seseorang yang berusaha menjadi penulis yang lebih baik. (Magnific)
JawaPos.com - Menjadi penulis yang baik bukan hanya soal mampu merangkai kata-kata menjadi kalimat yang enak dibaca.
Lebih dari itu, menulis adalah kemampuan untuk mengamati, berpikir, merasakan, memilih, menyusun, dan menyampaikan sesuatu kepada orang lain dengan cara yang bermakna.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (8/9), semakin lama seseorang menulis, biasanya ia akan menyadari satu hal penting: kemampuan menulis tidak hanya dibentuk oleh seberapa sering kita menulis, tetapi juga oleh seberapa banyak kita belajar memahami tulisan yang baik.
Kita belajar dari tulisan orang lain. Kita mempelajari bagaimana sebuah ide dibangun, bagaimana sebuah cerita dimulai, bagaimana sebuah kalimat bisa terasa kuat, bagaimana sebuah paragraf mampu membuat pembaca terus melanjutkan halaman berikutnya.
Dan salah satu cara terbaik untuk belajar adalah membaca buku-buku yang memang membahas seni, kerajinan, dan proses di balik sebuah tulisan.
Kalau kamu sedang serius ingin meningkatkan kemampuan menulis—baik untuk menulis buku, artikel, esai, newsletter, konten, maupun cerita—enam buku berikut layak kamu baca dan, yang lebih penting, jadikan pegangan.
Bukan untuk dibaca sekali lalu disimpan di rak.
Baca perlahan. Tandai bagian pentingnya. Kembali lagi ketika tulisanmu terasa buntu. Dan sesekali, buka kembali ketika kamu merasa kemampuan menulismu tidak berkembang.
Karena buku tentang menulis yang baik sering kali tidak selesai dipelajari dalam satu kali baca.
1. On Writing — Stephen King
Kalau ada satu buku tentang menulis yang sangat layak dibaca oleh siapa pun yang ingin serius menjadi penulis, On Writing adalah salah satunya.
Stephen King tidak hanya berbicara tentang teori menulis. Ia membicarakan pengalaman nyata menjadi seorang penulis—tentang bagaimana ia belajar menulis, bagaimana ia menghadapi kegagalan, bagaimana ia membangun kebiasaan, dan bagaimana sebuah tulisan sebenarnya dikerjakan.
Salah satu pelajaran terbesar dari buku ini adalah bahwa menulis membutuhkan kerja keras yang konsisten.
Banyak orang ingin menjadi penulis, tetapi terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya menghasilkan tulisan yang sempurna.
Mereka menunggu inspirasi.
Menunggu mood.
Menunggu waktu yang tepat.
Menunggu ide yang luar biasa.
Padahal, penulis yang produktif biasanya memahami sesuatu yang sederhana: tulisan menjadi lebih baik karena ditulis.
Tidak ada jalan pintas untuk menggantikan proses tersebut.
Kamu bisa membaca seratus buku tentang teknik menulis. Kamu bisa menonton ratusan video tentang storytelling. Kamu bisa mengikuti berbagai kelas menulis.
Tetapi pada akhirnya, kamu tetap harus duduk dan menulis.
Kemudian membaca kembali tulisanmu.
Menyadari bahwa tulisan itu belum bagus.
Memperbaikinya.
Menulis lagi.
Dan mengulanginya.
Buku ini juga mengingatkan kita bahwa menulis yang baik tidak harus menggunakan bahasa yang rumit.
Justru sering kali, tulisan yang kuat adalah tulisan yang jelas, langsung, dan tidak berlebihan.
Jangan menggunakan kata yang sulit hanya untuk terlihat pintar.
Jangan membuat kalimat panjang ketika kalimat pendek sudah cukup.
Jangan menambahkan sesuatu hanya karena kamu merasa tulisanmu akan terlihat lebih "sastra".
Tugas seorang penulis bukan menunjukkan betapa banyak kata yang ia ketahui.
Tugasnya adalah membuat pembaca memahami sesuatu yang ingin ia sampaikan.
Kalau kamu ingin meningkatkan kemampuan menulis, jadikan buku ini sebagai pengingat bahwa menjadi penulis bukanlah tentang terlihat seperti seorang penulis.
Menjadi penulis berarti menulis.
2. Bird by Bird — Anne Lamott
Salah satu masalah terbesar seorang penulis bukan selalu kekurangan ide.
Sering kali masalahnya justru terlalu banyak berpikir.
Kita ingin tulisan pertama langsung bagus.
Kita ingin pembukaan langsung menarik.
Kita ingin setiap paragraf sempurna.
Akibatnya, sebelum satu halaman selesai, kita sudah menghabiskan banyak energi untuk mengoreksi kalimat pertama.
Bird by Bird mengajarkan sesuatu yang sangat penting: kerjakan sedikit demi sedikit.
Judul buku ini berasal dari sebuah cerita tentang saudara Anne Lamott yang ketika masih kecil mendapatkan tugas membuat laporan tentang burung.
Ia panik karena merasa harus mengerjakan semuanya sekaligus.
Kemudian ayahnya mengatakan, kurang lebih, "bird by bird."
Satu burung demi satu burung.
Pelajaran sederhana itu sebenarnya sangat relevan dengan dunia menulis.
Jangan berpikir tentang bagaimana menyelesaikan sebuah buku.
Pikirkan bagaimana menyelesaikan satu halaman.
Jangan berpikir bagaimana menulis seribu paragraf.
Tulis satu paragraf.
Jangan berpikir bagaimana membuat karya terbaik dalam hidupmu.
Tulis kalimat berikutnya.
Kemudian kalimat setelahnya.
Kemudian paragraf berikutnya.
Karena karya yang besar hampir selalu dibangun dari bagian-bagian kecil yang dikerjakan satu per satu.
Buku ini juga menarik karena membicarakan sisi emosional seorang penulis.
Rasa tidak percaya diri.
Takut tulisan kita buruk.
Takut dibandingkan dengan penulis lain.
Takut tidak ada yang membaca.
Takut ide kita tidak cukup bagus.
Semua itu adalah bagian dari proses.
Dan mungkin inilah salah satu pelajaran terpentingnya:
Kamu tidak harus merasa percaya diri untuk mulai menulis.
Kamu hanya perlu mulai.
Kepercayaan diri sering kali datang setelah kita bekerja, bukan sebelum kita bekerja.
3. The Elements of Style — William Strunk Jr. & E. B. White
Kalau dua buku sebelumnya banyak berbicara tentang proses dan mentalitas seorang penulis, buku ini membawa kita kembali ke dasar: bagaimana membuat tulisan menjadi jelas dan efektif.
The Elements of Style adalah buku yang relatif ringkas, tetapi justru karena itulah buku ini sangat berguna untuk dijadikan pegangan.
Penulis sering kali terjebak pada keinginan untuk membuat tulisannya terdengar pintar.
Padahal, tulisan yang bagus tidak selalu membutuhkan kalimat yang rumit.
Tulisan yang bagus membutuhkan kejelasan.
Apa yang ingin kamu katakan?
Kepada siapa kamu mengatakannya?
Mengapa pembaca perlu mengetahuinya?
Dan bagaimana kamu bisa menyampaikannya tanpa membuat pembaca bekerja terlalu keras untuk memahami maksudmu?
Itulah dasar yang sering dilupakan.
Coba perhatikan tulisan yang kamu buat.
Apakah ada kalimat yang sebenarnya bisa dipotong?
Apakah ada kata yang tidak diperlukan?
Apakah satu paragraf mencoba mengatakan terlalu banyak hal?
Apakah ada pengulangan?
Apakah pembaca harus membaca kalimatmu dua kali untuk memahami maksudnya?
Kalau iya, mungkin masalahnya bukan pada pembaca.
Mungkin tulisanmu yang perlu diperbaiki.
Salah satu kebiasaan terbaik yang bisa kamu bangun dari buku ini adalah belajar mengedit.
Menulis dan mengedit adalah dua aktivitas yang berbeda.
Saat menulis, biarkan pikiranmu bergerak.
Saat mengedit, jadilah lebih kejam.
Potong kalimat yang tidak perlu.
Buang kata yang hanya menjadi hiasan.
Sederhanakan bagian yang rumit.
Perjelas bagian yang membingungkan.
Kadang-kadang, membuat tulisan lebih baik bukan dengan menambahkan sesuatu.
Tetapi dengan menghilangkan sesuatu.
4. The War of Art — Steven Pressfield
Ada satu musuh yang sering kali jauh lebih berbahaya bagi seorang penulis daripada kurangnya kemampuan.
Namanya: resistance.
Rasa malas.
Prokrastinasi.
Takut gagal.
Takut dinilai.
Terlalu banyak riset.
Terlalu banyak merencanakan.
Terlalu sibuk memperbaiki hal-hal kecil.
Dan berbagai alasan lain yang membuat kita tidak pernah benar-benar mengerjakan sesuatu.
Dalam The War of Art, Steven Pressfield membahas perlawanan semacam ini secara mendalam.
Dan konsepnya sangat relevan bagi siapa pun yang ingin menjadi kreator.
Kadang-kadang kita mengira bahwa kita belum menulis karena belum mendapatkan inspirasi.
Padahal sebenarnya kita takut.
Takut tulisan kita jelek.
Takut tidak ada yang suka.
Takut dibandingkan.
Takut gagal.
Atau bahkan takut berhasil.
Akibatnya, kita melakukan apa saja selain menulis.
Membuka media sosial.
Merapikan meja.
Membaca artikel tentang menulis.
Menonton video tentang produktivitas.
Membuat daftar ide.
Membeli notebook baru.
Membuat jadwal.
Semuanya terasa produktif.
Kecuali satu hal:
menulis.
Buku ini bisa menjadi pengingat bahwa pekerjaan kreatif membutuhkan disiplin.
Tidak setiap hari kita akan merasa bersemangat.
Tidak setiap hari kita memiliki ide bagus.
Tidak setiap hari kita merasa percaya diri.
Tetapi seorang profesional tetap datang dan mengerjakan pekerjaannya.
Itulah mentalitas yang perlu dibangun.
Bukan menunggu motivasi.
Tetapi membangun kebiasaan.
Bukan menunggu mood.
Tetapi membuat waktu untuk bekerja.
Bukan bertanya, "Apakah hari ini saya merasa ingin menulis?"
Melainkan:
"Apa yang harus saya tulis hari ini?"
5. Steering the Craft — Ursula K. Le Guin
Kalau kamu ingin benar-benar memahami kerajinan menulis, jangan lewatkan buku ini.
Ursula K. Le Guin tidak memperlakukan menulis sebagai sesuatu yang sepenuhnya mistis.
Menulis adalah craft.
Ada tekniknya.
Ada latihan yang bisa dilakukan.
Ada pilihan-pilihan yang bisa dipahami.
Dan semakin kamu memahami teknik tersebut, semakin banyak pilihan yang bisa kamu gunakan ketika menulis.
Salah satu hal menarik dari buku ini adalah bagaimana Le Guin mengajak penulis memperhatikan hal-hal yang sering dianggap sepele:
ritme kalimat,
sudut pandang,
suara,
diksi,
struktur,
jarak antara penulis dan pembaca,
serta bagaimana perubahan kecil dalam bahasa dapat mengubah pengalaman pembaca.
Ini penting.
Karena dua penulis bisa memiliki ide yang sama persis, tetapi menghasilkan tulisan yang sama sekali berbeda.
Perbedaannya ada pada cara menyampaikan.
Seorang penulis yang semakin matang biasanya mulai menyadari bahwa setiap keputusan kecil memiliki konsekuensi.
Kalimat pendek terasa berbeda dari kalimat panjang.
Sudut pandang orang pertama terasa berbeda dari orang ketiga.
Kata tertentu menciptakan suasana tertentu.
Ritme tertentu membuat pembaca bergerak lebih cepat atau lebih lambat.
Dengan memahami hal-hal semacam ini, kamu tidak lagi sekadar "menulis apa yang ada di kepala".
Kamu mulai mengendalikan pengalaman pembaca.
Dan di situlah craft menjadi penting.
6. The Creative Act: A Way of Being — Rick Rubin
Buku terakhir ini sedikit berbeda.
Kalau buku-buku sebelumnya banyak membahas teknik dan proses, The Creative Act lebih banyak berbicara tentang cara melihat dunia sebagai seorang kreator.
Rick Rubin dikenal sebagai produser musik yang bekerja dengan banyak musisi besar.
Namun buku ini sebenarnya tidak hanya relevan untuk musisi.
Ia relevan untuk penulis, fotografer, pembuat film, desainer, seniman, dan siapa pun yang bekerja dengan ide.
Salah satu gagasan pentingnya adalah tentang perhatian.
Seorang kreator perlu belajar memperhatikan.
Memperhatikan sesuatu yang mungkin dilewatkan orang lain.
Percakapan kecil.
Perubahan suasana.
Pengalaman sehari-hari.
Perasaan yang sulit dijelaskan.
Hal-hal yang terlihat biasa.
Karena ide sering kali tidak muncul dari ruang kosong.
Ide muncul ketika kita cukup peka untuk menyadari sesuatu yang sebenarnya sudah ada di sekitar kita.
Ini adalah kemampuan yang sangat penting bagi seorang penulis.
Penulis yang baik biasanya bukan hanya orang yang pandai menggunakan kata-kata.
Ia adalah orang yang memperhatikan kehidupan.
Ia melihat sesuatu.
Kemudian bertanya:
"Kenapa ini menarik?"
"Kenapa orang bertindak seperti itu?"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Bagaimana kalau dilihat dari sudut pandang yang berbeda?"
Dari situlah tulisan sering kali bermula.
Jadi, kalau kamu ingin menjadi penulis yang lebih baik, jangan hanya membaca buku tentang menulis.
Belajarlah membaca kehidupan.
Perhatikan manusia.
Perhatikan percakapan.
Perhatikan dirimu sendiri.
Perhatikan hal-hal kecil.
Karena semakin tajam pengamatanmu, semakin banyak bahan yang bisa kamu bawa ke dalam tulisan.
Keenam buku ini sebenarnya mengajarkan enam hal yang berbeda
Kalau disederhanakan, enam buku tersebut bisa kamu jadikan semacam peta perjalanan.
Stephen King mengajarkanmu untuk menulis dan membangun kebiasaan.
Anne Lamott mengajarkanmu untuk mengerjakan tulisan sedikit demi sedikit.
Strunk & White mengajarkanmu untuk membuat tulisan lebih jelas dan efektif.
Steven Pressfield mengajarkanmu untuk melawan rasa malas dan berbagai bentuk resistance.
Ursula K. Le Guin mengajarkanmu bahwa menulis adalah craft yang bisa dilatih.
Dan Rick Rubin mengajarkanmu untuk mempertajam kepekaan sebagai seorang kreator.
Kalau keenamnya digabungkan, ada sebuah prinsip sederhana yang muncul:
Menulis dengan baik membutuhkan kebiasaan, kejelasan, disiplin, teknik, dan kepekaan.
Tidak cukup hanya punya bakat.
Tidak cukup hanya punya banyak ide.
Tidak cukup hanya membaca.
Dan tidak cukup hanya menulis sesekali ketika sedang mendapatkan inspirasi.
Tapi jangan berhenti pada membaca
Ini bagian yang paling penting.
Jangan menjadikan enam buku ini sebagai koleksi buku yang terlihat keren di rak.
Jangan membaca semuanya, menandai banyak halaman, kemudian merasa sudah menjadi penulis yang lebih baik.
Pengetahuan tentang menulis baru berguna ketika masuk ke dalam praktik.
Setelah membaca satu bab, coba menulis.
Setelah memahami satu teknik, coba gunakan.
Setelah menemukan prinsip yang menarik, perhatikan apakah prinsip tersebut bekerja dalam tulisanmu.
Dan setelah selesai menulis, jangan langsung merasa selesai.
Baca ulang.
Edit.
Potong.
Tulis kembali.
Lakukan lagi.
Karena pada akhirnya, seorang penulis tidak dibentuk oleh satu buku.
Ia dibentuk oleh ribuan keputusan kecil yang dibuat selama bertahun-tahun.
Setiap kalimat yang ia tulis.
Setiap paragraf yang ia hapus.
Setiap buku yang ia baca.
Setiap tulisan buruk yang pernah ia hasilkan.
Setiap kritik yang ia terima.
Setiap kali ia memilih untuk duduk dan menulis meskipun tidak sedang merasa terinspirasi.
Semua itu membentuk kemampuan.
Jadi, kalau kamu benar-benar ingin menjadi penulis yang jauh lebih baik dari sekarang, baca keenam buku ini.
Tapi jangan hanya membaca.
Jadikan mereka pegangan.
Buka ketika kamu kehilangan arah.
Buka ketika tulisanmu terasa berantakan.
Buka ketika kamu sedang malas.
Buka ketika kamu merasa tidak cukup bagus.
Dan setelah itu, tutup bukunya.
Duduk.
Buka dokumen kosong.
Lalu tulis.
Karena pada akhirnya, tidak ada buku tentang menulis yang bisa menggantikan satu hal:
kamu sendiri yang harus menulis.***