seseorang yang membuat pasangan menjauh / foto: Magnific/lookstudio
“Terserah.”
“Kamu selalu begitu.”
“Kamu nggak pernah mengerti aku.”
“Kalau memang sayang, harusnya kamu tahu.”
Bagi orang yang mengucapkannya, kalimat tersebut mungkin hanya bentuk kekesalan sesaat. Namun bagi pasangan yang mendengarnya terus-menerus, kata-kata itu dapat terasa seperti kritik terhadap kepribadian, penolakan terhadap perasaan, atau tanda bahwa hubungan tidak lagi menjadi tempat yang aman untuk berkomunikasi.
Psikologi hubungan menunjukkan bahwa cara pasangan berbicara satu sama lain memiliki peran penting dalam menentukan apakah konflik berakhir dengan pemahaman atau justru menghasilkan jarak emosional.
Bukan berarti setiap kalimat negatif akan otomatis membuat hubungan berakhir. Manusia tentu bisa marah, kecewa, lelah, dan salah bicara. Yang lebih penting adalah pola komunikasi yang terus berulang dan apakah pasangan masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.
Lalu, kata-kata apa saja yang sebaiknya diwaspadai?
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (14/9), terdapat tujuh di antaranya, beserta alternatif yang lebih sehat untuk digunakan.
1. “Terserah”
Di permukaan, “terserah” terdengar seperti kata yang sederhana.
Namun dalam konteks hubungan, maknanya bisa sangat berbeda tergantung nada dan situasinya.
Ada “terserah” yang benar-benar berarti memberikan kebebasan kepada pasangan. Tetapi ada juga “terserah” yang sebenarnya berarti:
“Aku kecewa, tetapi aku tidak ingin menjelaskannya.”
Atau:
“Aku ingin kamu sadar sendiri apa yang salah.”
Masalahnya, pasangan tidak selalu mampu membaca maksud yang tersembunyi di balik kata tersebut.
Jika “terserah” digunakan berulang kali sebagai respons terhadap konflik, pasangan bisa merasa bahwa setiap usaha untuk berbicara justru akan menemui tembok.
Mengapa ini bisa menciptakan jarak?
Dalam komunikasi yang sehat, seseorang perlu mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan dan dibutuhkan oleh pasangannya.
“Terserah” sering kali menyembunyikan kebutuhan yang tidak diungkapkan secara langsung.
Akibatnya, pasangan mungkin menebak-nebak:
“Dia sebenarnya marah?”
“Dia ingin aku melakukan apa?”
“Apakah aku sebaiknya memberi ruang atau mengajak bicara?”
Ketidakjelasan seperti ini dapat membuat konflik tidak pernah benar-benar selesai.
Sebaiknya katakan:
Daripada berkata:
“Terserah.”
cobalah:
“Aku sebenarnya kecewa dengan kejadian tadi. Aku butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri, setelah itu aku ingin membicarakannya.”
Atau jika memang ingin memberikan pilihan:
“Aku tidak masalah kalau kamu memilih yang itu. Aku cuma ingin memastikan kita sudah mempertimbangkan pilihan lainnya.”
Perbedaannya sederhana, tetapi penting.
Kalimat pertama menutup pintu komunikasi.
Kalimat kedua memberikan informasi tentang perasaan, kebutuhan, dan langkah berikutnya.
2. “Kamu selalu begitu”
Kata “selalu” merupakan salah satu kata yang perlu diwaspadai ketika sedang bertengkar.
Begitu pula dengan kata “tidak pernah”.
Contohnya:
“Kamu selalu egois.”
“Kamu selalu memikirkan diri sendiri.”
“Kamu nggak pernah mendengarkan aku.”
Masalahnya bukan hanya pada isi kalimat tersebut, tetapi pada cara kalimat itu mengubah satu kejadian menjadi penilaian terhadap seluruh karakter seseorang.
Satu kesalahan hari ini tiba-tiba menjadi bukti bahwa pasangan “memang seperti itu”.
Mengapa generalisasi bisa berbahaya?
Ketika seseorang merasa dirinya sedang diserang sebagai pribadi, ia cenderung lebih sibuk mempertahankan diri daripada memahami masalah.
Misalnya, pasangan berkata:
“Kamu selalu mengabaikanku.”
Orang yang mendengarnya mungkin langsung berpikir:
“Tidak benar. Minggu lalu aku bahkan menemanimu seharian.”
Akhirnya pembicaraan berubah menjadi perdebatan mengenai apakah kata “selalu” benar atau tidak.
Masalah awal pun hilang.
Sebaiknya katakan:
Daripada:
“Kamu selalu mengabaikan aku.”
cobalah:
“Tadi ketika aku sedang bercerita dan kamu melihat ponsel, aku merasa tidak didengarkan.”
Perhatikan perbedaannya.
Kalimat kedua tidak menyerang identitas pasangan. Ia membicarakan perilaku tertentu dan dampaknya terhadap perasaan.
Ini membuat pasangan lebih mudah memahami masalah tanpa merasa seluruh dirinya sedang dihakimi.
3. “Kamu nggak pernah mengerti aku”
Kalimat ini biasanya muncul ketika seseorang sebenarnya sedang sangat membutuhkan empati.
Ironisnya, kalimat tersebut justru bisa membuat pasangan semakin sulit memberikan empati.
Mengapa?
Karena “kamu nggak pernah mengerti aku” terdengar seperti sebuah vonis.
Pasangan mungkin merespons:
“Lalu selama ini aku melakukan apa?”
atau:
“Memangnya aku tidak pernah berusaha?”
Percakapan pun berubah menjadi pembelaan diri.
Padahal kebutuhan sebenarnya mungkin jauh lebih sederhana:
“Aku ingin kamu memahami bagaimana perasaanku.”
Sebaiknya katakan:
Cobalah mengubah kalimat tersebut menjadi permintaan yang spesifik.
Misalnya:
“Aku nggak sedang mencari solusi. Aku cuma ingin kamu mendengarkan dulu dan mencoba memahami kenapa aku merasa seperti ini.”
Atau:
“Aku tahu kamu mungkin melihat masalah ini secara berbeda. Tapi boleh nggak kali ini kamu dengarkan dulu dari sudut pandangku?”
Kalimat seperti ini memberikan pasangan petunjuk mengenai apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Sebab dalam hubungan, pasangan bukan pembaca pikiran.
Semakin jelas kebutuhan disampaikan, semakin besar kemungkinan kebutuhan tersebut dapat dipenuhi.
4. “Kalau kamu sayang, harusnya kamu tahu”
Ini adalah salah satu kalimat yang terdengar romantis, tetapi sebenarnya dapat menciptakan tekanan yang cukup besar dalam hubungan.
Kalimat tersebut mengandung asumsi:
“Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu pasti tahu apa yang aku mau tanpa perlu aku jelaskan.”
Padahal setiap orang memiliki pengalaman hidup, kebiasaan, cara menunjukkan kasih sayang, dan kebutuhan emosional yang berbeda.
Seseorang mungkin menganggap memberikan ruang sebagai bentuk cinta.
Orang lain mungkin menganggap sering menghubungi pasangan sebagai bentuk cinta.
Seseorang mungkin merasa dicintai ketika dibantu.
Sementara pasangannya mungkin merasa dicintai ketika diberi kata-kata penghargaan.
Perbedaan tersebut tidak selalu berarti kurang cinta.
Sebaiknya katakan:
Daripada menguji pasangan dengan:
“Kalau kamu sayang, harusnya kamu tahu.”
lebih sehat mengatakan:
“Aku merasa lebih diperhatikan kalau kamu melakukan hal ini.”
Misalnya:
“Kalau aku sedang stres, aku sebenarnya senang kalau kamu menanyakan keadaanku. Itu membuatku merasa ditemani.”
Ini jauh lebih jelas.
Pasangan tidak perlu menebak.
Ia mendapatkan informasi tentang bagaimana cara memberikan dukungan yang bermakna bagi Anda.
5. “Aku bisa cari orang lain”
Kalimat ini sering digunakan ketika seseorang ingin membuat pasangannya takut kehilangan.
Namun ancaman kehilangan dapat merusak rasa aman dalam hubungan.
Bahkan ketika kalimat tersebut diucapkan karena marah dan sebenarnya tidak benar-benar ingin berpisah, pasangan mungkin tetap mengingatnya.
Lama-kelamaan muncul pertanyaan:
“Apakah hubungan ini benar-benar aman?”
“Kalau kami bertengkar, apakah dia akan meninggalkanku?”
“Apakah aku harus terus membuktikan bahwa aku layak dipertahankan?”
Mengapa ancaman dapat merusak hubungan?
Hubungan yang sehat membutuhkan rasa aman.
Ketika seseorang merasa bahwa setiap konflik dapat berujung pada ancaman ditinggalkan, ia mungkin mulai menghindari percakapan sulit.
Bukan karena masalahnya sudah selesai.
Melainkan karena ia takut konsekuensinya.
Ini dapat menciptakan pola yang berbahaya: masalah tidak dibicarakan, emosi dipendam, dan jarak semakin besar.
Sebaiknya katakan:
Jika sebenarnya Anda ingin menyampaikan bahwa hubungan tersebut tidak boleh dianggap remeh, katakan dengan lebih jujur:
“Aku sedang sangat kecewa dengan hubungan kita. Aku ingin kita serius memperbaiki masalah ini karena aku tidak ingin hubungan kita terus seperti ini.”
Jika masalahnya sudah sangat berat:
“Aku ingin kita mencari jalan keluar bersama. Tapi kalau pola ini terus terjadi dan tidak ada perubahan, aku perlu mempertimbangkan kembali apakah hubungan ini masih sehat untuk kita.”
Perbedaannya adalah Anda menyampaikan batasan dan kebutuhan, bukan menggunakan orang lain sebagai ancaman.
6. “Ya sudah, kita putus saja”
Kalimat ini mungkin terdengar seperti jalan keluar tercepat ketika pertengkaran menjadi terlalu emosional.
Namun jika ancaman putus digunakan setiap kali konflik muncul, kata “putus” kehilangan makna sebagai keputusan serius dan berubah menjadi alat untuk mengendalikan percakapan.
Pasangan akhirnya tidak tahu:
“Dia benar-benar ingin mengakhiri hubungan?”
“Atau dia hanya sedang marah?”
Ketidakpastian ini dapat mengikis kepercayaan.
Ada perbedaan antara mengambil jeda dan mengancam perpisahan
Ketika emosi sedang tinggi, mengambil jeda justru bisa menjadi pilihan yang lebih sehat.
Misalnya:
“Aku sedang terlalu emosi untuk membicarakan ini dengan baik. Aku ingin menenangkan diri dulu. Kita lanjutkan pembicaraan malam ini setelah aku lebih tenang.”
Ini bukan berarti melarikan diri.
Justru Anda sedang memberi kesempatan kepada kedua pihak untuk kembali berbicara tanpa dikuasai emosi.
Namun jika Anda memang sudah mempertimbangkan perpisahan secara serius, jangan gunakan kata “putus” sebagai senjata dalam pertengkaran.
Bicarakan keputusan tersebut dengan serius, jelas, dan penuh tanggung jawab.
7. “Kamu memang seperti itu”
Kalimat ini berbeda dari mengkritik perilaku tertentu.
“Kamu memang seperti itu” biasanya terdengar seperti penetapan karakter.
Misalnya:
“Kamu memang egois.”
“Kamu memang tidak punya empati.”
“Kamu memang sulit berubah.”
“Kamu memang orang yang tidak bisa dipercaya.”
Ketika seseorang menerima label seperti itu berulang kali, ia dapat merasa bahwa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah penilaian pasangannya.
Jika seseorang merasa dirinya sudah “divonis”, motivasi untuk memperbaiki perilaku bisa menurun.
Sebaiknya katakan:
Pisahkan orangnya dari perilakunya.
Daripada:
“Kamu memang egois.”
katakan:
“Dalam situasi tadi, aku merasa kebutuhanku tidak dipertimbangkan.”
Daripada:
“Kamu memang tidak bisa dipercaya.”
katakan:
“Aku merasa sulit percaya setelah kejadian kemarin. Aku membutuhkan konsistensi supaya kepercayaan itu bisa kembali.”
Dengan cara ini, masalah tetap dibicarakan secara tegas tanpa menjadikan kepribadian pasangan sebagai sasaran.
Mengapa Kata-Kata Kecil Bisa Berdampak Besar?
Hubungan tidak dibangun hanya dari momen romantis.
Hubungan juga dibangun dari ribuan interaksi kecil:
cara menyapa,
cara menjawab pertanyaan,
cara mendengarkan,
cara meminta sesuatu,
cara menyampaikan kekecewaan,
dan cara memperbaiki kesalahan setelah bertengkar.
Karena itu, satu kalimat mungkin tidak menentukan masa depan sebuah hubungan.
Namun pola yang berulang bisa menentukan arah hubungan.
Ada perbedaan besar antara:
“Sekali-sekali aku berkata kasar ketika sangat marah.”
dan:
“Setiap kali ada masalah, aku merendahkan pasangan.”
Yang kedua jauh lebih berpotensi menciptakan luka emosional.
Bukan Berarti Anda Harus Selalu Berbicara dengan Sempurna
Ada satu hal penting yang sering dilupakan dalam pembahasan tentang komunikasi hubungan.
Pasangan tidak harus berbicara dengan sempurna sepanjang waktu.
Manusia bisa kehilangan kesabaran.
Bisa salah memilih kata.
Bisa mengatakan sesuatu yang kemudian disesali.
Yang menentukan kualitas hubungan bukan hanya apakah konflik terjadi, tetapi bagaimana pasangan memperbaiki hubungan setelah konflik.
Jika Anda terlanjur mengatakan:
“Kamu selalu egois.”
Anda masih bisa kembali dan berkata:
“Tadi aku terlalu emosional. Aku seharusnya tidak mengatakan kamu selalu seperti itu. Yang sebenarnya membuatku kecewa adalah kejadian tadi, ketika aku merasa tidak dipertimbangkan.”
Permintaan maaf seperti ini jauh lebih bermakna daripada sekadar:
“Ya sudah, maaf.”
Karena Anda menunjukkan bahwa Anda memahami bagian mana yang salah dan mencoba berkomunikasi dengan cara yang lebih baik.
Formula Sederhana untuk Mengubah Kalimat yang Menjauhkan
Salah satu cara praktis untuk memperbaiki komunikasi adalah mengubah:
Penilaian → Pengamatan
Tuduhan → Perasaan
Tuntutan → Permintaan
Contohnya:
Daripada:
“Kamu egois.”
Katakan:
“Ketika keputusan itu dibuat tanpa membicarakannya denganku, aku merasa tidak dilibatkan. Ke depannya aku ingin kita membicarakan keputusan seperti itu bersama.”
Daripada:
“Kamu nggak pernah mendengarkan aku.”
Katakan:
“Aku merasa tidak didengarkan ketika kamu bermain ponsel saat aku sedang bicara. Bisa nggak kita ngobrol tanpa ponsel beberapa menit?”
Daripada:
“Kalau kamu sayang, harusnya kamu tahu.”
Katakan:
“Aku ingin merasa lebih diperhatikan. Salah satu hal yang sangat berarti buatku adalah ketika kamu menanyakan bagaimana hariku.”
Daripada:
“Terserah kamu.”
Katakan:
“Aku sebenarnya punya pilihan yang lebih aku sukai, tapi aku ingin mendengar pendapatmu juga.”
Prinsip Penting: Kritik Perilakunya, Bukan Harga Dirinya
Dalam hubungan yang sehat, seseorang tetap boleh menyampaikan ketidakpuasan.
Anda boleh berkata:
“Aku tidak suka ketika kamu melakukan itu.”
Anda boleh berkata:
“Perilaku itu membuatku terluka.”
Anda bahkan boleh berkata:
“Aku tidak bisa menerima pola seperti ini terus-menerus.”
Yang perlu dihindari adalah mengubah kritik terhadap perilaku menjadi penghinaan terhadap identitas seseorang.
Ada perbedaan antara:
“Aku kecewa dengan apa yang kamu lakukan.”
dan:
“Kamu adalah orang yang mengecewakan.”
Yang pertama membuka ruang untuk perubahan.
Yang kedua cenderung membuat seseorang merasa diserang.
Ketika Pasangan Mulai Menjauh, Jangan Langsung Mengejarnya dengan Lebih Banyak Kata
Menariknya, semakin seseorang merasa pasangannya menjauh, terkadang ia justru berbicara semakin banyak.
Menanyakan:
“Kenapa kamu berubah?”
“Kamu masih sayang aku nggak?”
“Kamu sebenarnya mau apa?”
“Kenapa kamu diam?”
Pertanyaan tersebut mungkin muncul dari kecemasan.
Namun jika pasangan sedang kewalahan secara emosional, tekanan tambahan justru dapat membuatnya semakin menarik diri.
Dalam situasi seperti itu, komunikasi yang lebih efektif mungkin berbunyi:
“Aku merasa akhir-akhir ini kita agak jauh. Aku tidak ingin memaksamu bicara sekarang. Tapi ketika kamu siap, aku ingin memahami apa yang sedang terjadi dan mencari jalan keluarnya bersama.”
Kalimat seperti ini memberikan dua hal sekaligus:
ruang dan kepastian.
Ruang untuk bernapas, tetapi juga kepastian bahwa masalah tidak akan diabaikan.
Hubungan yang Sehat Bukan Hubungan Tanpa Konflik
Ada anggapan bahwa pasangan yang benar-benar cocok seharusnya jarang bertengkar.
Padahal konflik adalah bagian normal dari hubungan.
Dua orang bisa saling mencintai dan tetap berbeda pendapat.
Yang menjadi persoalan adalah bagaimana konflik tersebut dikelola.
Apakah konflik berubah menjadi penghinaan?
Apakah pasangan saling mengancam?
Apakah salah satu pihak terus-menerus meremehkan pihak lainnya?
Apakah masalah selalu disapu di bawah karpet?
Atau apakah keduanya mampu mengatakan:
“Aku tidak setuju, tetapi aku tetap ingin memahami kamu.”
Itulah salah satu fondasi komunikasi yang lebih sehat.
Tujuannya bukan memenangkan pertengkaran.
Tujuannya adalah menyelesaikan masalah tanpa menghancurkan hubungan dalam prosesnya.
Kesimpulan
Tujuh kata atau frasa yang perlu diwaspadai dalam hubungan adalah:
“Terserah.”
“Kamu selalu begitu.”
“Kamu nggak pernah mengerti aku.”
“Kalau kamu sayang, harusnya kamu tahu.”
“Aku bisa cari orang lain.”
“Ya sudah, kita putus saja.”
“Kamu memang seperti itu.”
Namun yang paling penting bukan menghafalkan tujuh kalimat tersebut.
Yang lebih penting adalah memahami pola di baliknya.
Ketika marah, kita cenderung menyerang.
Ketika kecewa, kita cenderung menyalahkan.
Ketika takut kehilangan, kita mungkin mengancam.
Ketika ingin dimengerti, kita mungkin berharap pasangan dapat membaca pikiran.
Padahal komunikasi yang sehat membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: mengatakan apa yang kita rasakan, menjelaskan apa yang kita butuhkan, dan memberikan pasangan kesempatan untuk merespons.
Jadi, sebelum mengatakan sesuatu saat sedang emosi, coba berhenti sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah kalimat ini bertujuan menyelesaikan masalah, atau hanya ingin membuat pasangan merasa bersalah?”
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi pembeda antara percakapan yang menciptakan jarak dan percakapan yang justru membuat dua orang kembali dekat.
Karena pada akhirnya, hubungan yang kuat bukanlah hubungan di mana tidak pernah ada kata-kata yang salah.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022