Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Agustus 2026 | 23.55 WIB

9 Pertanyaan untuk Menilai Apakah Pilihan Anda Sudah Tepat Menurut Psikologi

seseorang yang menanyakan beberapa pertanyaan kepada dirinya sendiri. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada kalanya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Apakah selama ini keputusan yang saya ambil sudah benar? Apakah pilihan saya membawa saya ke arah yang lebih baik? Atau sebenarnya saya hanya sedang bertahan dalam sesuatu yang sudah tidak lagi baik untuk saya?


Pertanyaan seperti ini biasanya muncul setelah kita melewati masa sulit, mengambil keputusan besar, mengakhiri hubungan, meninggalkan pekerjaan, memulai sesuatu yang baru, atau bahkan ketika hidup terlihat baik-baik saja tetapi hati terasa tidak sepenuhnya tenang.

Menariknya, psikologi tidak selalu melihat “keputusan yang benar” sebagai keputusan yang menghasilkan hasil sempurna. Sebuah keputusan bisa saja berakhir dengan kegagalan, tetapi tetap merupakan keputusan yang sehat jika dibuat berdasarkan nilai, kesadaran, dan pertimbangan yang matang.

Sebaliknya, sesuatu yang terlihat berhasil dari luar belum tentu benar-benar baik bagi diri kita. Mendapatkan apa yang diinginkan tidak selalu berarti mendapatkan apa yang dibutuhkan.

Karena itu, daripada terus mencari validasi dari orang lain, terkadang kita perlu melakukan evaluasi diri dengan jujur.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (25/8), terdapat 9 pertanyaan yang dapat Anda tanyakan kepada diri sendiri untuk membantu melihat apakah hal-hal yang sudah Anda lakukan selama ini benar-benar membawa Anda ke arah yang sehat dan sesuai dengan diri Anda.

1. Apakah keputusan ini sesuai dengan nilai yang saya yakini?

Salah satu cara paling penting untuk mengevaluasi kehidupan adalah dengan melihat apakah tindakan kita sejalan dengan nilai pribadi.

Setiap orang memiliki nilai yang berbeda. Ada orang yang sangat menghargai keluarga, sementara orang lain lebih mengutamakan kebebasan, kejujuran, keamanan, pertumbuhan, kreativitas, atau kemandirian.

Masalah muncul ketika kita menjalani hidup berdasarkan standar orang lain.

Misalnya, Anda memilih pekerjaan tertentu hanya karena dianggap bergengsi oleh keluarga. Anda mempertahankan hubungan hanya karena takut dianggap gagal. Atau Anda mengejar kehidupan yang terlihat sukses di media sosial meskipun sebenarnya kehidupan tersebut tidak sesuai dengan apa yang Anda inginkan.

Cobalah bertanya:

“Kalau tidak ada orang lain yang menilai saya, apakah saya masih akan memilih hal yang sama?”

Pertanyaan tersebut dapat membantu membedakan antara keputusan yang benar-benar berasal dari diri sendiri dan keputusan yang dibuat demi mendapatkan penerimaan.

Keputusan yang sehat tidak harus membuat semua orang senang. Yang lebih penting adalah apakah keputusan tersebut selaras dengan prinsip yang ingin Anda pegang.

2. Apakah saya mengambil keputusan ini karena keinginan atau karena ketakutan?

Ketakutan sering kali menyamar sebagai alasan yang masuk akal.

Kita mungkin berkata, “Saya bertahan karena masih peduli,” padahal sebenarnya kita takut sendirian.

Kita mungkin berkata, “Saya tidak mau mencoba karena belum waktunya,” padahal sebenarnya kita takut gagal.

Kita mungkin berkata, “Saya memilih jalan yang aman,” padahal sebenarnya kita takut menghadapi ketidakpastian.

Rasa takut bukan sesuatu yang harus selalu dihilangkan. Dalam psikologi, rasa takut merupakan bagian normal dari sistem perlindungan manusia. Namun, penting untuk mengetahui apakah rasa takut sedang membantu kita berhati-hati atau justru mengendalikan hidup kita.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Jika saya tidak takut gagal, ditolak, kehilangan, atau dipermalukan, apakah saya akan mengambil keputusan yang berbeda?”

Jawaban atas pertanyaan ini bisa sangat membuka mata.

Tidak semua keputusan yang didasari rasa takut merupakan keputusan yang salah. Terkadang berhati-hati memang diperlukan. Namun, jika hampir semua pilihan hidup Anda ditentukan oleh ketakutan, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali arah yang sedang dijalani.

3. Apakah saya merasa lebih menjadi diri sendiri setelah melakukan semua ini?

Pertanyaan berikutnya sangat sederhana, tetapi cukup dalam:

“Apakah saya masih menjadi diri saya sendiri?”

Cobalah melihat kehidupan Anda beberapa tahun terakhir.

Apakah Anda semakin mengenal diri sendiri?

Apakah Anda semakin berani mengungkapkan pendapat?

Apakah Anda semakin memahami batasan pribadi?

Apakah Anda merasa lebih bebas menjadi diri sendiri?

Atau justru Anda semakin sering berpura-pura agar diterima?

Terkadang kita berhasil mendapatkan sesuatu tetapi kehilangan bagian dari diri sendiri dalam prosesnya.

Kita mendapatkan pekerjaan, tetapi kehilangan ketenangan.

Kita mendapatkan pasangan, tetapi kehilangan kebebasan menjadi diri sendiri.

Kita mendapatkan pengakuan, tetapi kehilangan hubungan dengan kebutuhan pribadi.

Perubahan tentu merupakan bagian dari pertumbuhan. Menjadi orang yang berbeda dari beberapa tahun lalu bukan sesuatu yang buruk.

Yang perlu diperhatikan adalah arah perubahan tersebut.

Jika Anda berubah menjadi pribadi yang lebih matang, bertanggung jawab, tenang, dan sadar diri, itu bisa menjadi pertumbuhan.

Namun, jika Anda merasa semakin jauh dari diri sendiri hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain, mungkin ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali.

4. Apakah saya bisa menerima konsekuensi dari keputusan saya?

Setiap keputusan memiliki konsekuensi.

Bahkan keputusan yang baik pun tidak selalu menghasilkan sesuatu yang menyenangkan.

Memilih berkata jujur mungkin membuat seseorang kecewa. Meninggalkan lingkungan yang tidak sehat mungkin membuat kita merasa kesepian. Mengambil kesempatan baru mungkin membuat kita mengalami kegagalan.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Apakah keputusan saya menghasilkan sesuatu yang saya inginkan?”

Tanyakan juga:

“Apakah saya siap menerima konsekuensi dari keputusan ini?”

Ini merupakan cara yang lebih realistis dalam mengevaluasi pilihan.

Kita tidak memiliki kendali penuh atas hasil. Yang dapat kita kendalikan adalah proses berpikir, tindakan, persiapan, dan cara kita merespons ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Jadi, sebuah keputusan tidak otomatis menjadi keputusan buruk hanya karena hasilnya tidak sesuai harapan.

Terkadang Anda sudah melakukan yang terbaik dengan informasi yang Anda miliki pada saat itu.

5. Apakah saya terus melakukan sesuatu hanya karena sudah terlanjur?

Manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan sesuatu yang sudah mereka investasikan waktu, uang, tenaga, atau emosi ke dalamnya.

Dalam psikologi dan ekonomi perilaku, hal ini sering dikaitkan dengan sunk cost effect.

Contohnya, seseorang tetap berada dalam pekerjaan yang tidak cocok hanya karena sudah bekerja di sana selama bertahun-tahun.

Seseorang mempertahankan hubungan yang tidak sehat karena merasa, “Saya sudah terlalu lama bersamanya.”

Atau seseorang terus menjalankan sebuah proyek yang jelas tidak lagi masuk akal karena sudah menghabiskan banyak uang dan waktu.

Padahal, masa lalu tidak dapat dikembalikan.

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Jika saya belum pernah memulai ini, apakah saya masih akan memilihnya hari ini?”

Jika jawabannya tidak, mungkin Anda perlu mempertimbangkan apakah Anda bertahan karena memang masih menginginkannya atau hanya karena merasa sayang meninggalkan sesuatu yang sudah terlanjur dibangun.

Meninggalkan sesuatu tidak selalu berarti Anda gagal.

Kadang-kadang, kemampuan untuk berhenti adalah bentuk keberanian.

6. Apakah hidup saya menjadi lebih sehat, atau hanya terlihat lebih baik?

Ini adalah pertanyaan penting di zaman ketika kehidupan mudah dibandingkan melalui media sosial.

Sesuatu bisa terlihat sangat baik dari luar tetapi terasa sangat melelahkan dari dalam.

Anda mungkin memiliki pekerjaan yang terlihat hebat tetapi setiap hari merasa tertekan.

Anda mungkin memiliki banyak teman tetapi merasa kesepian.

Anda mungkin terlihat bahagia tetapi sebenarnya terus-menerus membutuhkan validasi.

Karena itu, jangan hanya mengevaluasi kehidupan berdasarkan apa yang terlihat.

Perhatikan juga:

bagaimana kualitas tidur Anda,
bagaimana hubungan Anda dengan orang-orang terdekat,
bagaimana Anda berbicara kepada diri sendiri,
apakah Anda memiliki waktu untuk beristirahat,
apakah Anda dapat menikmati hal-hal sederhana,
dan apakah hidup Anda terasa memiliki ruang untuk bernapas.

Kehidupan yang sehat tidak selalu terlihat mengesankan.

Kadang-kadang kehidupan yang paling baik justru terlihat sederhana.

Anda mungkin tidak memiliki pencapaian terbesar, tetapi Anda tidur lebih tenang. Anda tidak mendapatkan banyak pengakuan, tetapi hubungan Anda lebih sehat. Anda tidak selalu merasa produktif, tetapi Anda tidak lagi membenci kehidupan yang sedang Anda jalani.

7. Jika seorang teman baik berada dalam situasi saya, apa yang akan saya katakan kepadanya?

Kita sering kali memberikan nasihat yang jauh lebih bijaksana kepada orang lain daripada kepada diri sendiri.

Ketika teman mengalami masalah, kita mungkin berkata:

“Jangan terlalu keras kepada dirimu.”

“Tidak apa-apa untuk beristirahat.”

“Kamu tidak harus menyenangkan semua orang.”

“Kamu berhak memilih kehidupanmu sendiri.”

Namun ketika kita sendiri berada dalam situasi yang sama, kita justru berkata:

“Saya seharusnya bisa lebih baik.”

“Saya gagal.”

“Saya tidak boleh menyerah.”

“Saya harus bertahan.”

Cobalah mengambil jarak emosional dari masalah Anda.

Bayangkan seorang teman yang sangat Anda sayangi datang kepada Anda dan menceritakan semua hal yang sedang Anda alami.

Apa yang akan Anda katakan kepadanya?

Jawaban tersebut mungkin menunjukkan bagaimana seharusnya Anda memperlakukan diri sendiri.

Ini bukan berarti kita harus selalu membenarkan diri sendiri. Evaluasi yang sehat tetap membutuhkan kejujuran.

Namun, kejujuran tidak harus disertai kekejaman kepada diri sendiri.

8. Apakah saya belajar sesuatu dari kesalahan yang pernah saya lakukan?

Mengevaluasi masa lalu bukan berarti terus menghukum diri sendiri.

Salah satu tanda bahwa pengalaman sulit mulai menjadi sesuatu yang bermakna adalah ketika kita mampu mengambil pelajaran darinya.

Anda mungkin pernah mempercayai orang yang salah.

Anda mungkin pernah mengambil keputusan buruk.

Anda mungkin pernah terlalu lama bertahan.

Anda mungkin pernah mengatakan sesuatu yang kemudian Anda sesali.

Pertanyaannya bukan hanya:

“Mengapa saya melakukan itu?”

Tetapi juga:

“Apa yang saya pahami sekarang yang belum saya pahami saat itu?”

Kesalahan dapat menjadi sumber pembelajaran jika kita bersedia mengolahnya.

Mungkin Anda belajar bahwa Anda perlu menetapkan batasan.

Mungkin Anda belajar untuk tidak mengabaikan tanda-tanda tertentu.

Mungkin Anda belajar bahwa tidak semua orang harus mendapatkan akses penuh ke kehidupan Anda.

Mungkin Anda belajar bahwa kebutuhan Anda juga penting.

Dengan cara ini, masa lalu tidak lagi hanya menjadi sumber penyesalan, tetapi menjadi sumber kebijaksanaan.

9. Jika saya mengulang hidup saya dengan pengetahuan yang saya miliki sekarang, apa yang akan saya lakukan secara berbeda?

Pertanyaan terakhir mungkin merupakan yang paling penting.

Bayangkan Anda dapat kembali ke masa lalu dengan semua pengalaman yang sudah Anda miliki sekarang.

Apa yang akan Anda ubah?

Mungkin Anda akan lebih cepat mengatakan tidak.

Mungkin Anda akan lebih berani mengambil kesempatan.

Mungkin Anda tidak akan terlalu memikirkan pendapat orang.

Mungkin Anda akan lebih menghargai orang-orang yang benar-benar menyayangi Anda.

Mungkin Anda akan berhenti mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah Anda inginkan.

Namun, jangan berhenti pada pertanyaan tentang apa yang ingin Anda ubah.

Lanjutkan dengan:

“Kalau saya sudah mengetahui hal itu sekarang, apa yang bisa saya lakukan mulai hari ini?”

Inilah bagian yang paling penting.

Masa lalu tidak dapat diedit, tetapi masa depan masih bisa dipengaruhi oleh keputusan yang Anda ambil hari ini.

Tidak Semua Keputusan yang Salah Membuat Anda Gagal

Pada akhirnya, mengevaluasi hidup bukan berarti mencari bukti bahwa semua yang pernah Anda lakukan benar.

Manusia pasti membuat keputusan yang salah.

Ada pilihan yang ternyata tidak sesuai dengan harapan. Ada hubungan yang berakhir. Ada pekerjaan yang ternyata tidak cocok. Ada kesempatan yang terlewat. Ada keputusan yang baru kita pahami setelah bertahun-tahun.

Itu semua merupakan bagian dari kehidupan.

Yang lebih penting adalah apakah Anda mampu belajar dari pengalaman tersebut.

Jangan menggunakan masa lalu untuk terus menyalahkan diri sendiri.

Gunakan masa lalu untuk memahami diri sendiri.

Mungkin dulu Anda memilih berdasarkan ketakutan karena Anda belum memiliki keberanian seperti sekarang.

Mungkin dulu Anda bertahan karena belum mengetahui bahwa Anda memiliki pilihan lain.

Mungkin dulu Anda membuat keputusan yang kurang tepat karena informasi yang Anda miliki juga terbatas.

Anda tidak harus membenci versi diri Anda yang dulu.

Versi diri Anda yang dulu mungkin hanya sedang berusaha bertahan dengan kemampuan dan pengetahuan yang ia miliki saat itu.

Jadi, Apakah Selama Ini Anda Sudah Melakukan Hal yang Benar?

Mungkin jawabannya bukan “ya” atau “tidak”.

Bisa jadi ada hal-hal yang sudah Anda lakukan dengan sangat baik. Ada pula keputusan yang ternyata perlu diperbaiki.

Dan itu tidak masalah.

Kehidupan bukan ujian yang hanya memiliki satu jawaban benar.

Yang penting adalah Anda terus memiliki keberanian untuk berhenti, melihat ke dalam diri, mengevaluasi pilihan, dan memperbaiki arah ketika diperlukan.

Jika Anda ingin mengetahui apakah kehidupan yang sedang Anda jalani benar-benar sesuai dengan diri Anda, coba tanyakan kembali sembilan pertanyaan tadi:

Apakah keputusan ini sesuai dengan nilai yang saya yakini?
Apakah saya memilihnya karena keinginan atau karena ketakutan?
Apakah saya merasa semakin menjadi diri sendiri?
Apakah saya siap menerima konsekuensi dari keputusan saya?
Apakah saya bertahan hanya karena sudah terlanjur?
Apakah hidup saya menjadi lebih sehat, bukan hanya terlihat lebih baik?
Apa yang akan saya katakan jika seorang teman berada dalam situasi saya?
Apa yang sudah saya pelajari dari kesalahan saya?
Jika saya memiliki pengetahuan sekarang sejak dulu, apa yang akan saya lakukan berbeda?

Tidak perlu menjawab semuanya dalam satu malam.

Terkadang satu pertanyaan saja sudah cukup untuk membuat kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Dan mungkin, setelah memikirkannya dengan jujur, Anda akan menyadari satu hal penting:

Anda tidak harus memiliki kehidupan yang sempurna untuk mengetahui bahwa Anda sedang bergerak ke arah yang benar.

Cukup pastikan bahwa langkah yang Anda ambil hari ini sedikit lebih sadar daripada langkah Anda kemarin.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore