Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Mei 2026 | 02.03 WIB

9 Luka Masa Kecil Orang yang Sering Minta Maaf Karena Keberadaannya, Menurut Psikologi

seseorang yang sering minta maaf ( Magnific/azerbaijan_stockers) - Image

seseorang yang sering minta maaf ( Magnific/azerbaijan_stockers)


JawaPos.com - Pernahkah kamu bertemu seseorang yang terlalu sering berkata “maaf”, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak salah? Misalnya, meminta maaf karena berbicara, karena berada di suatu tempat, atau bahkan hanya karena “merepotkan” orang lain. Dalam psikologi, perilaku ini bukan sekadar kebiasaan sopan santun—sering kali ini adalah cerminan luka emosional yang terbentuk sejak masa kecil.

Orang-orang seperti ini tidak hanya belajar untuk berhati-hati, tetapi juga merasa bahwa keberadaan mereka sendiri adalah beban. Di balik kebiasaan meminta maaf berlebihan, biasanya ada pengalaman masa kecil yang membentuk cara mereka memandang diri sendiri dan dunia.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat 9 pengalaman masa kecil yang sering menjadi akar dari perilaku tersebut.

1. Sering Dikritik atau Disalahkan

Anak yang tumbuh dengan kritik terus-menerus akan belajar bahwa mereka “selalu salah”. Bahkan ketika tidak melakukan kesalahan, mereka tetap merasa bersalah. Akibatnya, meminta maaf menjadi mekanisme otomatis untuk menghindari konflik.

2. Kurangnya Validasi Emosi

Ketika seorang anak sering mendengar kalimat seperti “jangan lebay” atau “itu bukan masalah besar”, mereka belajar bahwa perasaan mereka tidak penting. Saat dewasa, mereka cenderung meminta maaf karena memiliki emosi—seolah perasaan itu sendiri adalah kesalahan.

3. Dibesarkan oleh Orang Tua yang Tidak Stabil Secara Emosional

Jika orang tua mudah marah atau berubah-ubah, anak akan hidup dalam kewaspadaan tinggi. Mereka belajar membaca situasi dan meminta maaf lebih dulu, bahkan sebelum terjadi masalah, sebagai bentuk perlindungan diri.

4. Mengalami Penolakan atau Pengabaian

Anak yang merasa tidak diinginkan atau diabaikan sering menginternalisasi pesan bahwa mereka “tidak cukup baik”. Saat dewasa, mereka merasa kehadiran mereka mengganggu, sehingga refleks meminta maaf muncul bahkan tanpa alasan jelas.

5. Diajarkan untuk Selalu Mengalah

Beberapa anak dibesarkan dengan nilai bahwa mereka harus selalu mendahulukan orang lain. Tanpa keseimbangan, ini bisa berubah menjadi keyakinan bahwa kebutuhan pribadi tidak penting—dan setiap usaha untuk mengekspresikan diri terasa seperti kesalahan.

6. Mengalami Bullying atau Perundungan

Anak yang pernah direndahkan oleh teman sebaya sering membawa rasa malu dan tidak aman hingga dewasa. Mereka menjadi sangat berhati-hati agar tidak “mengganggu”, sehingga meminta maaf menjadi cara untuk menjaga jarak aman.

7. Terbiasa Menjadi “Penjaga Kedamaian”

Dalam keluarga yang penuh konflik, anak sering mengambil peran sebagai penenang. Mereka belajar bahwa menjaga harmoni adalah tanggung jawab mereka. Akibatnya, mereka akan cepat meminta maaf untuk meredakan ketegangan—bahkan jika bukan kesalahan mereka.

8. Kurangnya Rasa Aman (Insecure Attachment)

Dalam teori keterikatan (attachment), anak yang tidak mendapatkan rasa aman dari pengasuhnya akan tumbuh dengan kecemasan dalam hubungan. Mereka takut ditinggalkan, sehingga meminta maaf menjadi cara untuk mempertahankan koneksi dengan orang lain.

9. Tidak Pernah Diberi Ruang untuk Menjadi Diri Sendiri

Jika sejak kecil anak ditekan untuk memenuhi ekspektasi tertentu tanpa ruang untuk menjadi autentik, mereka bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa “diri asli mereka tidak cukup baik”. Ini membuat mereka merasa perlu “mengecilkan diri”—termasuk melalui permintaan maaf berlebihan.

Dampak Jangka Panjang

Kebiasaan meminta maaf berlebihan mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya cukup besar, seperti:

Rendahnya harga diri
Sulit menetapkan batas (boundaries)
Mudah dimanfaatkan orang lain
Kecemasan sosial
Rasa bersalah kronis
Bagaimana Mulai Mengubahnya?

Perubahan tidak terjadi dalam semalam, tetapi langkah kecil bisa membantu:

Sadari kapan kamu meminta maaf tanpa alasan jelas
Ganti “maaf” dengan “terima kasih” (misalnya: “terima kasih sudah menunggu”)
Latih afirmasi diri bahwa keberadaanmu valid
Jika perlu, pertimbangkan bantuan profesional seperti psikolog
Penutup

Meminta maaf adalah hal yang baik jika dilakukan pada tempatnya. Namun, ketika seseorang merasa perlu meminta maaf hanya karena ada, itu bukan lagi tentang sopan santun—melainkan tentang luka yang belum sembuh.

Memahami asal-usulnya bukan untuk menyalahkan masa lalu, tetapi untuk memberi diri kesempatan membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri. Karena pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang harus meminta maaf hanya untuk menjadi dirinya sendiri.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore