
seseorang yang sering minta maaf ( Magnific/azerbaijan_stockers)
JawaPos.com - Pernahkah kamu bertemu seseorang yang terlalu sering berkata “maaf”, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak salah? Misalnya, meminta maaf karena berbicara, karena berada di suatu tempat, atau bahkan hanya karena “merepotkan” orang lain. Dalam psikologi, perilaku ini bukan sekadar kebiasaan sopan santun—sering kali ini adalah cerminan luka emosional yang terbentuk sejak masa kecil.
Orang-orang seperti ini tidak hanya belajar untuk berhati-hati, tetapi juga merasa bahwa keberadaan mereka sendiri adalah beban. Di balik kebiasaan meminta maaf berlebihan, biasanya ada pengalaman masa kecil yang membentuk cara mereka memandang diri sendiri dan dunia.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat 9 pengalaman masa kecil yang sering menjadi akar dari perilaku tersebut.
1. Sering Dikritik atau Disalahkan
Anak yang tumbuh dengan kritik terus-menerus akan belajar bahwa mereka “selalu salah”. Bahkan ketika tidak melakukan kesalahan, mereka tetap merasa bersalah. Akibatnya, meminta maaf menjadi mekanisme otomatis untuk menghindari konflik.
2. Kurangnya Validasi Emosi
Ketika seorang anak sering mendengar kalimat seperti “jangan lebay” atau “itu bukan masalah besar”, mereka belajar bahwa perasaan mereka tidak penting. Saat dewasa, mereka cenderung meminta maaf karena memiliki emosi—seolah perasaan itu sendiri adalah kesalahan.
3. Dibesarkan oleh Orang Tua yang Tidak Stabil Secara Emosional
Jika orang tua mudah marah atau berubah-ubah, anak akan hidup dalam kewaspadaan tinggi. Mereka belajar membaca situasi dan meminta maaf lebih dulu, bahkan sebelum terjadi masalah, sebagai bentuk perlindungan diri.
4. Mengalami Penolakan atau Pengabaian
Anak yang merasa tidak diinginkan atau diabaikan sering menginternalisasi pesan bahwa mereka “tidak cukup baik”. Saat dewasa, mereka merasa kehadiran mereka mengganggu, sehingga refleks meminta maaf muncul bahkan tanpa alasan jelas.
5. Diajarkan untuk Selalu Mengalah
Beberapa anak dibesarkan dengan nilai bahwa mereka harus selalu mendahulukan orang lain. Tanpa keseimbangan, ini bisa berubah menjadi keyakinan bahwa kebutuhan pribadi tidak penting—dan setiap usaha untuk mengekspresikan diri terasa seperti kesalahan.
6. Mengalami Bullying atau Perundungan
Anak yang pernah direndahkan oleh teman sebaya sering membawa rasa malu dan tidak aman hingga dewasa. Mereka menjadi sangat berhati-hati agar tidak “mengganggu”, sehingga meminta maaf menjadi cara untuk menjaga jarak aman.
7. Terbiasa Menjadi “Penjaga Kedamaian”
Dalam keluarga yang penuh konflik, anak sering mengambil peran sebagai penenang. Mereka belajar bahwa menjaga harmoni adalah tanggung jawab mereka. Akibatnya, mereka akan cepat meminta maaf untuk meredakan ketegangan—bahkan jika bukan kesalahan mereka.
8. Kurangnya Rasa Aman (Insecure Attachment)
Dalam teori keterikatan (attachment), anak yang tidak mendapatkan rasa aman dari pengasuhnya akan tumbuh dengan kecemasan dalam hubungan. Mereka takut ditinggalkan, sehingga meminta maaf menjadi cara untuk mempertahankan koneksi dengan orang lain.
9. Tidak Pernah Diberi Ruang untuk Menjadi Diri Sendiri
Jika sejak kecil anak ditekan untuk memenuhi ekspektasi tertentu tanpa ruang untuk menjadi autentik, mereka bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa “diri asli mereka tidak cukup baik”. Ini membuat mereka merasa perlu “mengecilkan diri”—termasuk melalui permintaan maaf berlebihan.
Dampak Jangka Panjang
Kebiasaan meminta maaf berlebihan mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya cukup besar, seperti:
Rendahnya harga diri
Sulit menetapkan batas (boundaries)
Mudah dimanfaatkan orang lain
Kecemasan sosial
Rasa bersalah kronis
Bagaimana Mulai Mengubahnya?
Perubahan tidak terjadi dalam semalam, tetapi langkah kecil bisa membantu:
Sadari kapan kamu meminta maaf tanpa alasan jelas
Ganti “maaf” dengan “terima kasih” (misalnya: “terima kasih sudah menunggu”)
Latih afirmasi diri bahwa keberadaanmu valid
Jika perlu, pertimbangkan bantuan profesional seperti psikolog
Penutup
Meminta maaf adalah hal yang baik jika dilakukan pada tempatnya. Namun, ketika seseorang merasa perlu meminta maaf hanya karena ada, itu bukan lagi tentang sopan santun—melainkan tentang luka yang belum sembuh.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
