Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 September 2026 | 12.46 WIB

7 Alasan Mengapa Kita Kerap Mempercayai Orang yang Salah di Tempat Kerja Menurut Psikologi

seseorang yang mempercayai orang yang salah. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Di tempat kerja, kemampuan mempercayai orang lain merupakan sesuatu yang hampir tidak bisa dihindari. Kita harus bekerja dalam tim, berbagi informasi, memberikan tanggung jawab, meminta bantuan, bahkan terkadang menceritakan persoalan pribadi kepada rekan kerja yang dianggap dekat.


Masalahnya, tidak semua orang yang terlihat baik benar-benar dapat dipercaya.

Ada orang yang tampak ramah tetapi ternyata gemar memanfaatkan kelemahan orang lain. Ada yang terlihat sangat suportif di depan kita, tetapi diam-diam menyampaikan cerita berbeda kepada orang lain. Ada pula orang yang pandai membuat kita merasa dihargai, sehingga tanpa sadar kita memberikan kepercayaan jauh lebih besar daripada yang seharusnya.

Menariknya, mempercayai orang yang salah tidak selalu berarti kita naif atau kurang cerdas. Dalam banyak kasus, ada mekanisme psikologis yang membuat manusia memang cenderung mudah percaya kepada orang tertentu.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (8/9), terdapat tujuh alasan mengapa kita kerap mempercayai orang yang salah di tempat kerja menurut psikologi.

1. Kita Mudah Tertarik pada Orang yang Terasa Familiar

Salah satu alasan kita mudah percaya kepada seseorang adalah karena orang tersebut terasa familiar.

Dalam psikologi, manusia cenderung memiliki preferensi terhadap sesuatu yang sudah dikenal. Kita merasa lebih nyaman dengan orang yang memiliki cara bicara, kebiasaan, latar belakang, minat, atau bahkan gaya berpikir yang mirip dengan kita.

Di lingkungan kerja, mekanisme ini bisa muncul dalam bentuk sederhana.

Misalnya, kita menemukan rekan kerja yang ternyata memiliki selera humor yang sama. Ia menyukai jenis film yang sama, memiliki pandangan yang mirip mengenai pekerjaan, atau sering mengeluhkan masalah kantor yang juga kita rasakan.

Perasaan "kita sama" kemudian membuat kita merasa lebih dekat.

Masalahnya, kesamaan belum tentu menunjukkan karakter.

Seseorang bisa memiliki selera, pendapat, atau pengalaman yang sama dengan kita, tetapi tetap memiliki nilai dan kepentingan yang sangat berbeda.

Ketika rasa familiar berubah menjadi rasa percaya, kita terkadang berhenti melakukan evaluasi secara objektif.

Kita mulai berpikir:

"Dia seperti saya. Berarti dia pasti bisa dipercaya."

Padahal, kesamaan hanyalah kesamaan. Ia bukan bukti bahwa seseorang memiliki integritas.

Inilah salah satu jebakan psikologis yang membuat kita dapat memberikan kepercayaan terlalu cepat.

Karena itu, di tempat kerja penting untuk membedakan antara merasa nyaman dengan seseorang dan memiliki alasan yang cukup untuk mempercayainya.

Keduanya tidak selalu sama.

2. Kita Sering Tertipu oleh Kesan Pertama

Manusia sering membuat penilaian terhadap orang lain dalam waktu yang sangat singkat.

Ketika bertemu rekan kerja baru, kita secara otomatis memperhatikan cara berbicara, ekspresi wajah, pakaian, bahasa tubuh, tingkat kepercayaan diri, dan cara orang tersebut memperlakukan kita.

Dari informasi yang sangat terbatas itu, otak kemudian membuat kesimpulan mengenai karakter seseorang.

"Dia kelihatannya profesional."

"Dia sopan."

"Dia percaya diri."

"Dia sepertinya orang baik."

Masalahnya, kesan pertama tidak selalu akurat.

Seseorang yang percaya diri belum tentu kompeten. Seseorang yang ramah belum tentu tulus. Seseorang yang pandai berkomunikasi belum tentu memiliki integritas tinggi.

Sebaliknya, orang yang pendiam atau kurang pandai berbicara belum tentu tidak dapat dipercaya.

Kita sering kali memberikan terlalu banyak bobot pada karakteristik yang mudah terlihat, sementara mengabaikan hal-hal yang jauh lebih penting tetapi membutuhkan waktu untuk diamati.

Misalnya, bagaimana seseorang bertindak ketika menghadapi tekanan.

Bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki kekuasaan.

Bagaimana ia merespons ketika melakukan kesalahan.

Apakah ia mengakui kesalahannya atau mencari kambing hitam.

Apakah ia menjaga rahasia ketika tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh darinya.

Karakter seseorang biasanya lebih terlihat dari pola perilaku daripada dari penampilan atau kemampuan berbicara.

Karena itu, salah satu cara menghindari kesalahan dalam memberikan kepercayaan adalah dengan memberikan waktu kepada seseorang untuk menunjukkan konsistensinya.

Jangan hanya bertanya, "Apakah orang ini terlihat baik?"

Tanyakan juga:

"Apakah perilakunya konsisten dengan citra baik yang ia tunjukkan?"

3. Kita Mengalami Confirmation Bias

Alasan berikutnya berkaitan dengan salah satu kecenderungan psikologis yang sangat kuat: confirmation bias.

Confirmation bias adalah kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki dan mengabaikan atau mengecilkan informasi yang bertentangan dengannya.

Contohnya, sejak awal kita sudah menganggap seorang rekan kerja sebagai orang baik.

Ketika ia membantu kita menyelesaikan pekerjaan, kita menganggapnya sebagai bukti bahwa penilaian kita benar.

Ketika ia membela kita dalam sebuah rapat, kita semakin yakin bahwa ia memang teman yang dapat dipercaya.

Namun suatu hari ia mulai menyebarkan informasi tentang kita kepada orang lain.

Kita mungkin berkata:

"Mungkin dia tidak bermaksud buruk."

Ketika orang lain memperingatkan kita tentang perilakunya, kita mungkin menjawab:

"Ah, sebenarnya dia baik kok."

Mengapa?

Karena kita sudah memiliki gambaran tertentu mengenai dirinya.

Otak kita kemudian berusaha mempertahankan gambaran tersebut.

Ini membuat tanda-tanda peringatan menjadi kurang terlihat.

Ironisnya, semakin banyak investasi emosional yang kita berikan kepada seseorang, semakin sulit bagi kita untuk menerima kemungkinan bahwa penilaian kita mungkin salah.

Kita tidak hanya mempertahankan kepercayaan kepada orang tersebut.

Kita juga secara tidak sadar mempertahankan keyakinan bahwa kita sendiri tidak salah dalam memilihnya.

Karena itu, kemampuan untuk mengevaluasi kembali seseorang merupakan bagian penting dari kedewasaan profesional.

Mengubah penilaian bukan berarti kita bodoh.

Justru sebaliknya.

Kadang-kadang, mampu mengatakan "ternyata saya salah menilai orang ini" merupakan tanda bahwa kita mampu berpikir secara objektif.

4. Kita Mudah Terpengaruh oleh Orang yang Pandai Membuat Kita Merasa Dihargai

Ada orang yang sangat pandai membangun hubungan interpersonal.

Mereka tahu bagaimana membuat orang lain merasa didengar, dihargai, dan penting.

Mereka mungkin sering memberikan pujian.

"Kamu satu-satunya orang yang benar-benar bisa saya percaya."

"Saya suka cara kamu bekerja."

"Kalau semua orang di sini seperti kamu, pekerjaan pasti lebih mudah."

Kalimat-kalimat seperti itu bisa membuat kita merasa memiliki hubungan khusus.

Secara psikologis, manusia memang memiliki kebutuhan untuk diterima dan dihargai.

Ketika seseorang memenuhi kebutuhan tersebut, kita cenderung memiliki perasaan positif terhadapnya.

Masalah muncul ketika perasaan positif itu kemudian diterjemahkan menjadi kepercayaan.

Kita mulai memberikan informasi yang seharusnya tidak perlu dibagikan.

Kita membela orang tersebut ketika dikritik.

Kita memberikan kesempatan lebih besar kepadanya.

Bahkan terkadang kita mengabaikan perilaku buruknya karena merasa memiliki hubungan personal.

Padahal, orang yang pandai membuat kita merasa nyaman belum tentu orang yang memiliki niat terbaik terhadap kita.

Ada perbedaan antara kemampuan membangun hubungan dan integritas.

Seseorang bisa sangat karismatik sekaligus tidak dapat dipercaya.

Karena itu, pujian sebaiknya tidak dijadikan bukti karakter.

Lebih baik memperhatikan apa yang dilakukan seseorang ketika ia tidak sedang berusaha mendapatkan sesuatu dari kita.

Di situlah karakter biasanya lebih terlihat.

5. Kita Mengira Orang Lain Berpikir Seperti Kita

Manusia sering menggunakan dirinya sendiri sebagai standar untuk memahami orang lain.

Jika kita adalah tipe orang yang memegang janji, kita cenderung berasumsi bahwa orang lain juga akan memegang janji.

Jika kita tidak suka membicarakan keburukan orang lain, kita mungkin berasumsi bahwa rekan kerja kita juga tidak akan membicarakan keburukan kita.

Jika kita tidak akan menggunakan informasi pribadi seseorang untuk keuntungan pribadi, kita mungkin menganggap orang lain juga memiliki batas moral yang sama.

Inilah yang membuat orang baik terkadang menjadi sangat mudah percaya.

Bukan karena mereka tidak memahami dunia.

Melainkan karena mereka mengira standar moral yang mereka gunakan juga digunakan oleh orang lain.

Padahal setiap orang memiliki nilai, kepentingan, batasan, dan motivasi yang berbeda.

Di tempat kerja, perbedaan ini menjadi sangat penting.

Dua orang bisa terlihat sangat akrab ketika situasi berjalan normal. Namun ketika muncul promosi, bonus, jabatan, pengakuan, atau konflik kepentingan, perilaku mereka bisa berubah.

Karena itu, jangan hanya menilai seseorang berdasarkan bagaimana ia memperlakukan kita ketika tidak ada sesuatu yang dipertaruhkan.

Perhatikan bagaimana ia bertindak ketika kepentingannya bertabrakan dengan kepentingan orang lain.

Di situlah kita sering mendapatkan informasi yang jauh lebih berharga mengenai karakter seseorang.

6. Kita Terlalu Cepat Memberikan Kepercayaan karena Ingin Membangun Hubungan

Hubungan profesional tidak akan berkembang tanpa kepercayaan.

Karena itu, kita memang perlu mempercayai orang lain sampai batas tertentu.

Namun ada perbedaan antara memberikan kepercayaan secara bertahap dan memberikan kepercayaan secara penuh sejak awal.

Ketika masuk ke lingkungan kerja baru, misalnya, kita mungkin ingin segera memiliki teman.

Kita kemudian terbuka mengenai kehidupan pribadi, menceritakan masalah dengan atasan, membicarakan rekan kerja lain, atau membagikan informasi yang sebenarnya belum perlu diketahui orang tersebut.

Kita melakukan semua itu karena ingin menciptakan kedekatan.

Masalahnya, kedekatan emosional dapat berkembang lebih cepat daripada pengetahuan kita mengenai karakter seseorang.

Kita mungkin merasa sudah dekat dengannya setelah beberapa minggu bekerja bersama.

Padahal kita belum pernah melihat bagaimana ia bertindak ketika menghadapi konflik, kegagalan, tekanan, atau kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari kelemahan orang lain.

Kepercayaan yang sehat seharusnya memiliki proses.

Kita bisa memulainya dari hal kecil.

Berikan tanggung jawab kecil.

Bagikan informasi yang tidak terlalu sensitif.

Lihat apakah ia konsisten.

Amati apakah ia menghormati batasan.

Kemudian, jika ia terus menunjukkan perilaku yang dapat dipercaya, tingkatkan kepercayaan secara perlahan.

Dengan cara ini, kepercayaan menjadi sesuatu yang dibangun berdasarkan bukti, bukan sekadar perasaan.

7. Kita Sulit Menerima Kenyataan bahwa Penilaian Kita Bisa Salah

Ini mungkin alasan yang paling menyakitkan.

Terkadang kita sudah mengetahui bahwa seseorang tidak layak dipercaya.

Kita sudah melihat tanda-tandanya.

Kita sudah mendapatkan peringatan dari orang lain.

Bahkan kita mungkin sudah mengalami sendiri perilaku yang mengecewakan.

Tetapi kita tetap mempertahankan hubungan tersebut.

Mengapa?

Karena mengakui bahwa kita salah mempercayai seseorang dapat terasa seperti mengakui bahwa kita sendiri telah melakukan kesalahan.

Kita mungkin berpikir:

"Padahal selama ini saya menganggap dia teman."

"Saya sudah banyak membantu dia."

"Saya sudah percaya kepadanya."

"Masa selama ini saya salah menilai?"

Ada pula efek dari investasi sebelumnya.

Semakin banyak waktu, energi, emosi, dan bantuan yang sudah kita berikan kepada seseorang, semakin sulit rasanya untuk mengambil jarak.

Kita berharap hubungan itu kembali seperti sebelumnya.

Akhirnya, kita bukan lagi mempertahankan orangnya.

Kita mempertahankan versi dirinya yang pernah kita percaya.

Padahal seseorang boleh saja berubah.

Dan penilaian kita juga boleh berubah.

Dalam kehidupan profesional, kemampuan untuk memperbarui penilaian berdasarkan bukti merupakan sesuatu yang sangat penting.

Kita tidak perlu membenci seseorang hanya karena berhenti mempercayainya.

Kita juga tidak perlu menciptakan konflik.

Terkadang yang diperlukan hanyalah mengubah tingkat akses.

Tetap profesional.

Tetap sopan.

Tetapi tidak lagi memberikan informasi, tanggung jawab, atau kepercayaan yang sama seperti sebelumnya.

Bagaimana Mengetahui Seseorang Layak Dipercaya?

Psikologi tidak memberikan cara sempurna untuk mengetahui apakah seseorang dapat dipercaya. Tidak ada metode yang bisa menjamin kita tidak akan pernah salah.

Namun ada beberapa prinsip sederhana yang dapat membantu.

1. Lihat konsistensi, bukan satu tindakan

Satu kebaikan tidak otomatis menunjukkan karakter yang baik.

Yang lebih penting adalah pola perilaku dalam jangka waktu tertentu.

2. Perhatikan bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan

Cara seseorang memperlakukan bawahan, staf pendukung, pegawai baru, atau orang yang tidak memiliki pengaruh terhadap kariernya dapat memberikan banyak informasi mengenai karakternya.

3. Perhatikan bagaimana ia menghadapi kesalahan

Orang yang dapat dipercaya tidak harus sempurna.

Justru yang penting adalah apakah ia mampu mengakui kesalahan, bertanggung jawab, dan memperbaikinya.

4. Jangan menganggap kedekatan sebagai bukti integritas

Teman kerja yang dekat belum tentu teman yang aman untuk semua hal.

Hubungan yang baik tetap membutuhkan batasan.

5. Uji kepercayaan secara bertahap

Tidak semua orang harus langsung mendapatkan akses penuh terhadap informasi, keputusan, atau kehidupan pribadi kita.

Kepercayaan dapat diberikan sedikit demi sedikit berdasarkan pengalaman.

Pada Akhirnya, Mempercayai Orang yang Salah Tidak Berarti Kita Bodoh

Salah mempercayai seseorang adalah pengalaman yang sangat manusiawi.

Kita semua memiliki kecenderungan psikologis yang dapat memengaruhi penilaian terhadap orang lain. Kita ingin melihat kebaikan. Kita ingin memiliki hubungan yang dekat. Kita ingin merasa aman bersama orang-orang di sekitar kita.

Itulah sebabnya terkadang kita melihat apa yang ingin kita lihat.

Namun pengalaman dikhianati atau dikecewakan dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki cara kita membangun kepercayaan.

Bukan berarti kita harus menjadi orang yang curiga kepada semua orang.

Justru sebaliknya.

Tujuannya adalah belajar menjadi terbuka tanpa menjadi ceroboh, ramah tanpa kehilangan batasan, dan percaya tanpa mengabaikan bukti.

Di tempat kerja, kita tidak membutuhkan kemampuan untuk mengetahui siapa yang baik dan siapa yang buruk sejak pertemuan pertama.

Yang jauh lebih penting adalah kemampuan untuk mengamati.

Perhatikan pola.

Berikan waktu.

Tetapkan batas.

Dan biarkan kepercayaan tumbuh sesuai dengan bukti yang diberikan seseorang.

Sebab pada akhirnya, orang yang benar-benar dapat dipercaya biasanya tidak perlu terlalu sibuk meyakinkan kita bahwa ia layak dipercaya.

Perilakunya yang konsisten akan menunjukkan jawabannya.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore