Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 September 2026 | 15.23 WIB

7 Langkah Untuk Mengetahui Apakah Hubunganmu Harus Berakhir Menurut Psikologi

seseorang yang memikirkan hubungannya. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada masa ketika sebuah hubungan tidak lagi terasa sederhana. Kamu masih menyayangi pasangan, tetapi pada saat yang sama kamu merasa lelah.
 
Kamu masih bisa tertawa bersamanya, tetapi ada bagian dalam dirimu yang terus bertanya: “Apakah aku masih bahagia di hubungan ini?”

Pertanyaan itu bisa muncul setelah terlalu banyak pertengkaran, setelah kepercayaan rusak, ketika kebutuhan emosional tidak lagi terpenuhi, atau bahkan ketika tidak ada masalah besar yang benar-benar bisa ditunjuk.

Kadang-kadang hubungan terasa baik-baik saja dari luar, tetapi di dalam diri kita ada kegelisahan yang sulit dijelaskan.

Lalu muncul pertanyaan yang jauh lebih berat:

“Apakah hubungan ini memang harus berakhir?”

Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua pasangan.

Psikologi juga tidak memberikan sebuah rumus sederhana seperti, “Jika bertengkar sekian kali, berarti harus putus.” Hubungan manusia jauh lebih kompleks daripada itu.

Namun, psikologi dapat membantu kita memahami pola hubungan, kebutuhan emosional, kualitas komunikasi, konflik, keterikatan, batasan pribadi, dan kondisi mental kita sendiri.

Dengan memahami hal-hal tersebut, keputusan tentang melanjutkan atau mengakhiri hubungan bisa dibuat dengan lebih sadar—bukan semata-mata karena sedang marah, takut sendirian, merasa bersalah, atau terbawa emosi sesaat.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (9/9), terdapat tujuh langkah yang dapat membantumu mendapatkan kejelasan.

1. Bedakan antara “sedang mengalami masa sulit” dan “hubungan yang secara konsisten tidak sehat”

Tidak semua hubungan yang sedang bermasalah harus berakhir.

Setiap pasangan hampir pasti akan mengalami konflik. Ada masa ketika komunikasi memburuk, pekerjaan membuat salah satu pihak stres, kondisi finansial menjadi tekanan, atau perubahan hidup membuat hubungan terasa berbeda.

Karena itu, pertanyaan pertama bukan:

“Apakah hubungan kami sedang buruk?”

Melainkan:

“Apakah hubungan ini secara konsisten membuat kami tidak sehat dan tidak aman untuk satu sama lain?”

Ini perbedaan yang sangat penting.

Sebuah hubungan dapat mengalami periode sulit tetapi masih memiliki fondasi yang sehat. Misalnya, pasangan mungkin sering berbeda pendapat, tetapi keduanya masih bisa mendengarkan, meminta maaf, memperbaiki kesalahan, dan berusaha memahami kebutuhan satu sama lain.

Sebaliknya, masalah menjadi jauh lebih serius ketika pola yang sama terus berulang tanpa adanya usaha perbaikan.

Misalnya:

kamu terus-menerus merasa direndahkan;
pasangan mengabaikan batasanmu;
konflik selalu berakhir dengan ancaman atau intimidasi;
kamu merasa harus berjalan di atas kulit telur agar pasangan tidak marah;
kebohongan terjadi berulang kali;
kebutuhan emosionalmu selalu dianggap tidak penting;
pasangan menolak bertanggung jawab atas perilakunya;
kamu kehilangan kebebasan untuk menjadi dirimu sendiri.

Dalam psikologi hubungan, pola sering kali lebih penting daripada satu kejadian tunggal.

Satu pertengkaran tidak selalu menggambarkan kualitas sebuah hubungan.

Namun, pola pertengkaran yang sama selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dapat memberikan informasi yang jauh lebih besar.

Cobalah bertanya kepada dirimu:

“Kalau tidak ada yang berubah selama satu atau dua tahun ke depan, apakah aku masih ingin menjalani hubungan ini?”

Pertanyaan tersebut terkadang lebih jujur daripada sekadar bertanya apakah kamu masih mencintai pasangan.

Karena cinta dan kualitas hubungan adalah dua hal yang berbeda.

Kamu bisa mencintai seseorang sekaligus menyadari bahwa hubungan tersebut tidak lagi baik untukmu.

2. Periksa perasaanmu—bukan hanya perasaanmu terhadap pasangan, tetapi juga perasaanmu ketika berada di dalam hubungan

Banyak orang ketika mempertimbangkan putus hanya bertanya:

“Apakah aku masih mencintainya?”

