Ilustrasi menunda pekerjaan
JawaPos.com – Hampir setiap orang pernah berada di situasi ketika pekerjaan sudah menumpuk, tetapi tetap memilih menundanya.
Aktivitas kecil seperti mengecek media sosial, menonton video singkat, atau sekadar rebahan sejenak terasa lebih menggoda daripada menyelesaikan tugas yang mendesak. Fenomena ini disebut prokrastinasi, yaitu kebiasaan menunda pekerjaan yang ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar malas.
Menurut penjelasan dari kanal edukasi Satu Persen – Indonesia Life School, prokrastinasi bukan hanya masalah manajemen waktu. Ada aspek psikologis yang membuat seseorang sulit memulai atau menyelesaikan tugas tepat waktu.
Beberapa faktor yang sering memicu kebiasaan menunda antara lain:
Rasa takut gagal. Individu yang khawatir hasil kerjanya tidak sesuai ekspektasi cenderung memilih menunda.
Perfeksionisme. Standar yang terlalu tinggi membuat seseorang menunggu “waktu tepat” yang sering kali tidak pernah datang.
Godaan kepuasan instan. Otak manusia lebih memilih hiburan cepat seperti media sosial atau gim dibanding pekerjaan berat.
Kondisi emosional. Perasaan cemas, stres, atau kurang percaya diri membuat fokus berkurang dan penundaan makin sering terjadi.
Dari sisi lain, konten edukasi yang dibagikan oleh psikolog di media sosial menyoroti bagaimana otak manusia bekerja. Secara alami, otak lebih memilih aktivitas yang memberi kepuasan instan. Itulah sebabnya menonton video singkat, bermain gim, atau sekadar mengobrol terasa lebih menarik dibanding mengerjakan pekerjaan yang berat dan menuntut konsentrasi. Pola ini membuat prokrastinasi semakin sulit dihindari, terutama di era digital.
Baca Juga: Kenapa Kita Sering Merasa Tidak Pernah Cukup? 5 Alasan Psikologis dan Bagaimana Cara Mengatasinya
Kebiasaan menunda pekerjaan juga dapat dipicu oleh kondisi emosional. Perasaan cemas, tidak percaya diri, atau tertekan sering kali membuat seseorang sulit fokus. Alih-alih menghadapi, mereka menunda dengan harapan kecemasan itu berkurang. Namun, kenyataannya penundaan justru memperbesar tekanan karena pekerjaan menumpuk dan waktu semakin terbatas.
Fenomena ini bisa muncul sejak usia remaja, ketika seseorang mulai terbiasa dengan tuntutan akademik dan tekanan sosial. Studi kasus yang dibahas oleh beberapa psikolog di media sosial menunjukkan bahwa remaja hingga dewasa muda merupakan kelompok paling rentan. Lingkungan yang penuh distraksi digital membuat kebiasaan menunda semakin mengakar.
Dampaknya tidak bisa disepelekan. Prokrastinasi yang terus berulang dapat menurunkan produktivitas, menimbulkan rasa bersalah, hingga memicu stres berkepanjangan. Dalam jangka panjang, individu yang terbiasa menunda pekerjaan bisa kehilangan kesempatan, baik dalam pendidikan maupun karier. Bahkan, kebiasaan ini bisa menurunkan kepercayaan diri karena selalu merasa tertinggal dari orang lain.

BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Pembagian Grup Liga 2 2026/2027 Berubah, PSIS Semarang dan Persiku Kudus Geser ke Wilayah Barat
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
PP Muhammadiyah Minta MBG Dihentikan Sementara, Sebut Mudaratnya Lebih Banyak
Momen Republik Ceko dan Afrika Selatan Harus Puas Bermain Imbang 1-1
