
Ilustrasi seorang perempuan melihat berita di media sosial. (Pexels)
JawaPos.com – Di zaman yang semakin serba digital ini, media sosial telah menjadi platform yang mudah untuk siapa pun mendapatkan berita dengan cepat. Namun, sayangnya, tidak semua berita yang disebarkan tersebut merupakan kebenaran.
Maraknya berita palsu atau hoax, semakin banyak pula masyarakat yang terhasut dalam mempercayai berita palsu secara mentah-mentah tanpa mau melakukan pengecekan fakta.
Di sisi lain, psikologi mengungkapkan bahwa terdapat beberapa perilaku tertentu yang membuat orang lebih cenderung mempercayai informasi yang salah. Lalu, apa saja perilaku-perilaku tersebut?
Melansir dari laman Small Business Bonfire, Senin (11/11), berikut adalah daftarnya.
1. Ketergantungan pada media sosial untuk mendapatkan berita
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi sumber berita utama bagi banyak orang, karena lebih mudah dan cepat. Namun, ini juga merupakan tempat berkembang biaknya misinformasi dan berita palsu.
Orang-orang yang sangat bergantung pada media sosial untuk mendapatkan berita cenderung lebih mudah tertipu oleh berita palsu.
Ini bukan tentang menjelek-jelekkan media sosial. Namun, mengenali keterbatasannya dan memastikan sumber berita Anda sangat penting untuk memisahkan yang baik dari yang buruk.
2. Abai melakukan pengecekan sumber berita
Mengabaikan sumber informasi atau tidak melakukan pengecekan fakta berita merupakan perilaku umum yang sering dilakukan orang-orang yang mempercayai berita palsu.
Selalu periksa kredibilitas sumber berita atau melakukan cross-check sebelum menerima berita tersebut sebagai kebenaran.
Tidak semua situs atau akun media sosial memiliki integritas jurnalistik atau proses pengecekan fakta yang ketat. Hanya karena suatu cerita dibagikan oleh seorang teman, atau berasal dari suatu akun yang mempunyai ribuan pengikut, tidak serta merta menjadikannya benar.
3. Kurangnya berpikir kritis
Berpikir kritis adalah keterampilan menganalisis informasi secara objektif dan membentuk penilaian yang beralasan, yang melibatkan evaluasi data, fakta, dan penelitian yang cermat.
Sebuah penelitian pada tahun 2020 mengungkapkan bahwa siswa dengan keterampilan berpikir kritis yang kuat cenderung tidak mudah tertipu oleh berita palsu. Kemampuan untuk mempertanyakan, menganalisis, dan menilai kredibilitas berita berfungsi sebagai pertahanan terhadap misinformasi.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