Padahal ada pertanyaan lain yang sama pentingnya:

“Aku menjadi seperti apa ketika berada di dalam hubungan ini?”

Perhatikan perubahan dalam dirimu.

Apakah kamu menjadi lebih tenang?

Lebih percaya diri?

Lebih bebas menjadi diri sendiri?

Lebih mampu berkembang?

Atau justru semakin sering merasa cemas, tidak aman, bersalah, takut ditolak, dan meragukan dirimu sendiri?

Hubungan yang sehat tidak berarti kamu akan selalu bahagia.

Tetapi secara umum, hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi seseorang untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Kamu masih boleh mempunyai teman.

Masih boleh memiliki hobi.

Masih boleh mempunyai tujuan pribadi.

Masih boleh mengatakan tidak.

Masih boleh berbeda pendapat.

Dan kamu tidak harus terus-menerus membuktikan bahwa dirimu layak dicintai.

Perhatikan juga bagaimana tubuhmu merespons hubungan tersebut.

Kadang-kadang pikiran kita mencoba mencari alasan, sementara tubuh sudah memberikan sinyal terlebih dahulu.

Misalnya kamu terus merasa tegang ketika pasangan mengirim pesan.

Kamu merasa takut setiap kali harus membicarakan masalah tertentu.

Kamu merasa lega ketika pasangan pergi dan cemas ketika ia kembali.

Tentu saja, sensasi tersebut tidak otomatis berarti hubungan harus berakhir. Kecemasan bisa berasal dari banyak hal.

Namun, jika pola tersebut berlangsung lama, ada baiknya tidak diabaikan.

Cobalah membuat jurnal sederhana selama beberapa minggu.

Setiap kali selesai berinteraksi dengan pasangan, tuliskan:

Apa yang terjadi?

Apa yang aku rasakan?

Apa yang aku butuhkan?

Bagaimana pasangan merespons kebutuhanku?

Setelah beberapa minggu, kamu mungkin mulai melihat pola yang sebelumnya sulit kamu sadari.

3. Tanyakan: apakah masalahnya bisa diperbaiki, dan apakah kalian berdua benar-benar ingin memperbaikinya?

Ini adalah salah satu pertanyaan paling penting.

Sebuah hubungan tidak hanya membutuhkan cinta.

Hubungan juga membutuhkan kemauan untuk memperbaiki masalah.

Misalnya, kamu merasa komunikasi kalian buruk.

Masalahnya sendiri belum tentu berarti hubungan harus berakhir.

Pertanyaan berikutnya adalah:

“Apakah kami berdua bersedia memperbaiki cara berkomunikasi?”

Bayangkan dua kondisi.

Pada kondisi pertama, kamu mengatakan:

“Aku merasa akhir-akhir ini kita sulit berbicara tanpa bertengkar. Aku ingin kita mencari cara supaya komunikasi kita lebih baik.”

Pasangan mungkin tidak langsung berubah. Namun ia mau mendengarkan, berdiskusi, mengakui sebagian kesalahannya, dan mencoba melakukan sesuatu secara berbeda.

Ini menunjukkan adanya kemungkinan untuk berkembang.

Pada kondisi kedua, setiap kali kamu menyampaikan masalah, pasangan justru mengatakan:

“Kamu terlalu sensitif.”

Atau:

“Semua ini salahmu.”

Atau:

“Kalau tidak suka, ya sudah putus.”

Jika respons seperti ini terus berulang, persoalannya bukan lagi sekadar komunikasi yang buruk.

Ada persoalan mengenai kesediaan untuk bertanggung jawab dan bekerja sama.

Hubungan membutuhkan dua orang.

Kamu tidak bisa sendirian memperbaiki hubungan yang membutuhkan perubahan dari kedua belah pihak.

Kamu bisa memperbaiki cara bicaramu.

Kamu bisa belajar mengelola emosimu.

Kamu bisa belajar menetapkan batasan.

Tetapi kamu tidak dapat memaksa pasangan untuk berubah.

Karena itu, tanyakan:

“Apakah pasangan saya hanya mengatakan ingin berubah, atau benar-benar melakukan sesuatu secara konsisten?”

Perbedaan antara janji dan perubahan sangat penting.

4. Bedakan antara takut kehilangan pasangan dan benar-benar ingin mempertahankan hubungan

Ini mungkin salah satu pertanyaan yang paling sulit.

Kadang-kadang kita berpikir:

“Aku tidak bisa putus karena aku masih mencintainya.”

Tetapi setelah diperiksa lebih dalam, ternyata yang paling menakutkan bukan kehilangan hubungan.

Yang kita takutkan adalah:

kesepian;
harus memulai kembali;
melihat mantan bersama orang lain;
mengecewakan keluarga;
merasa gagal;
kehilangan rutinitas;
kehilangan identitas sebagai pasangan;
atau menyesal setelah mengambil keputusan.

Ketakutan tersebut manusiawi.

Namun, takut kehilangan seseorang tidak selalu berarti hubungan itu harus dipertahankan.

Cobalah melakukan latihan sederhana.

Bayangkan dua kemungkinan.

Skenario pertama

Kamu tetap bersama pasangan selama lima tahun ke depan.

Tidak ada perubahan besar dalam hubungan.

Pola konflik masih sama.

Kebutuhan yang selama ini tidak terpenuhi juga masih tidak terpenuhi.

Bagaimana perasaanmu ketika membayangkan kehidupan tersebut?

Kemudian bayangkan skenario kedua.

Kalian berpisah.

Beberapa bulan pertama mungkin sangat menyakitkan. Kamu mungkin kesepian, merindukan pasangan, atau mempertanyakan keputusanmu.

Tetapi setelah beberapa tahun, kamu membangun kehidupan baru.

Kamu memiliki hubungan yang lebih sehat dengan dirimu sendiri.

Kamu berkembang.

Kamu mungkin bertemu orang lain, atau mungkin tidak.

Yang penting, hidupmu tidak lagi berputar pada hubungan tersebut.

Skenario mana yang terasa lebih selaras dengan nilai dan kehidupan yang ingin kamu jalani?

Latihan ini bukan alat untuk “meramal masa depan”.

Tujuannya adalah membantu memisahkan keinginan yang sebenarnya dari ketakutan kehilangan.

5. Evaluasi apakah hubungan tersebut masih sejalan dengan nilai dan kebutuhan hidupmu

Orang bisa saling mencintai tetapi tetap tidak cocok untuk menjalani kehidupan bersama.

Ini adalah kenyataan yang terkadang sulit diterima.

Cinta tidak selalu menyelesaikan perbedaan mendasar.

Misalnya, kalian berbeda dalam hal:

keinginan memiliki anak;
nilai tentang kesetiaan;
cara mengelola uang;
prioritas karier;
hubungan dengan keluarga;
gaya hidup;
tempat tinggal;
kebutuhan akan ruang pribadi;
pandangan tentang komitmen;
atau cara membangun masa depan.

Tidak semua perbedaan merupakan masalah.

Pasangan tidak harus identik.

Namun, beberapa perbedaan menyentuh nilai inti yang sulit dikompromikan.

Misalnya, satu orang benar-benar ingin mempunyai anak sementara yang lain benar-benar tidak ingin memiliki anak.

Tidak ada kompromi yang mudah dalam persoalan seperti ini.

Salah satu pihak tidak bisa memiliki “setengah anak” agar keduanya puas.

Karena itu, selain bertanya:

“Apakah aku mencintainya?”

cobalah bertanya:

“Apakah kehidupan yang ingin kami bangun benar-benar kompatibel?”

Hubungan jangka panjang bukan hanya tentang perasaan hari ini.

Hubungan juga tentang arah hidup.

6. Jangan membuat keputusan besar hanya berdasarkan emosi sementara

Ketika sedang terluka, otak kita cenderung ingin segera menghentikan sumber rasa sakit.

Karena itu, setelah pertengkaran besar seseorang bisa berpikir:

“Sudah. Aku mau putus.”

Beberapa jam kemudian, setelah emosi mereda, pikirannya berubah:

“Sebenarnya aku masih sayang.”

Kebingungan seperti ini sangat manusiawi.

Karena itu, jika situasinya aman dan tidak ada kondisi darurat, cobalah memberikan jarak antara emosi dan keputusan.

Kamu tidak harus memutuskan masa depan hubungan ketika sedang berada di puncak kemarahan.

Ambil waktu untuk menenangkan diri.

Tidur.

Berjalan.

Menulis.

Berbicara dengan orang yang dipercaya.

Atau melakukan aktivitas yang membantumu kembali ke keadaan emosional yang lebih stabil.

Kemudian kembali kepada pertanyaan yang lebih objektif.

Bukan:

“Apakah aku sedang marah?”

Tetapi:

“Apakah masalah ini merupakan bagian dari pola yang sudah berlangsung lama?”

Bukan:

“Apakah aku sedang kecewa?”

Tetapi:

“Apakah kebutuhan pentingku secara konsisten tidak terpenuhi?”

Bukan:

“Apakah aku masih mencintainya?”

Tetapi:

“Apakah hubungan ini masih memungkinkan kami berdua bertumbuh dengan sehat?”

Emosi penting.

Namun keputusan besar sebaiknya tidak hanya dibuat dari satu emosi yang muncul pada satu hari.

7. Cari perspektif dari luar—tanpa menyerahkan keputusan hidupmu kepada orang lain

Ketika berada terlalu dekat dengan sebuah masalah, kita sering kesulitan melihatnya secara objektif.

Karena itu, berbicara dengan orang lain bisa sangat membantu.

Namun, pilih orang yang tepat.

Bukan hanya orang yang akan mengatakan:

“Putusin saja!”

atau:

“Jangan putus, kamu pasti akan menyesal!”

Kamu membutuhkan seseorang yang dapat membantumu berpikir.

Teman yang matang secara emosional.

Anggota keluarga yang tidak terlalu terlibat dalam konflik.

Konselor.

Psikolog.

Atau profesional kesehatan mental lainnya.

Tujuan mendapatkan perspektif bukan untuk mencari seseorang yang membuat keputusan untukmu.

Tujuannya adalah memperluas cara pandangmu.

Kamu tetap orang yang paling mengetahui kehidupanmu.

Namun, seorang profesional dapat membantu mengidentifikasi pola yang mungkin sulit kamu lihat sendiri—terutama jika kamu sudah lama berada dalam hubungan yang penuh konflik atau kebingungan.

Jika memungkinkan, konseling pasangan juga dapat menjadi pilihan ketika kedua pihak sama-sama bersedia memperbaiki hubungan.

Tetapi penting untuk memahami bahwa konseling pasangan bukan berarti hubungan harus diselamatkan.

Kadang-kadang proses konseling justru membantu pasangan memahami bahwa mereka membutuhkan arah yang berbeda.

Lalu, kapan hubungan memang sebaiknya diakhiri?

Tidak ada daftar universal yang bisa menentukan keputusan seseorang.

Namun, ada kondisi yang perlu dianggap jauh lebih serius daripada sekadar “hubungan sedang tidak romantis”.

Jika terdapat kekerasan fisik, ancaman, pemaksaan seksual, kontrol ekstrem, intimidasi, atau bentuk kekerasan dan pelecehan lainnya, fokus utamanya bukan lagi sekadar mencari tahu apakah kamu masih mencintai pasangan.

Fokus utamanya adalah keselamatan.

Dalam situasi seperti itu, jangan merasa bahwa kamu harus menunggu hubungan menjadi “cukup buruk” sebelum mencari bantuan.

Kamu berhak mendapatkan keamanan.

Selain itu, hubungan patut dievaluasi dengan serius ketika terdapat pola seperti:

penghinaan yang terus-menerus;
manipulasi;
kebohongan berulang;
pelanggaran batasan yang terus terjadi;
tidak adanya tanggung jawab setelah menyakiti pasangan;
ketidakmauan total untuk memperbaiki masalah;
atau hubungan yang secara konsisten menghancurkan kesehatan emosional salah satu pihak.

Namun sekali lagi, konteks sangat penting.

Satu kesalahan tidak sama dengan pola perilaku.

Satu pertengkaran tidak sama dengan hubungan yang penuh kekerasan.

Dan seseorang yang melakukan kesalahan tetapi benar-benar bertanggung jawab dan berubah tidak sama dengan seseorang yang terus mengulangi perilaku yang sama.

Bagaimana jika aku masih mencintainya?

Inilah bagian yang sering membuat keputusan menjadi begitu sulit.

Kamu mungkin membaca semua tanda tersebut dan tetap berkata:

“Tapi aku masih mencintainya.”

Itu mungkin benar.

Dan kamu tidak perlu menyangkalnya.

Perpisahan tidak selalu terjadi karena cinta sudah hilang.

Kadang-kadang orang berpisah karena menyadari bahwa cinta saja tidak cukup untuk menciptakan hubungan yang aman, sehat, dan saling menghargai.

Kamu dapat mencintai seseorang dan tetap menetapkan batas.

Kamu dapat merindukan seseorang dan tetap memilih pergi.

Kamu dapat mengingat masa-masa indah dan tetap mengakui bahwa hubungan tersebut tidak lagi baik untukmu.

Perasaan dan keputusan adalah dua hal yang berbeda.

Perasaan tidak selalu bisa kita pilih.

Tetapi kita masih bisa mempertimbangkan bagaimana kita ingin menjalani hidup.

Jangan hanya bertanya “Haruskah aku putus?”

Ada pertanyaan yang mungkin jauh lebih membantu:

“Jika aku tidak takut kehilangan dia, apa yang sebenarnya akan kupilih?”

Lalu:

“Jika aku tahu aku akan baik-baik saja setelah hubungan ini berakhir, apakah aku masih ingin bertahan?”

Dan:

“Jika pasangan ini tidak berubah sama sekali, apakah aku tetap memilih kehidupan seperti ini?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk memaksamu mengakhiri hubungan.

Justru sebaliknya.

Tujuannya adalah membantu menghilangkan sebagian kebisingan yang sering membuat kita sulit mendengar suara diri sendiri.

Kadang jawabannya adalah:

“Aku masih ingin memperjuangkan hubungan ini.”

Dan itu keputusan yang valid.

Mungkin setelah mengevaluasi semuanya, kamu menyadari bahwa hubungan kalian sebenarnya masih memiliki fondasi yang baik.

Masalahnya nyata, tetapi bisa diperbaiki.

Kalian masih memiliki rasa hormat.

Masih ada komunikasi.

Masih ada kemauan untuk berubah.

Kalau begitu, mungkin yang dibutuhkan bukan perpisahan, melainkan cara baru untuk menjalani hubungan tersebut.

Namun, mungkin juga jawabannya berbeda.

Kamu menyadari bahwa selama ini kamu bertahan bukan karena hubungan itu masih baik, tetapi karena takut memulai kembali.

Kamu menyadari bahwa kamu terus berharap pada versi pasangan yang belum pernah benar-benar muncul.

Kamu menyadari bahwa kamu sudah terlalu lama mengabaikan kebutuhanmu sendiri.

Dan mungkin saat itulah pertanyaan berubah dari:

“Bagaimana caranya agar hubungan ini bertahan?”

menjadi:

“Bagaimana caranya agar aku bisa menjalani hidup dengan lebih sehat?”

Kejelasan tidak selalu datang dalam bentuk jawaban “bertahan” atau “berpisah”

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang hubungan adalah bahwa kita harus segera mendapatkan jawaban yang pasti.

Padahal kejelasan sering kali muncul secara bertahap.

Kamu mulai memahami pola.

Kamu mulai mengenali kebutuhanmu.

Kamu mulai melihat perilaku pasangan secara lebih objektif.

Kamu mulai membedakan cinta dari ketakutan.

Kamu mulai memahami batasanmu.

Dan perlahan, keputusan menjadi lebih jelas.

Jadi, jika saat ini kamu sedang bertanya apakah hubunganmu harus berakhir, mungkin kamu tidak perlu langsung memaksa dirimu menemukan jawabannya hari ini.

Mulailah dengan tujuh langkah:

Lihat pola hubungan, bukan hanya satu kejadian.
Perhatikan bagaimana hubungan memengaruhi dirimu.
Nilai apakah kedua pihak mau memperbaiki masalah.
Bedakan cinta dari rasa takut kehilangan.
Periksa kecocokan nilai dan arah hidup.
Jangan membuat keputusan besar hanya dari emosi sesaat.
Cari perspektif yang sehat dari orang tepercaya atau profesional.

Pada akhirnya, tujuan dari semua proses ini bukan sekadar mempertahankan hubungan.

Tujuannya adalah membuat keputusan yang lebih sadar.

Karena hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah mengalami masalah.

Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana dua orang dapat menghadapi masalah tanpa kehilangan rasa aman, rasa hormat, kebebasan, dan martabat masing-masing.

Dan jika suatu hari kamu menyadari bahwa hubungan itu memang harus berakhir, mengakhiri hubungan bukan berarti semua kenangan menjadi tidak berarti.

Begitu pula jika kamu memutuskan untuk bertahan, bertahan bukan berarti kamu harus menerima semuanya tanpa perubahan.

Yang paling penting bukan sekadar apakah hubunganmu bertahan atau berakhir.

Yang lebih penting adalah apakah keputusanmu lahir dari kesadaran—bukan semata-mata dari ketakutan.

Karena terkadang, mendapatkan kejelasan bukan tentang menemukan jawaban yang paling nyaman.

Melainkan tentang berani melihat kenyataan sebagaimana adanya.***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore