempertanyakan cinta anak.

Misalnya:

“Kamu boleh tidak suka aturan ini. Tapi aturan tidur tetap berlaku karena tubuhmu membutuhkan istirahat.”

Ini mengajarkan bahwa ketidaksetujuan tidak otomatis berarti tidak ada cinta.

7. “Mama/Ayah malu punya anak seperti kamu.”

Di antara berbagai kalimat yang dapat diucapkan kepada anak, ungkapan yang menyerang rasa berharga diri merupakan salah satu yang paling perlu dihindari.

“Bikin malu saja.”

“Papa malu punya anak seperti kamu.”

“Kamu memalukan.”

“Anak macam apa kamu?”

Ada perbedaan antara mengatakan:

“Perbuatanmu tadi membuat masalah dan kita perlu memperbaikinya.”

dengan:

“Kamu memalukan.”

Yang pertama mengevaluasi tindakan.

Yang kedua menyerang identitas.

Anak belum memiliki jarak psikologis yang matang antara “aku melakukan sesuatu yang salah” dan “aku adalah orang yang salah”.

Karena itu, label negatif yang berulang dapat menjadi bagian dari cara anak mendefinisikan dirinya.

Anak mungkin mulai mengembangkan suara batin yang menyerupai suara orang tua:

“Aku memang bodoh.”

“Aku selalu membuat masalah.”

“Aku tidak pernah cukup baik.”

“Aku pasti mengecewakan orang.”

Inilah alasan mengapa kata-kata orang tua memiliki posisi yang sangat penting.

Bukan karena anak harus selalu dipuji.

Justru anak membutuhkan koreksi.

Namun koreksi seharusnya membantu anak memahami:

“Apa yang perlu diperbaiki?”

bukan:

“Mengapa aku sebagai manusia tidak layak?”

Tegas tanpa merendahkan

Orang tua bisa tetap sangat tegas.

Misalnya:

“Ayah tidak menerima cara kamu berbicara kepada Nenek. Kamu boleh marah, tetapi kamu tidak boleh menghina. Sekarang kita tenang dulu, kemudian kamu perlu meminta maaf.”

Kalimat ini jelas.

Ada batasan.

Ada konsekuensi.

Namun anak tidak diberi pesan bahwa dirinya tidak berharga.

Mengapa Kata-Kata Orang Tua Bisa Terasa Begitu Besar bagi Anak?

Salah satu alasan anak mudah terluka oleh perkataan orang tua adalah karena orang tua memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan psikologis anak.

Pada masa perkembangan, anak sedang membangun pemahaman tentang berbagai hal:

Siapa dirinya.
Apakah dirinya aman.
Apakah orang lain dapat dipercaya.
Bagaimana hubungan seharusnya berjalan.
Bagaimana menghadapi kesalahan.
Bagaimana memahami emosi.
Apakah dirinya layak mendapatkan kasih sayang.
Bagaimana seharusnya berbicara kepada diri sendiri.

Pengalaman sehari-hari, termasuk interaksi dengan orang tua, ikut berkontribusi terhadap proses tersebut.

Itulah sebabnya sebuah kalimat yang bagi orang dewasa terdengar sepele dapat memiliki arti yang berbeda bagi anak.

Bukan berarti anak akan mengingat setiap perkataan orang tua selama hidupnya.

Bukan pula berarti orang tua harus takut berbicara karena satu kesalahan pasti menyebabkan trauma.

Tidak demikian.

Yang lebih penting adalah pola.

Satu kali orang tua kehilangan kesabaran kemudian memperbaiki hubungan bukanlah hal yang sama dengan bertahun-tahun merendahkan anak tanpa adanya perbaikan.

Dalam pengasuhan, repair atau memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik juga sangat penting.

Orang Tua Tidak Harus Sempurna

Ada kesalahpahaman bahwa setelah mengetahui dampak perkataan terhadap anak, orang tua harus menjadi sempurna.

Padahal tidak ada orang tua yang selalu mengatakan hal yang tepat.

Orang tua bisa marah.

Bisa frustrasi.

Bisa salah bicara.

Bisa menyesal setelah membentak anak.

Yang penting adalah apa yang dilakukan setelahnya.

Jika orang tua menyadari telah mengatakan sesuatu yang menyakitkan, ia dapat kembali kepada anak dan mengatakan:

“Tadi Mama bicara terlalu keras. Mama marah karena kamu melakukan itu, tetapi Mama tidak seharusnya mengatakan kamu anak nakal. Yang salah adalah perilakunya, bukan berarti kamu anak yang buruk.”

Permintaan maaf seperti ini bukan berarti orang tua kehilangan wibawa.

Justru anak mendapatkan pelajaran penting:

Orang yang melakukan kesalahan dapat mengakuinya dan memperbaikinya.

Anak juga belajar bahwa hubungan tidak harus berakhir ketika terjadi konflik.

Kritik Perilaku, Bukan Harga Diri Anak

Salah satu prinsip sederhana yang dapat digunakan orang tua adalah:

Serang masalahnya, bukan identitas anaknya.

Bandingkan beberapa contoh berikut.

Daripada:

“Dasar malas.”

Lebih baik:

“Kamu belum menyelesaikan tugasmu. Sekarang mari kita tentukan kapan kamu akan mengerjakannya.”

Daripada:

“Kamu memang nakal.”

Lebih baik:

“Memukul teman tidak boleh. Kalau kamu marah, kamu perlu mencari cara lain untuk mengungkapkannya.”

Daripada:

“Kamu bodoh sekali.”

Lebih baik:

“Soal ini memang sulit. Kita lihat bagian mana yang belum kamu pahami.”

Daripada:

“Kamu selalu bikin masalah.”

Lebih baik:

“Masalah ini perlu kita selesaikan. Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaikinya?”

Daripada:

“Kenapa kamu tidak pernah bisa seperti anak lain?”

Lebih baik:

“Setiap anak punya kemampuan yang berbeda. Kita fokus pada hal yang sedang perlu kamu latih.”

Dengan cara seperti ini, disiplin tetap ada.

Anak tetap belajar bertanggung jawab.

Tetapi harga dirinya tidak perlu menjadi korban dari proses tersebut.

Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Selalu Benar

Pada akhirnya, pengasuhan yang sehat bukan tentang menemukan kalimat sempurna setiap saat.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang tidak pernah marah.

Anak juga tidak membutuhkan rumah tanpa konflik.

Yang lebih penting, anak membutuhkan pengalaman bahwa setelah konflik, hubungan dapat diperbaiki.

Anak perlu mengetahui bahwa:

“Aku bisa melakukan kesalahan tanpa kehilangan kasih sayang.”

“Aku boleh merasakan emosi tanpa dianggap lemah.”

“Aku bisa dikoreksi tanpa dipermalukan.”

“Aku tidak harus menjadi seperti orang lain agar berharga.”

“Orang tuaku bisa marah kepadaku, tetapi mereka tetap mencintaiku.”

Pesan-pesan seperti itulah yang membantu anak membangun rasa aman dan pemahaman yang lebih sehat tentang dirinya.

Jadi, sebelum mengucapkan sesuatu kepada anak ketika sedang marah, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang bisa membantu:

“Apakah saya sedang mengoreksi perilakunya, atau sedang membuatnya merasa bahwa dirinya adalah masalah?”

Jika yang kedua, mungkin kita perlu berhenti sejenak.

Tarik napas.

Tenangkan diri.

Lalu coba lagi.

Karena mendidik anak bukan hanya tentang membuat mereka berperilaku benar hari ini.

Kita juga sedang membantu mereka membangun suara di dalam kepala mereka yang akan mereka bawa hingga dewasa.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore