
Ilustrasi sarapan di waktu terbaik guna mendukung kesehatan dan umur panjang. (freepik)
JawaPos.com - Sarapan sering dianggap sebagai rutinitas sederhana yang hanya bertujuan mengisi tenaga di pagi hari.
Padahal, di balik kebiasaan sederhana ini, tersimpan pengaruh besar terhadap kesehatan tubuh dan kualitas hidup seseorang.
Banyak orang mungkin fokus pada jenis makanan yang mereka konsumsi di pagi hari, namun jarang menyadari bahwa waktu ketika mereka mulai makan juga memainkan peranan penting.
Lalu, kapan sebenarnya waktu terbaik untuk sarapan? Dilansir dari laman RBC Ukraine pada Rabu (8/10), berikut merupakan penjelasan mengenai waktu terbaik untuk sarapan guna mendukung kesehatan dan umur panjang.
Waktu Sarapan yang Baik untuk Kesehatan dan Umur Panjang
Sarapan memang dikenal sebagai waktu makan paling penting dalam sehari. Namun, bukan hanya apa yang kita makan yang berpengaruh, melainkan juga kapan kita melakukannya.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa keterlambatan sarapan dapat berdampak negatif pada kesehatan dan bahkan memengaruhi umur panjang seseorang.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Communications Medicine menemukan bahwa orang yang cenderung menunda waktu sarapan memiliki risiko kematian dini yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang sarapan lebih awal.
Menariknya, penelitian ini juga menyebutkan bahwa setiap satu jam keterlambatan sarapan dapat meningkatkan risiko kematian hingga 8 - 11 persen.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya mengatur waktu sarapan dengan tepat, bukan sekadar makan apa adanya di pagi hari.
Beberapa faktor yang membuat orang sering menunda sarapan antara lain faktor genetika, kesulitan menyiapkan makanan, kondisi kesehatan tertentu, hingga masalah tidur.
Namun, secara umum, para ahli menyarankan agar kita sarapan dalam waktu satu hingga dua jam setelah bangun tidur.
Mengapa? Karena setelah tidur semalaman, tubuh mengalami kondisi puasa alami yang membuat kadar energi menurun.
Sarapan di awal waktu dapat membantu memulihkan energi, menyediakan nutrisi yang diperlukan untuk memulai aktivitas, serta mempersiapkan tubuh menghadapi hari dengan lebih bugar.
Selain itu, makan dalam dua jam setelah bangun juga bermanfaat untuk menstabilkan kadar gula darah dan menyalakan metabolisme tubuh sejak pagi.
Metabolisme yang baik di pagi hari berperan penting agar tubuh dapat membakar kalori dengan lebih efisien, menjaga berat badan, dan mendukung kesehatan jangka panjang.
Penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal Clocks & Sleep menunjukkan bahwa sarapan lebih awal tidak hanya membantu kadar gula darah tetap stabil, tetapi juga meningkatkan respons hormon GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1) setelah makan.
Hormon GLP-1 dilepaskan secara alami oleh tubuh setelah makan untuk membantu mengatur nafsu makan, mendukung proses pencernaan, dan mengontrol kadar gula darah.
Dengan begitu, sarapan di waktu yang tepat bisa membuat tubuh lebih siap menerima asupan makanan, mengurangi rasa lapar berlebihan, dan menjaga gula darah tetap seimbang sepanjang hari.
Selain itu, sarapan di waktu yang kurang lebih sama setiap hari dapat memberikan manfaat tambahan.
Tubuh kita memiliki jam biologis atau ritme sirkadian yang mengatur berbagai fungsi, termasuk pola tidur, metabolisme, dan hormon.
Dengan sarapan di waktu yang konsisten, tubuh mendapatkan sinyal yang jelas bahwa sudah waktunya bangun, aktif, dan memulai aktivitas.
Pola ini membantu tubuh bekerja lebih teratur dan efisien, sehingga fungsi metabolisme, pencernaan, dan hormon bisa berjalan optimal.
Makanan yang Sebaiknya Dihindari Saat Sarapan
1. Kue manis, sereal, donat, dan croissant
Makanan ini sering mengandung lemak trans dan gula dalam jumlah tinggi, yang dapat membuat gula darah naik secara tiba-tiba, diikuti penurunan cepat, sehingga membuat kita mudah lapar kembali dan cepat lelah.
Sereal manis juga termasuk ke dalan kategori ini karena mengandung banyak gula tambahan tetapi sedikit serat, sehingga efeknya pun serupa.
2. Daging olahan (seperti bacon, sosis, dan hot dog)
Daging olahan cenderung tinggi lemak jenuh, kolesterol, dan natrium, yang dapat meningkatkan kadar kolesterol dan risiko penyakit jantung serta tekanan darah tinggi jika dikonsumsi secara berlebihan.
Selain itu, daging olahan juga biasanya rendah serat dan kadang mengandung gula tambahan, sehingga dapat memicu lonjakan gula darah tanpa memberi rasa kenyang yang bertahan lama.
3. Yogurt rasa manis
Yogurt kemasan yang diberi rasa manis atau tambahan pemanis seringkali mengandung gula tambahan dan bahan kimia buatan.
Akibatnya, kandungan gizinya berkurang, sementara efek lonjakan gula darah tetap terjadi.
Pilihan yang lebih sehat adalah yogurt tawar tanpa pemanis, yang dapat dipadukan dengan buah segar atau biji-bijian untuk menambah rasa sekaligus nutrisi.
