Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 17 September 2025 | 14.51 WIB

Mengapa Seseorang Melakukan Ghosting dalam Hubungan dan Apa Dampaknya? Ini Penjelasannya Menurut Psikologi

Mengapa Seseorang Melakukan Ghosting dalam Hubungan dan Apa Dampaknya? Ini Penjelasannya Menurut Psikologi (Freepik) - Image

Mengapa Seseorang Melakukan Ghosting dalam Hubungan dan Apa Dampaknya? Ini Penjelasannya Menurut Psikologi (Freepik)

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa bingung ketika seseorang yang awalnya intens berkomunikasi tiba-tiba menghilang tanpa jejak? Satu hari kalian bisa bertukar pesan tanpa henti, lalu keesokan harinya semuanya senyap. Tidak ada penjelasan, tidak ada penutup, hanya keheningan. Fenomena ini dikenal dengan istilah ghosting. 

Dalam penjelasan pada salah satu video dari kanal youtube psikologi populer yakni Psych2go, menurut penelitian yang dimuat di Psychology Today tahun 2018, sekitar 25% pria dan wanita pernah mengalami ghosting dalam hubungan romantis, sementara 22% mengakui pernah melakukan ghosting kepada orang lain.

Banyak orang menilai ghosting sebagai perilaku tidak dewasa atau bahkan kasar. Namun, kenyataannya lebih kompleks dari itu. Terkadang ghosting bukan tentang ketidakpedulian, melainkan tentang rasa lelah mental, kebingungan, hingga ketidakmampuan menghadapi situasi yang terasa menekan.

Mengapa Orang Melakukan Ghosting?

Salah satu alasan utama seseorang melakukan ghosting adalah karena merasa kewalahan. Ketika sudah lelah secara emosional, satu pesan tambahan saja bisa terasa berat. Kadang, tidak ada kesalahan dari pihak lain, hanya saja pelaku ghosting tidak memiliki energi untuk terus hadir. Niatnya mungkin hanya menunda balasan, tetapi waktu yang berlalu membuat mereka semakin sulit kembali.

Ada juga orang yang melakukan ghosting karena ingin menghindari rasa bersalah. Mereka takut menyakiti orang lain dengan kejujuran, takut terlihat egois, atau khawatir dianggap sebagai "orang jahat." Akhirnya, diam dipilih sebagai jalan keluar termudah, meski pada akhirnya justru menimbulkan luka yang lebih dalam.

Dampak Ghosting bagi Kedua Pihak

Bagi yang ditinggalkan, ghosting bisa menimbulkan luka emosional, kebingungan, bahkan merusak rasa percaya diri. Mereka mungkin bertanya-tanya, "Apa salahku?" Padahal, masalah sebenarnya tidak selalu ada pada mereka.

Sementara itu, bagi pelaku ghosting, keputusan diam juga meninggalkan jejak emosional. Psikolog menyebutnya emotional residue, perasaan bersalah, malu, atau penyesalan yang muncul karena tahu ada sesuatu yang tidak terselesaikan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa mengikis rasa percaya diri dan membuat seseorang semakin sulit menghadapi konflik.

Kapan Ghosting Bisa Dibenarkan?

Meski sering dipandang negatif, ghosting bukan berarti selalu salah. Ada kondisi tertentu di mana menghilang tanpa kata adalah cara terbaik untuk melindungi diri. Misalnya, ketika menghadapi orang yang manipulatif, toxic, atau melewati batas hingga membuatmu merasa tidak aman. Dalam kasus seperti ini, diam bukanlah kelemahan, melainkan bentuk perlindungan diri.

Di sisi lain, daripada terbiasa menghilang, kita bisa belajar untuk menghadapi situasi sulit dengan komunikasi yang lebih sehat. Mengungkapkan batasan, menyampaikan kebutuhan, atau jujur tentang perasaan bisa membantu hubungan berjalan lebih sehat. Konflik memang tidak nyaman, tetapi jika dihadapi dengan baik, hal itu justru bisa memperkuat kedewasaan emosional dan membangun kepercayaan yang lebih kokoh.

Ghosting adalah fenomena yang umum terjadi di era komunikasi serba cepat ini. Namun, di balik diam yang terasa sederhana, ada dampak emosional yang tidak bisa diabaikan, baik bagi yang ditinggalkan maupun pelakunya. 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore