Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 25 Juni 2026 | 01.50 WIB

2 Kebiasaan Menjengkelkan dari Orang yang Terlampau Cerdas Menurut Penelitian

Ilustrasi, orang terlampau cerdas yang menjengkelkan. (Magnific/ stockking) - Image

Ilustrasi, orang terlampau cerdas yang menjengkelkan. (Magnific/ stockking)

JawaPos.com - Pasti di benak Anda kecerdasan sebagai organisasi mental yang patut dicontoh dengan opini yang jelas, penampilan yang tajam, atau pendirian yang percaya diri dan teguh.

Tapi, berdasarkan penelitian yang berkembang, yang terjadi justru sebaliknya. Orang yang terlampau cerdas tidak selalu lebih cepat, lebih tenang, atau lebih tegas.

Kadang kada pikiran mereka lebih sibuk, lebih lambat, dan lebih bertentangan. Ini membuat mereka terasa menjengkelkan dan disalahpahami.

Lebih lanjut, Dilansir JawaPos.com dari psychologytoday pada Rabu (24/6), berikut ini dua kebiasaan menjengkelkan dari orang yang terlampau cerdas.

1. Mengubah Pikiran di Tengah Perdebatan

Sebuah studi di tahun 2024 yang diterbitkan dalam Cognitive Research: Principles and Implications menemukan bukti konsisten bahwa seseorang dengan kecerdasan fluid yang lebih tinggi lebih mudah untuk mengubah sikapnya sebagai respons terhadap koreksi.

Sementara seseorang yang memiliki kemampuan penalaran yang lebih rendah menunjukkan kecenderungan yang lebih kuat untuk tetap berpegang teguh pada informasi yang salah, bahkan setelah menerima pesan koreksi.

Jadi, ketika Anda mendapati seseorang yang telah menyatakan posisi dengan penuh keyakinan, tapi sepuluh menit kemudian berkata, 'Saya ingin menarik kembali apa yang Saya katakan', bisa jadi penanda bahwa orang tersebut terlampau cerdas.

Mungkin bagi Anda dan kebanyakan orang itu sebuah kebingungan, keragu-raguan, atau kurangnya persiapan. Sangat menjengkelkan juga rasanya.

Tapi, bagi otak orang yang mengatakannya, itu menandakan bahwa sesuatu yang lebih akurat baru saja hadir.

Para peneliti telah mengidentifikasikan tentang bagaimana orang yang terlampau cerdas terhubung dengan ketidakpastian.

Membuat mereka lebih nyaman berada dalam proses revisi, bahkan ketika proses itu terlihat oleh orang lain.

Mereka juga tidak merasa terburu-buru untuk bertindak dengan pasti sebelum dirinya siap.

Jadi, jika proses berpikir masih berlangsung, mereka akan melakukannya dengan lantang.

2. Memberi Terlalu Banyak Konteks yang Tidak Perlu

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore