Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Agustus 2026 | 23.48 WIB

Jika Anda Ingin Menghindari Konflik Besar dengan Pasangan, Pegang Erat 7 Kunci Ini Menurut Psikologi

seseorang yang menghindari konflik besar dengan pasangan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Dalam hubungan, konflik adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin dihindari.
 
Dua orang yang memiliki latar belakang, kebiasaan, pengalaman, cara berpikir, dan kebutuhan emosional berbeda tentu sesekali akan mengalami perbedaan pendapat. Bahkan pasangan yang terlihat sangat harmonis pun bisa bertengkar karena hal-hal sederhana: pesan yang tidak dibalas, pekerjaan rumah yang terasa tidak adil, masalah keuangan, keluarga, waktu bersama, kecemburuan, atau sekadar cara berbicara yang dianggap terlalu kasar.

Namun, perbedaan pendapat tidak selalu menjadi masalah besar.

Yang sering membuat konflik kecil berubah menjadi pertengkaran besar bukan semata-mata persoalannya, melainkan bagaimana kedua orang tersebut merespons ketika emosi mulai meningkat.

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa hubungan yang sehat bukanlah hubungan tanpa konflik. Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana pasangan mampu mengelola konflik tanpa menghancurkan rasa aman, kepercayaan, dan penghargaan satu sama lain.

Karena itu, jika Anda ingin menghindari konflik besar dengan pasangan, ada beberapa prinsip penting yang layak dipegang erat.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (27/8), terdapat tujuh kunci yang bisa membantu.

1. Jangan Membicarakan Masalah Saat Emosi Sedang Memuncak

Salah satu kesalahan terbesar dalam konflik hubungan adalah memaksakan penyelesaian ketika kedua pihak sedang sangat marah.

Ketika emosi meningkat, kemampuan seseorang untuk berpikir secara jernih dapat menurun. Kita menjadi lebih mudah menafsirkan ucapan pasangan sebagai serangan, lebih sulit mendengarkan, dan lebih terdorong untuk membela diri.

Pada kondisi seperti ini, percakapan yang awalnya hanya membahas satu masalah dapat melebar ke berbagai masalah lama.

Mulanya:

"Kenapa kamu tidak memberi kabar?"

Lalu berubah menjadi:

"Kamu memang dari dulu tidak pernah peduli."

Kemudian berkembang menjadi:

"Aku selalu melakukan semuanya sendiri."

Dan akhirnya, persoalan yang sebenarnya sederhana berubah menjadi pertengkaran besar tentang seluruh hubungan.

Karena itu, jeda bukan berarti melarikan diri dari masalah.

Jeda justru bisa menjadi bentuk pengendalian diri.

Jika Anda merasa suara mulai meninggi, jantung berdebar, tubuh tegang, atau keinginan untuk menyerang secara verbal semakin kuat, lebih baik berhenti sejenak.

Anda dapat mengatakan:

"Aku sedang terlalu emosi. Aku tidak ingin pembicaraan ini berubah menjadi saling menyakiti. Kita lanjutkan setelah sama-sama lebih tenang."

Kalimat seperti ini jauh lebih sehat daripada membanting pintu, menghilang tanpa penjelasan, atau terus berdebat sampai salah satu menyerah.

Yang penting, jeda harus memiliki niat untuk kembali membicarakan masalah, bukan menjadi hukuman diam.

2. Kritik Perilakunya, Bukan Menyerang Kepribadiannya

Ada perbedaan besar antara mengatakan:

"Aku kecewa karena kamu tidak memberi kabar."

dan:

"Kamu memang orang yang tidak pernah peduli."

Kalimat pertama membicarakan perilaku dan dampaknya terhadap perasaan Anda.

Kalimat kedua menyerang karakter pasangan.

Dalam konflik, serangan terhadap kepribadian sering membuat seseorang merasa dirinya sedang dihakimi. Akibatnya, pasangan cenderung membela diri daripada memahami masalah.

Perhatikan perbedaannya.

Serangan pribadi:

"Kamu egois."

Membicarakan perilaku:

"Aku merasa kebutuhan aku tidak dipertimbangkan ketika keputusan itu dibuat tanpa membicarakannya denganku."

Serangan pribadi:

"Kamu malas."

Membicarakan perilaku:

"Aku merasa kewalahan karena beberapa pekerjaan rumah akhirnya harus aku kerjakan sendiri."

Tujuannya bukan membuat bahasa menjadi terlalu formal.

Tujuannya adalah memisahkan manusia dari perilakunya.

Pasangan Anda mungkin melakukan sesuatu yang salah tanpa berarti seluruh dirinya buruk.

Begitu pula Anda.

Seseorang bisa melakukan kesalahan, tetapi kesalahan tersebut tidak otomatis mendefinisikan seluruh kepribadiannya.

Prinsip sederhana ini dapat mengubah arah sebuah pertengkaran.

Daripada bertanya:

"Ada apa dengan dirimu?"

Cobalah bertanya:

"Apa yang terjadi dalam situasi ini?"

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya bisa sangat besar.

3. Belajarlah Mendengarkan, Bukan Sekadar Menunggu Giliran Bicara

Banyak pasangan sebenarnya tidak sedang mendengarkan ketika konflik terjadi.

Mereka sedang menunggu kesempatan untuk menjawab.

Ketika pasangan berbicara, pikiran kita sudah sibuk mempersiapkan pembelaan:

"Tapi aku juga capek."

"Dia sendiri pernah melakukan hal yang sama."

"Aku punya alasan."

"Kalau dia tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia tidak akan bicara seperti itu."

Akibatnya, kita mendengar kata-kata pasangan, tetapi tidak benar-benar memahami maksud emosional di baliknya.

Padahal terkadang seseorang tidak sedang meminta solusi.

Ia hanya ingin merasa dipahami.

Misalnya pasangan berkata:

"Aku merasa sendirian akhir-akhir ini."

Respons yang defensif:

"Sendirian bagaimana? Aku kan setiap hari di rumah."

Respons yang lebih empatik:

"Berarti akhir-akhir ini kamu merasa aku kurang hadir buat kamu?"

Kalimat kedua tidak berarti Anda langsung mengakui bahwa pasangan benar dalam segala hal.

Anda hanya menunjukkan bahwa Anda berusaha memahami pengalaman emosionalnya.

Ini penting.

Memahami bukan berarti menyetujui.

Anda dapat memahami perasaan pasangan tanpa harus setuju dengan semua kesimpulannya.

Kebiasaan sederhana seperti mengulang inti ucapan pasangan juga bisa membantu:

"Jadi yang membuat kamu kecewa bukan hanya soal aku terlambat, tetapi karena kamu merasa aku tidak menganggap waktumu penting. Benar begitu?"

Pertanyaan seperti ini memberi kesempatan kepada pasangan untuk mengoreksi jika Anda salah memahami.

Dan sering kali, ketika seseorang merasa benar-benar didengar, intensitas emosinya mulai turun.

4. Jangan Mengumpulkan Kesalahan Lama sebagai "Amunisi"

Ada pasangan yang setiap kali bertengkar selalu membuka arsip kesalahan masa lalu.

Masalah hari ini belum selesai, tetapi tiba-tiba muncul:

"Kamu ingat waktu tiga tahun lalu kamu melakukan itu?"

Kemudian muncul masalah enam bulan lalu.

Lalu masalah tahun lalu.

Akhirnya, pasangan tidak lagi membicarakan satu persoalan. Mereka sedang mencoba memenangkan seluruh sejarah hubungan.

Kebiasaan ini berbahaya karena membuat konflik terasa tidak pernah selesai.

Jika setiap kesalahan dianggap dapat digunakan kembali kapan saja, seseorang akan merasa bahwa tidak ada gunanya meminta maaf atau memperbaiki diri.

Karena kesalahan tersebut tetap akan digunakan sebagai senjata di masa depan.

Bukan berarti masa lalu harus dilupakan begitu saja.

Jika ada luka yang belum selesai, tentu perlu dibicarakan pada waktu yang tepat.

Namun, jangan menggunakan masa lalu hanya untuk mengalahkan pasangan dalam pertengkaran saat ini.

Tanyakan kepada diri sendiri:

"Apakah masalah lama ini memang relevan untuk menyelesaikan persoalan sekarang, atau aku hanya sedang mencari sesuatu untuk membenarkan kemarahanku?"

Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi dapat menjadi rem yang sangat berguna.

5. Hindari Kata-Kata Absolut seperti "Selalu" dan "Tidak Pernah"

Kata-kata seperti selalu, tidak pernah, setiap kali, semuanya, tidak ada satu pun sering muncul ketika seseorang sedang marah.

Misalnya:

"Kamu selalu mengabaikanku."

"Kamu tidak pernah mendengarkan."

"Aku selalu sendirian dalam hubungan ini."

Masalahnya, kata-kata absolut membuat pasangan mudah menemukan satu contoh yang membantah pernyataan tersebut.

"Tidak pernah? Minggu lalu aku menemanimu."

Akhirnya percakapan berubah menjadi debat mengenai apakah kata "selalu" benar atau tidak.

Padahal inti perasaannya mungkin sebenarnya:

"Belakangan ini aku sering merasa tidak didengarkan."

Kalimat ini lebih spesifik.

Ia juga lebih mudah dibicarakan.

Alih-alih:

"Kamu selalu terlambat."

Cobalah:

"Aku kesal karena beberapa kali terakhir kita membuat janji, kamu datang terlambat dan aku merasa waktuku kurang dihargai."

Alih-alih:

"Kamu tidak pernah membantu."

Cobalah:

"Aku sedang kewalahan dan aku membutuhkan lebih banyak bantuan darimu."

Perubahan bahasa seperti ini dapat mengurangi kesan menyerang dan membuat pasangan lebih mudah memahami apa yang sebenarnya Anda butuhkan.

6. Ingat Bahwa Anda Berdua Bukan Musuh

Ini mungkin salah satu prinsip paling penting dalam hubungan.

Ketika konflik terjadi, mudah sekali muncul pola pikir:

Aku versus kamu.

Aku harus menang.

Kamu harus mengakui kesalahan.

Aku harus membuktikan bahwa aku benar.

Tetapi dalam hubungan yang sehat, konflik seharusnya lebih sering dipandang sebagai:

kita berdua menghadapi masalah.

Bukan:

aku menghadapi kamu.

Bayangkan pasangan sedang berhadapan dengan masalah keuangan.

Jika pendekatannya:

"Kamu boros."

maka pasangan kemungkinan akan membela diri.

Tetapi jika pendekatannya:

"Bagaimana kita bisa mengatur pengeluaran supaya bulan depan lebih aman?"

maka keduanya berada di sisi yang sama.

Masalahnya berada di depan mereka.

Bukan salah satu dari mereka.

Cara berpikir ini sangat penting karena tujuan konflik dalam hubungan bukanlah menentukan siapa yang paling hebat dalam berargumentasi.

Tujuannya adalah menemukan cara agar hubungan dan kedua orang di dalamnya dapat berjalan lebih baik.

Ada kalanya Anda benar.

Ada kalanya pasangan Anda benar.

Dan ada kalanya ternyata keduanya memiliki bagian yang perlu diperbaiki.

Hubungan bukan ruang sidang.

Pasangan bukan terdakwa.

Dan kemenangan dalam pertengkaran yang membuat pasangan merasa dihancurkan sebenarnya sering kali bukan kemenangan yang berarti.

7. Jangan Lupakan Kebaikan di Tengah Konflik

Ketika sedang marah, otak kita cenderung lebih mudah memperhatikan hal-hal yang membuat kita kesal.

Kesalahan kecil pasangan terlihat besar.

Kebaikan yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun seolah-olah menghilang dari ingatan.

Itulah mengapa konflik bisa membuat seseorang berpikir:

"Kenapa aku bersama orang seperti ini?"

Padahal beberapa jam sebelumnya, hubungan tersebut mungkin terasa baik-baik saja.

Karena itu, penting untuk tetap mempertahankan kebiasaan positif bahkan ketika sedang menghadapi perbedaan.

Ucapkan terima kasih.

Hargai usaha pasangan.

Berikan sentuhan atau pelukan jika keduanya nyaman.

Jangan biarkan satu konflik menghapus seluruh identitas hubungan.

Bahkan ketika Anda sedang membahas masalah serius, Anda tetap bisa menyampaikan:

"Aku sedang kecewa dengan kejadian ini, tetapi aku tidak membenci kamu."

Atau:

"Aku ingin kita menyelesaikan ini karena hubungan ini penting buat aku."

Kalimat sederhana seperti itu dapat mengingatkan kedua pihak bahwa di balik konflik terdapat hubungan yang sebenarnya ingin mereka pertahankan.

Konflik Bukan Selalu Tanda Hubungan yang Buruk

Ada anggapan bahwa pasangan yang benar-benar cocok seharusnya jarang bertengkar.

Tidak selalu demikian.

Dua orang dapat sangat mencintai satu sama lain dan tetap memiliki konflik.

Yang membedakan hubungan yang sehat dengan hubungan yang destruktif sering kali bukan apakah mereka bertengkar, tetapi bagaimana mereka bertengkar dan bagaimana mereka memperbaiki hubungan setelahnya.

Pasangan yang sehat bukan pasangan yang tidak pernah mengatakan hal yang salah.

Mereka adalah pasangan yang mau memperbaiki ketika menyadari telah menyakiti.

Mereka bisa mengatakan:

"Tadi cara bicaraku salah."

"Aku terlalu defensif."

"Aku seharusnya mendengarkan kamu lebih dulu."

"Maaf, aku tidak bermaksud membuat kamu merasa sendirian."

Permintaan maaf seperti ini bukan tanda kelemahan.

Justru dibutuhkan kedewasaan emosional untuk mengakui bahwa kita mungkin memiliki bagian dalam sebuah konflik.

Kunci Besarnya: Belajar Memperbaiki, Bukan Hanya Menghindari

Pada akhirnya, tujuan dari tujuh prinsip ini bukanlah membuat hubungan Anda bebas konflik.

Itu hampir tidak realistis.

Tujuannya adalah membuat konflik menjadi lebih aman, lebih terkendali, dan lebih mudah diperbaiki.

Jika Anda ingin hubungan bertahan dalam jangka panjang, jangan hanya bertanya:

"Bagaimana supaya kami tidak pernah bertengkar?"

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

"Bagaimana supaya ketika kami berbeda pendapat, kami tetap saling menghormati?"

Pegang tujuh prinsip ini:

Jangan menyelesaikan masalah ketika emosi sedang memuncak.
Kritik perilaku, bukan menyerang karakter.
Dengarkan untuk memahami, bukan sekadar membalas.
Jangan menjadikan kesalahan masa lalu sebagai senjata.
Hindari kata "selalu" dan "tidak pernah".
Hadapi masalah sebagai satu tim, bukan sebagai musuh.
Tetap pertahankan penghargaan dan kasih sayang di tengah konflik.

Hubungan yang kuat bukan dibangun karena dua orang selalu sepakat.

Hubungan yang kuat dibangun ketika dua orang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat.

Sebab pada akhirnya, pasangan bukanlah seseorang yang harus selalu kalah agar kita bisa menang.
Pasangan adalah seseorang yang seharusnya bisa kita ajak menyelesaikan masalah tanpa harus saling menghancurkan.***
 
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore