Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 September 2026 | 03.03 WIB

7 Cara Tetap Dekat dengan Pasangan Saat Kalian Berkembang ke Arah Berbeda Menurut Psikologi

seseorang yang tetap dekat dengan pasangan. (magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada masa ketika dua orang yang dulu terasa begitu sejalan mulai berjalan ke arah yang berbeda.


Dulu mungkin memiliki banyak kesamaan: teman yang sama, minat yang sama, kebiasaan yang sama, bahkan mimpi yang hampir serupa. Namun seiring berjalannya waktu, seseorang mulai berubah. Ia mendapatkan pekerjaan baru, memiliki prioritas yang berbeda, menemukan lingkungan pertemanan baru, mengubah cara pandang, atau mulai mengejar sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Hal yang sama bisa terjadi pada pasangan, sahabat, anggota keluarga, maupun orang-orang yang telah lama hadir dalam hidup kita.

Perbedaan arah perkembangan tidak selalu berarti hubungan harus berakhir.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (10/9), dalam psikologi, hubungan yang sehat bukan berarti dua orang harus selalu sama. Justru, kedekatan yang matang memungkinkan seseorang untuk tetap menjadi dirinya sendiri tanpa kehilangan rasa terhubung dengan orang lain.

Masalahnya, perubahan sering kali terasa seperti ancaman terhadap hubungan.

Ketika seseorang berubah, kita bisa bertanya dalam hati:

"Apakah dia masih membutuhkan saya?"

"Kenapa sekarang kami tidak lagi punya banyak kesamaan?"

"Mengapa rasanya dia semakin jauh?"

"Apakah hubungan ini masih bisa bertahan?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat manusiawi. Kita cenderung merasa aman ketika hubungan terasa familiar dan dapat diprediksi. Ketika seseorang berkembang ke arah yang berbeda, rasa familiar itu dapat berkurang.

Namun, kedekatan tidak harus dibangun dari kesamaan.

Terkadang, hubungan justru menjadi lebih kuat ketika dua orang belajar menciptakan bentuk kedekatan yang baru.

Berikut tujuh cara yang dapat membantu mempertahankan hubungan ketika dua orang berkembang ke arah yang berbeda.

1. Terima bahwa berubah bukan berarti meninggalkan

Salah satu kesalahan paling umum dalam hubungan adalah menganggap perubahan sebagai tanda bahwa seseorang mulai menjauh.

Padahal, perkembangan pribadi merupakan bagian normal dari kehidupan manusia.

Seseorang bisa berubah karena pengalaman, usia, pendidikan, pekerjaan, hubungan romantis, lingkungan sosial, atau proses memahami dirinya sendiri.

Dalam psikologi perkembangan, manusia tidak dipandang sebagai pribadi yang statis. Identitas, nilai, kebutuhan, dan tujuan dapat berkembang sepanjang kehidupan.

Karena itu, ketika seseorang berubah, pertanyaan yang lebih sehat bukan:

"Kenapa kamu berubah?"

melainkan:

"Apa yang sedang kamu temukan tentang dirimu?"

Perubahan tidak selalu berarti seseorang tidak menghargai hubungan yang lama. Bisa jadi ia sedang menemukan sisi dirinya yang sebelumnya belum mendapatkan ruang.

Misalnya, seorang sahabat yang dulu selalu menghabiskan akhir pekan bersama mulai sibuk membangun karier. Atau pasangan yang sebelumnya memiliki banyak waktu bersama mulai memiliki tujuan profesional yang lebih besar.

Perubahan tersebut memang dapat mengurangi waktu bersama.

Namun, berkurangnya waktu bersama tidak otomatis berarti berkurangnya kasih sayang.

Ini merupakan perbedaan yang penting.

Kita sering mengukur kedekatan berdasarkan frekuensi interaksi. Padahal, kualitas hubungan tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering seseorang hadir, tetapi juga oleh rasa aman, kepercayaan, penghargaan, dan kemampuan untuk saling memahami.

Ketika kita menerima bahwa orang lain boleh berubah, kita mengurangi kecenderungan untuk mengontrolnya agar tetap menjadi versi dirinya yang lama.

Dan justru di situlah hubungan dapat bernapas.

2. Jangan menjadikan perbedaan sebagai kompetisi

Ketika dua orang berkembang ke arah berbeda, perbedaan mudah berubah menjadi perbandingan.

Seseorang mendapatkan pekerjaan lebih baik.

Yang lain merasa tertinggal.

Seseorang menikah lebih dulu.

Yang lain mulai merasa hidupnya tidak berjalan sesuai harapan.

Seseorang memiliki lingkungan sosial yang berkembang.

Yang lain merasa dirinya ditinggalkan.

Tanpa disadari, hubungan yang sebelumnya menjadi tempat untuk mendapatkan dukungan berubah menjadi arena untuk membandingkan pencapaian.

Dalam psikologi sosial, manusia memang memiliki kecenderungan melakukan social comparison, yaitu membandingkan dirinya dengan orang lain untuk mengevaluasi posisi, kemampuan, atau kehidupannya sendiri.

Perbandingan ini tidak selalu buruk. Namun, jika dilakukan terus-menerus, hubungan dapat dipenuhi rasa iri, rendah diri, atau kompetisi.

Karena itu, ketika orang yang dekat dengan kita berkembang lebih cepat dalam satu bidang, kita tidak harus menganggap perkembangannya sebagai ancaman terhadap nilai diri kita.

Keberhasilannya bukan bukti kegagalan kita.

Jalan hidupnya bukan ukuran kualitas hidup kita.

Dan perbedaan kecepatan bukan berarti salah satu dari kita lebih berharga.

Hubungan yang sehat memungkinkan dua orang berkata:

"Aku senang kamu berkembang, meskipun jalanku berbeda."

Kalimat sederhana seperti itu menunjukkan bentuk kedekatan yang lebih dewasa.

Kita tidak perlu berada di tempat yang sama untuk tetap saling mendukung.

3. Ciptakan ritual hubungan yang baru

Salah satu alasan hubungan terasa menjauh setelah seseorang berubah adalah karena pola lama tidak lagi cocok.

Dulu mungkin bertemu setiap hari.

Sekarang tidak memungkinkan.

Dulu bisa berbicara berjam-jam setiap malam.

Sekarang pekerjaan dan tanggung jawab membuat waktu semakin terbatas.

Kesalahan yang sering terjadi adalah berusaha mempertahankan bentuk hubungan lama dengan segala cara.

Padahal, yang perlu dipertahankan bukan selalu bentuknya, tetapi koneksinya.

Jika dahulu kedekatan dibangun melalui pertemuan langsung setiap minggu, sekarang mungkin bentuknya berubah menjadi panggilan video dua kali sebulan.

Jika dulu sering bepergian bersama, sekarang mungkin hanya makan malam sesekali.

Jika dulu selalu bertukar pesan sepanjang hari, sekarang mungkin cukup memiliki kebiasaan saling mengabari pada waktu tertentu.

Dalam hubungan, ritual kecil memiliki fungsi penting karena menciptakan rasa kontinuitas.

Ritual membuat kita memiliki sesuatu yang dapat diandalkan di tengah kehidupan yang terus berubah.

Misalnya:

menelepon setiap Minggu malam,
makan bersama sebulan sekali,
mengirim pesan ketika mendapatkan kabar penting,
merayakan ulang tahun dengan cara tertentu,
memiliki perjalanan tahunan bersama,
atau sekadar memiliki kebiasaan bertanya, "Bagaimana keadaanmu sebenarnya?"

Ritual tidak harus besar.

Yang penting adalah konsistensi.

Kedekatan sering kali dipertahankan bukan oleh momen luar biasa, tetapi oleh kebiasaan kecil yang mengatakan:

"Kita masih ada dalam kehidupan satu sama lain."

4. Belajar tertarik pada versi baru mereka

Terkadang kita merasa kehilangan seseorang bukan karena ia benar-benar pergi, tetapi karena kita masih berusaha berhubungan dengan versi dirinya yang lama.

Kita mengenalnya sebagai orang yang dulu.

Kita tahu makanan favoritnya.

Kita tahu hobinya.

Kita tahu cara berpikirnya.

Kita bahkan bisa menebak apa yang akan ia katakan.

Namun kemudian ia berubah.

Dan kita mungkin merasa asing.

Daripada memaksa hubungan kembali seperti dulu, cobalah memperlakukannya seperti seseorang yang sedang kita kenali kembali.

Tanyakan:

"Apa yang sekarang paling penting buat kamu?"

"Apa yang akhir-akhir ini membuatmu bersemangat?"

"Apa yang berubah dalam cara kamu melihat hidup?"

"Apa yang sedang ingin kamu capai?"

Pertanyaan seperti ini menciptakan ruang bagi orang lain untuk memperkenalkan dirinya yang baru.

Dalam hubungan yang sehat, rasa ingin tahu sangat penting.

Kita tidak hanya mencintai atau menyayangi seseorang berdasarkan siapa dirinya di masa lalu. Kita juga memberikan ruang bagi dirinya untuk berkembang.

Bayangkan hubungan sebagai sebuah buku.

Jika kita hanya menyukai bab-bab awal, kita mungkin akan kecewa ketika cerita berubah.

Namun, kedekatan yang matang berarti bersedia membaca bab berikutnya.

Mungkin ceritanya berbeda.

Tetapi kita masih dapat menemukan sesuatu yang berharga di sana.

5. Pertahankan kejujuran tanpa menuntut kesamaan

Ketika hubungan mulai berubah, komunikasi menjadi semakin penting.

Sayangnya, banyak orang justru memilih diam.

Mereka takut terlihat membutuhkan.

Takut dianggap posesif.

Takut mengganggu.

Akhirnya, perasaan seperti kesepian, kecewa, atau takut kehilangan dipendam sampai berubah menjadi jarak emosional.

Padahal, mengungkapkan perasaan tidak selalu berarti menuntut orang lain untuk berubah.

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

"Kamu sekarang sudah berubah. Kamu tidak pernah punya waktu untukku lagi."

dan:

"Aku merasa akhir-akhir ini kita semakin jarang terhubung, dan aku ternyata merindukan kedekatan kita. Aku ingin tahu apakah kita bisa menemukan cara baru untuk tetap dekat."

Kalimat pertama cenderung menyalahkan.

Kalimat kedua membuka ruang untuk berdialog.

Komunikasi yang sehat berfokus pada pengalaman diri sendiri, bukan menyerang karakter orang lain.

Gunakan kalimat seperti:

"Aku merasa..."

"Aku menyadari bahwa..."

"Aku merindukan..."

"Aku berharap kita bisa..."

Daripada:

"Kamu selalu..."

"Kamu tidak pernah..."

"Kamu sudah tidak peduli..."

Tujuannya bukan memenangkan percakapan.

Tujuannya adalah membuat kedua orang memahami apa yang sedang terjadi dalam hubungan.

6. Berikan ruang untuk kemandirian

Kedekatan dan kemandirian bukan dua hal yang harus saling bertentangan.

Dalam hubungan yang sehat, seseorang dapat merasa dekat dengan orang lain sekaligus memiliki kehidupan pribadi.

Ini berkaitan dengan konsep differentiation atau kemampuan untuk mempertahankan identitas diri sambil tetap terhubung secara emosional dengan orang lain.

Artinya, kita dapat mengatakan:

"Aku menyayangimu dan aku tetap memiliki hidupku sendiri."

Begitu pula:

"Aku ingin kamu dekat denganku, tetapi aku tidak ingin kamu harus menjadi seperti diriku agar hubungan ini bertahan."

Ini penting karena terkadang ketakutan kehilangan membuat kita mencoba mempertahankan kedekatan dengan cara mengontrol.

Kita ingin mereka tetap memiliki minat yang sama.

Tetap menghabiskan waktu sebanyak dulu.

Tetap memiliki prioritas yang sama.

Tetap memilih kita dengan cara yang sama.

Namun, semakin besar tuntutan untuk mempertahankan kesamaan, semakin sempit ruang bagi pertumbuhan.

Hubungan yang matang justru memberikan ruang.

Seseorang dapat memiliki teman baru tanpa berarti meninggalkan teman lama.

Seseorang dapat memiliki ambisi baru tanpa berarti tidak lagi menghargai hubungan.

Seseorang dapat membutuhkan waktu sendiri tanpa berarti ia tidak mencintai orang lain.

Ruang bukan selalu tanda jarak.

Terkadang, ruang adalah kondisi yang memungkinkan kedekatan tetap sehat.

7. Fokus pada nilai yang tetap sama, bukan aktivitas yang berubah

Ketika dua orang berkembang ke arah berbeda, mereka mungkin kehilangan banyak kesamaan.

Mungkin tidak lagi memiliki hobi yang sama.

Tidak lagi bekerja di bidang yang sama.

Tidak lagi tinggal di kota yang sama.

Tidak lagi memiliki jadwal yang sama.

Bahkan mungkin memiliki pandangan yang berbeda mengenai banyak hal.

Namun, hubungan tidak selalu bergantung pada kesamaan aktivitas.

Cobalah mencari sesuatu yang lebih dalam: nilai.

Mungkin kalian sama-sama menghargai kejujuran.

Sama-sama percaya pada pentingnya keluarga.

Sama-sama menghargai kesetiaan.

Sama-sama ingin menjadi orang yang lebih baik.

Sama-sama menikmati percakapan yang mendalam.

Sama-sama ingin hadir ketika orang lain sedang mengalami masa sulit.

Aktivitas dapat berubah.

Nilai yang menjadi fondasi hubungan bisa tetap bertahan.

Misalnya, dua sahabat tidak lagi memiliki hobi yang sama. Salah satunya senang mendaki, sementara yang lain lebih menyukai kehidupan yang tenang di rumah.

Mereka tidak perlu memaksa diri untuk menyukai aktivitas yang sama.

Mereka dapat mempertahankan sesuatu yang lebih penting: saling menghargai, saling mendukung, dan menjadi tempat yang aman untuk bercerita.

Inilah salah satu bentuk adaptasi dalam hubungan.

Bukan mempertahankan semuanya tetap sama, tetapi menemukan apa yang sebenarnya penting untuk dipertahankan.

Ketika Jalan Berbeda Tidak Lagi Berarti Harus Berpisah

Ada sesuatu yang sering kita lupakan tentang hubungan manusia:

kedekatan tidak selalu berarti kesamaan.

Dua orang dapat mencintai satu sama lain meskipun memiliki tujuan hidup berbeda.

Dua sahabat dapat tetap menjadi sahabat meskipun kehidupan mereka berkembang ke arah yang berbeda.

Anggota keluarga dapat tetap dekat meskipun nilai, pekerjaan, gaya hidup, dan pilihan hidup mereka berubah.

Hubungan yang sehat bukan hubungan yang berhasil menghentikan perubahan.

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan.

Tentu saja, tidak semua hubungan dapat dipertahankan.

Ada kalanya dua orang berkembang begitu jauh sehingga nilai, kebutuhan, atau arah hidup mereka tidak lagi dapat dipertemukan.

Dan menerima kenyataan tersebut juga merupakan bagian dari kedewasaan emosional.

Namun, sebelum menyimpulkan bahwa hubungan telah berakhir, penting untuk bertanya:

"Apakah kami benar-benar sudah kehilangan hubungan ini, atau kami hanya belum menemukan bentuk baru untuk menjalaninya?"

Pertanyaan tersebut dapat mengubah cara kita melihat perubahan.

Mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak kesamaan.

Mungkin kita membutuhkan lebih banyak rasa ingin tahu.

Mungkin kita tidak perlu kembali ke masa lalu.

Mungkin kita perlu belajar mengenal satu sama lain lagi.

Penutup: Tetap Dekat Tanpa Harus Tetap Sama

Orang-orang yang kita cintai akan berubah.

Kita juga akan berubah.

Itu bukan kegagalan hubungan. Itu adalah bagian dari kehidupan.

Yang membuat hubungan bertahan bukan kemampuan untuk menjaga semuanya tetap seperti dulu, tetapi kemampuan untuk terus bertemu satu sama lain di tengah perubahan.

Kita dapat memberi ruang tanpa meninggalkan.

Kita dapat berkembang tanpa melupakan.

Kita dapat memiliki jalan yang berbeda tanpa kehilangan rasa peduli.

Dan kita dapat tetap dekat tanpa harus menjadi sama.

Pada akhirnya, kedekatan yang paling dewasa mungkin bukan tentang berjalan di jalan yang sama.

Melainkan tentang mengetahui bahwa meskipun jalan kita berbeda, kita masih bisa berhenti sejenak, saling menoleh, dan berkata:

"Aku mungkin sedang menuju tempat yang berbeda, tetapi aku tetap menghargai bahwa kamu pernah dan masih menjadi bagian penting dari perjalanan hidupku."***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore