
Ilustrasi Risiko dan bahaya sharenting anak di media sosial (Freepik)
JawaPos.com – Apakah Anda pernah melihat teman di media sosial anda sering memposting anaknya di platform digital tersebut? Hal itu bisa menjadi bahaya besar bagi sang anak. Mengapa demikian?
Istilah orang tua yang sering memposting anaknya di media sosial biasa disebut dengan 'sharenting'. Kata tersebut gabungan dari 'sharing' dan 'parenting'. Sharenting ini dicetuskan langsung oleh Psikolog Susan Albers, PsyD.
Dilansir dari laman health.clevelandclinic.org, Sabtu (16/11), sharenting mengacu pada tindakan berbagi secara digital dalam bentuk mengunggah informasi, gambar, cerita, atau pembaruan tentang kehidupan anak anda secara berlebihan.
Dalam kebanyakan kasus, orang tua melakukan sharenting dengan motif yang yang alamiah dan mengalir begitu saja. Namun, hal itu dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan.
Hal yang tidak diinginkan berkaitan dengan privasi, keselamatan dan kesehatan mental, hubungan sosial, dan prospek masa depan anak mereka. Hal itu juga dapat merusak hubungan anda dengan mereka.
Dr. Albers mengatakan bahwa sharenting dapat dimulai sejak dini. Pada tahun 2010, sebuah studi yang banyak dilaporkan oleh AVG Technology menemukan bahwa 92 persen anak Amerika berusia 2 tahun sudah hadir di media sosial. Angka itu mungkin bahkan lebih tinggi sekarang.
Pikirkan lagi tentang memposting kelahiran anak anda di media sosial. Anda mungkin tidak boleh membagikan nama lengkap dan tanggal lahir bayi anda jika postingan anda tidak dilindungi.
Jika anda menyebutkan rumah sakit tempat anda dirawat, anda mengungkapkan lokasi anda, sehingga lebih mudah untuk menentukan alamat rumah anda. Membagikan status kesehatan bayi anda adalah hal yang cukup standar, tetapi dapat menimbulkan bahaya.
Sharenting tidak hanya membahayakan kesehatan mental anak, tetapi juga dapat membahayakan mereka secara fisik.
Dr. Albers memberikan contoh jika Anda mengambil foto anak Anda yang berpose di depan sekolah barunya. Lalu tiba-tiba, semua orang yang memiliki akses ke gambar itu tahu di mana mereka bersekolah dan bagaimana menemukan mereka.
Jika anak anda memegang salah satu tanda papan tulis hari pertama, foto tersebut kemungkinan besar mengungkapkan usia mereka, nama guru mereka, dan banyak lagi.
"Sharenting membuka jendela langsung ke kehidupan anak, yang dapat disalahgunakan oleh predator atau mereka yang berniat jahat," kata Dr. Albers.
Mempulikasikan kehidupan anak anda secara daring dapat memicu pencurian identitas, pelecehan, perundungan, eksploitasi, dan bahkan kekerasan.
Kecerdasan buatan (AI) justru memperburuk masalah ini. Associated Press baru-baru ini melaporkan bahwa pelaku kejahatan menggunakan generator gambar untuk membuat konten seksual eksplisit yang menampilkan anak-anak dan remaja.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
