seseorang yang menjadi penulis terkenal / foto: Magnific/andreas
Banyak orang bisa menulis. Banyak orang bisa membuat kalimat yang terdengar cerdas. Banyak pula yang mampu menghasilkan tulisan setiap hari.
Namun, tidak semua tulisan mampu membuat orang berhenti membaca.
Tidak semua tulisan membuat seseorang merasa, “Ini seperti sedang membicarakan hidup saya.”
Dan tidak semua penulis mampu membangun pembaca yang kembali lagi, membaca tulisan berikutnya, lalu merekomendasikannya kepada orang lain.
Di situlah perbedaan antara sekadar menulis dan menjadi penulis yang berpengaruh.
Menariknya, kemampuan tersebut tidak selalu membutuhkan bakat luar biasa. Banyak kebiasaan sederhana yang, jika dilakukan secara konsisten, dapat membantu seseorang menjadi penulis yang lebih tajam, lebih memahami pembaca, dan lebih mampu menyampaikan gagasan.
Psikologi juga memberi kita banyak petunjuk mengenai bagaimana manusia memperhatikan informasi, mengingat sesuatu, membangun kebiasaan, dan merespons cerita.
Karena itu, jika kamu ingin tulisanmu dibaca lebih banyak orang, jangan hanya bertanya:
“Bagaimana cara menulis dengan lebih bagus?”
Coba ubah pertanyaannya menjadi:
“Bagaimana saya bisa memahami manusia dengan lebih baik?”
Sebab pada akhirnya, tulisan yang kuat bukan hanya berbicara tentang kata-kata.
Tulisan yang kuat berbicara tentang manusia.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (16/9), terdapat tujuh kebiasaan sederhana yang bisa kamu lakukan setiap hari.
1. Baca sesuatu setiap hari, tetapi jangan hanya membaca tulisan yang kamu sukai
Penulis yang ingin berkembang harus menjadi pembaca yang rakus.
Bukan berarti kamu harus membaca satu buku setiap hari atau menghabiskan berjam-jam di perpustakaan.
Yang jauh lebih penting adalah membangun kebiasaan bertemu dengan gagasan baru setiap hari.
Bacalah buku, esai, artikel, biografi, laporan, wawancara, jurnal populer, atau tulisan dari penulis yang memiliki gaya berbeda denganmu.
Mengapa?
Karena membaca memperluas bahan mentah yang tersedia di dalam pikiran.
Seorang penulis tidak menciptakan sesuatu dari ruang kosong. Ia mengambil pengalaman, informasi, pengamatan, bahasa, dan gagasan yang pernah ditemuinya, lalu menghubungkannya dengan cara baru.
Semakin luas bacaanmu, semakin banyak kemungkinan hubungan antargagasan yang dapat kamu buat.
Tetapi ada satu kesalahan yang sering dilakukan calon penulis.
Mereka hanya membaca tulisan yang mereka sukai.
Jika menyukai psikologi, mereka hanya membaca psikologi.
Jika menyukai sastra, mereka hanya membaca sastra.
Jika menyukai bisnis, mereka hanya membaca bisnis.
Padahal, membaca lintas bidang justru bisa membuat tulisanmu lebih kaya.
Misalnya, membaca buku tentang psikologi bisa membantumu memahami perilaku manusia. Membaca sejarah bisa memberimu perspektif. Membaca sastra bisa mempertajam kepekaan terhadap bahasa. Membaca ilmu pengetahuan bisa mengajarkan cara menjelaskan sesuatu secara logis.
Jadi, jangan hanya bertanya:
“Apa yang ingin saya baca?”
Sesekali tanyakan:
“Apa yang belum saya pahami?”
Itulah jenis pertanyaan yang membuat seorang penulis terus berkembang.
Kebiasaan sederhana:
Setiap hari, luangkan setidaknya 20–30 menit untuk membaca.
Setelah selesai, tuliskan satu hal:
“Apa gagasan paling menarik yang saya temukan hari ini?”
Tidak perlu panjang.
Satu paragraf pun cukup.
Tujuannya bukan menghafal isi bacaan, tetapi melatih otak untuk menangkap dan mengolah gagasan.
2. Menulis setiap hari, bahkan ketika kamu merasa tidak punya ide
Banyak orang menunggu inspirasi sebelum menulis.
Masalahnya, inspirasi adalah tamu yang tidak selalu datang ketika kita membutuhkannya.
Hari ini kamu mungkin merasa sangat produktif.
Besok tidak tahu harus menulis apa.
Lusa merasa semua ide terdengar biasa.
Jika produktivitasmu bergantung sepenuhnya pada perasaan, proses menulismu akan mudah terhenti.
Karena itu, salah satu kebiasaan terpenting seorang penulis adalah menulis secara konsisten meskipun hasilnya belum sempurna.
Ini berkaitan dengan pembentukan kebiasaan.
Sebuah aktivitas akan semakin mudah dilakukan ketika dilakukan berulang kali dalam konteks yang relatif konsisten. Pada awalnya, menulis mungkin terasa membutuhkan energi besar. Namun dengan latihan yang terus-menerus, proses memulai dapat menjadi lebih otomatis.
Karena itu, jangan menetapkan target yang terlalu besar.
Kamu tidak harus selalu menghasilkan 3.000 kata.
Mulailah dengan 200 kata.
Atau 300 kata.
Bahkan 100 kata jika memang itu yang sanggup kamu lakukan hari itu.
Yang penting adalah menjaga hubunganmu dengan aktivitas menulis.
Ada hari ketika tulisanmu bagus.
Ada hari ketika tulisanmu biasa saja.
Ada hari ketika kamu bahkan merasa tulisanmu buruk.
Tetap tulis.
Sebab tujuan latihan harian bukan menghasilkan karya terbaik setiap hari.
Tujuannya adalah membuat kemampuan menulis terus bergerak.
Anggap saja seperti olahraga.
Kamu tidak pergi ke gym sekali lalu berharap tubuh berubah selamanya.
Menulis juga demikian.
Keterampilan dibangun melalui pengulangan.
Coba lakukan ini:
Buat satu aturan sederhana:
“Saya akan menulis minimal 15 menit setiap hari.”
Tidak boleh menunggu mood.
Tidak boleh menunggu suasana sempurna.
Tidak perlu menunggu ide yang luar biasa.
Duduklah dan mulai.
Sering kali, ide yang bagus justru muncul setelah kita mulai menulis, bukan sebelumnya.
3. Amati manusia lebih banyak daripada mengamati media sosial
Jika kamu ingin menulis sesuatu yang menyentuh manusia, kamu harus belajar mengamati manusia.
Perhatikan percakapan di sekitarmu.
Perhatikan bagaimana seseorang bereaksi ketika ditolak.
Perhatikan cara orang tua berbicara kepada anaknya.
Perhatikan ekspresi seseorang ketika menerima kabar baik.
Perhatikan bagaimana orang menghindari topik tertentu.
Perhatikan apa yang membuat seseorang tertawa.
Perhatikan apa yang membuat seseorang diam.
Semua itu adalah bahan tulisan.
Penulis yang baik tidak hanya mengumpulkan informasi.
Ia mengumpulkan pengamatan tentang kehidupan.
Ada perbedaan besar antara mengetahui bahwa seseorang merasa kesepian dan memahami seperti apa kesepian itu dalam kehidupan sehari-hari.
Kalimat:
“Banyak orang merasa kesepian.”
adalah sebuah pernyataan.
Tetapi ketika kamu menggambarkan seseorang yang pulang ke apartemen, membuka ponsel, melihat puluhan unggahan orang lain, lalu menyadari bahwa tidak ada satu pun orang yang benar-benar bisa ia hubungi malam itu, pembaca dapat merasakan gagasannya.
Itulah kekuatan observasi.
Tulisan yang kuat sering kali lahir dari hal-hal kecil.
Cara seseorang memegang cangkir.
Pesan yang tidak pernah dibalas.
Kursi kosong di meja makan.
Seseorang yang tersenyum ketika sebenarnya sedang kecewa.
Penulis harus belajar melihat hal-hal yang sering dilewatkan orang lain.
Latihan harian:
Setiap hari, catat tiga pengamatan.
Misalnya:
Seseorang terlihat gugup sebelum membuka pesan.
Seorang teman tertawa ketika membicarakan kegagalannya.
Seorang ibu terus memeriksa ponselnya saat menunggu anaknya pulang.
Jangan langsung mencari maknanya.
Cukup amati.
Setelah beberapa minggu, kamu akan memiliki bank pengamatan yang sangat berharga untuk tulisanmu.
4. Belajar memahami emosi pembaca, bukan hanya menyampaikan informasi
Tulisan yang informatif belum tentu menjadi tulisan yang berpengaruh.
Mengapa?
Karena manusia tidak memproses informasi seperti mesin.
Kita memiliki perhatian yang terbatas. Kita juga dipengaruhi oleh emosi, pengalaman, harapan, ketakutan, dan kebutuhan ketika membaca sesuatu.
Karena itu, seorang penulis perlu bertanya:
“Apa yang akan dirasakan pembaca setelah membaca bagian ini?”
Bukan berarti setiap tulisan harus dibuat dramatis.
Tidak.
Tulisan tentang cara menanam tanaman pun bisa terasa dekat jika penulis memahami kebutuhan pembacanya.
Misalnya, pembaca bukan hanya membutuhkan informasi tentang tanaman.
Mungkin ia ingin memiliki kegiatan yang membuat pikirannya lebih tenang.
Mungkin ia ingin merawat sesuatu.
Mungkin ia ingin membuat rumah terasa lebih hidup.
Informasi tetap penting.
Tetapi konteks manusia membuat informasi tersebut lebih bermakna.
Cobalah membayangkan satu orang ketika menulis.
Bukan “semua orang”.
Satu manusia.
Bayangkan masalahnya.
Apa yang sedang ia pikirkan?
Apa yang membuatnya khawatir?
Apa yang ia harapkan?
Apa yang mungkin membuatnya merasa dipahami?
Ketika kamu menulis dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, tulisanmu cenderung menjadi lebih manusiawi.
5. Jangan takut menulis dengan sederhana
Salah satu jebakan terbesar penulis adalah keinginan terlihat pintar.
Mereka menggunakan istilah yang rumit.
Kalimat dibuat panjang.
Ide sederhana dikemas dengan bahasa yang berbelit-belit.
Padahal, tulisan yang mudah dipahami bukan berarti tulisan yang bodoh.
Justru sebaliknya.
Sering kali dibutuhkan pemahaman yang cukup dalam untuk menjelaskan sesuatu yang rumit dengan bahasa sederhana.
Bandingkan dua cara berikut.
Versi pertama:
“Individu mengalami disonansi kognitif sebagai konsekuensi dari ketidaksesuaian antara sistem kepercayaan internal dan perilaku aktual.”
Versi kedua:
“Kadang kita merasa tidak nyaman karena tindakan kita bertentangan dengan apa yang kita percaya.”
Gagasan dasarnya serupa.
Tetapi versi kedua lebih mudah dicerna.
Penulis yang berpengaruh biasanya tidak berusaha membuat pembaca merasa bodoh.
Ia berusaha membuat pembaca merasa:
“Akhirnya saya mengerti.”
Itu adalah pengalaman yang sangat kuat.
Karena itu, setelah menulis satu paragraf, baca kembali dan tanyakan:
Apakah kalimat ini bisa dibuat lebih pendek?
Apakah ada kata yang sebenarnya tidak perlu?
Apakah istilah ini memang dibutuhkan?
Apakah orang awam akan memahami maksudnya?
Apakah saya sedang menjelaskan sesuatu atau sekadar berusaha terdengar pintar?
Sederhanakan.
Bukan karena pembacamu tidak mampu memahami bahasa sulit.
Tetapi karena perhatian pembaca adalah sesuatu yang berharga.
Jangan membuat mereka bekerja lebih keras daripada yang diperlukan.
6. Sisakan waktu setiap hari untuk berpikir tanpa gangguan
Menulis bukan hanya aktivitas mengetik.
Sebagian besar pekerjaan seorang penulis sebenarnya terjadi ketika ia tidak sedang menulis.
Saat berjalan.
Saat mandi.
Saat duduk sendirian.
Saat mengamati orang.
Saat membaca.
Saat memikirkan percakapan kemarin.
Sayangnya, kehidupan modern membuat kita jarang benar-benar memiliki ruang untuk berpikir.
Sedikit bosan, kita mengambil ponsel.
Sedikit menunggu, membuka media sosial.
Sedikit tidak nyaman, mencari hiburan.
Akibatnya, pikiran jarang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan sebuah gagasan secara mendalam.
Padahal, ide yang bagus sering membutuhkan waktu untuk matang.
Karena itu, cobalah menyediakan 10–20 menit setiap hari tanpa musik, tanpa video, tanpa media sosial, dan tanpa notifikasi.
Duduklah.
Berjalanlah.
Atau lihat ke luar jendela.
Biarkan pikiranmu bergerak.
Tanyakan:
“Apa yang sebenarnya saya pikirkan akhir-akhir ini?”
Mungkin awalnya terasa membosankan.
Tetapi jangan buru-buru menghilangkan kebosanan.
Kadang-kadang, ketika tidak ada lagi rangsangan dari luar, kita mulai mendengar gagasan yang selama ini tertutup oleh kebisingan.
Di sanalah banyak tulisan lahir.
7. Simpan semua ide, sekecil apa pun
Penulis yang produktif bukan selalu orang yang memiliki lebih banyak ide.
Sering kali mereka hanya memiliki sistem yang lebih baik untuk menangkap ide ketika ide tersebut muncul.
Ide bisa muncul kapan saja.
Saat sedang makan.
Saat naik kendaraan.
Saat membaca komentar seseorang.
Saat mendengar sebuah kalimat.
Saat mengalami kegagalan.
Saat melihat sesuatu yang aneh.
Masalahnya, ide yang tidak dicatat mudah hilang.
Karena itu, miliki satu tempat khusus untuk menyimpan ide.
Bisa berupa aplikasi catatan di ponsel, buku kecil, atau dokumen khusus.
Jangan menunggu ide tersebut sempurna.
Tuliskan saja.
Misalnya:
“Mengapa orang lebih takut gagal ketika semakin dekat dengan tujuan?”
Atau:
“Hal-hal kecil yang membuat seseorang merasa tidak dihargai.”
Atau:
“Kenapa kita sering merindukan masa lalu yang sebenarnya tidak ingin kita jalani lagi?”
Satu kalimat saja sudah cukup.
Setelah terkumpul, kamu akan memiliki gudang ide.
Ketika tiba waktunya menulis, kamu tidak lagi memulai dari halaman kosong.
Kamu memiliki puluhan pertanyaan, pengamatan, pengalaman, dan gagasan yang bisa dikembangkan.
Dan ini penting:
Jangan hanya menyimpan ide yang menurutmu bagus.
Simpan juga ide yang terasa aneh.
Kadang ide yang awalnya tampak sederhana justru berkembang menjadi tulisan yang paling menarik.
Namun Ada Satu Hal yang Lebih Penting dari Ketujuh Kebiasaan Ini
Membaca setiap hari penting.
Menulis setiap hari penting.
Mengamati manusia penting.
Mempelajari psikologi pembaca penting.
Tetapi ada satu hal yang sering dilupakan:
Kamu harus memiliki sesuatu yang benar-benar ingin kamu katakan.
Teknik dapat membuat tulisan menjadi lebih rapi.
Judul dapat membuat orang berhenti menggulir.
Kalimat pembuka dapat membuat orang penasaran.
Tetapi alasan seseorang bertahan membaca biasanya lebih dalam daripada teknik.
Mereka ingin menemukan sesuatu.
Sebuah gagasan.
Sebuah perasaan.
Sebuah perspektif.
Sebuah pengalaman yang selama ini tidak bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Karena itu, jangan terlalu terobsesi menjadi viral.
Jangan menjadikan jumlah pembaca sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Tanyakan juga:
“Apakah tulisan saya membuat seseorang melihat sesuatu dengan cara yang berbeda?”
Jika jawabannya ya, tulisanmu sudah memiliki nilai.
Mungkin awalnya hanya dibaca sepuluh orang.
Kemudian seratus.
Lalu seribu.
Pertumbuhan seperti itu sering kali terjadi secara perlahan.
Yang terpenting adalah kamu terus membangun kemampuan.
Rutinitas Sederhana 60 Menit untuk Calon Penulis Berpengaruh
Jika tujuh kebiasaan tadi terasa terlalu banyak, kamu bisa menggabungkannya menjadi rutinitas sederhana.
20 menit membaca
Pilih satu bahan bacaan berkualitas.
Jangan sekadar membaca.
Tandai ide yang menarik.
15 menit menulis
Tulis apa saja.
Tidak perlu dipublikasikan.
Tidak perlu sempurna.
Tujuannya melatih otot menulis.
10 menit mengamati
Berjalan sebentar atau duduk tanpa gangguan.
Perhatikan lingkungan.
Perhatikan manusia.
Perhatikan pikiranmu sendiri.
5 menit mencatat ide
Tuliskan semua gagasan yang muncul.
Tidak perlu menilai apakah ide itu bagus.
10 menit mengedit
Ambil tulisan lama.
Hapus kalimat yang tidak perlu.
Sederhanakan bahasa.
Perbaiki pembuka.
Perjelas satu gagasan.
Jika dilakukan setiap hari, rutinitas ini mungkin terlihat kecil.
Tetapi kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat menghasilkan perubahan yang jauh lebih besar daripada usaha besar yang hanya dilakukan sesekali.
Jangan Mengejar Menjadi Penulis yang Terkenal. Kejarlah Menjadi Penulis yang Berguna.
Ada perbedaan antara terkenal dan berpengaruh.
Seseorang bisa terkenal karena banyak orang mengenalnya.
Tetapi seseorang menjadi berpengaruh ketika gagasannya benar-benar memberikan sesuatu kepada orang lain.
Tulisan yang berpengaruh mungkin membuat seseorang berani mencoba.
Mungkin membuat seseorang memahami dirinya sendiri.
Mungkin membantu seseorang melihat masalah dari sudut pandang baru.
Mungkin membuat seseorang merasa tidak sendirian.
Dan sering kali, kita tidak pernah tahu dampak sebuah tulisan.
Satu paragraf yang kamu tulis dengan santai hari ini mungkin dibaca seseorang pada malam ketika ia sedang membutuhkan perspektif baru.
Satu kalimat yang menurutmu biasa saja mungkin menjadi kalimat yang terus diingat pembaca selama bertahun-tahun.
Itulah alasan mengapa menulis layak dilakukan dengan serius.
Bukan karena setiap tulisan harus menjadi mahakarya.
Tetapi karena kata-kata memiliki kemampuan untuk berpindah dari satu pikiran ke pikiran lain.
Dari satu manusia ke manusia lainnya.
Dan jika kamu ingin menjadi penulis yang dibaca banyak orang, mulailah dari hal yang paling sederhana:
Baca setiap hari.
Tulis setiap hari.
Amati manusia.
Pahami emosi pembaca.
Gunakan bahasa yang sederhana.
Berikan ruang bagi pikiranmu.
Dan catat semua ide yang datang.
Jangan menunggu sampai kamu merasa menjadi seorang penulis.
Menulislah terlebih dahulu.
Karena identitas seorang penulis tidak dibentuk oleh satu tulisan yang hebat.
Ia dibentuk oleh ribuan kali duduk, berpikir, membaca, mengamati, menulis, menghapus, memperbaiki, lalu mencoba lagi.
Mungkin tidak ada yang memperhatikan proses itu pada awalnya.
Tidak apa-apa.
Teruslah menulis.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor Parma vs Genoa di Liga Italia: Duel Tim Papan Bawah Berakhir Imbang
Prediksi Skor FC Twente vs PSV Eindhoven: Pemuncak Klasemen Berpeluang Pesta Gol

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022