Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 September 2025 | 04.11 WIB

Susah Percaya Sama Orang Baru? Ternyata Otak dan Pengalaman Masa Lalu Punya Peran Besar Banget Loh!

Ilustrasi pria yang tidak percaya dengan orang baru

JawaPos.com – Pernah merasa ragu saat bertemu orang baru? Meski tampak ramah, ada sebagian orang yang sulit membuka diri dan mempercayai orang lain. Fenomena ini bukan sekadar sikap hati-hati, tetapi bisa jadi terkait pengalaman emosional hingga faktor psikologis yang lebih dalam.

Menurut kanal edukasi Satu Persen – Indonesia Life School, kepercayaan adalah fondasi utama dalam hubungan sosial. Ketika seseorang sulit mempercayai orang baru, biasanya ada pengalaman masa lalu yang membentuk mekanisme perlindungan diri. Misalnya, pernah dikhianati, dibohongi, atau disakiti dalam hubungan sebelumnya, sehingga muncul ketakutan yang terbawa hingga ke interaksi baru.

Hal ini juga disampaikan oleh Indah SJ, M.Psi., Psikolog melalui akun TikTok @sundarindah. Ia menjelaskan bahwa rasa sulit percaya kerap dipengaruhi trauma. Luka emosional dari masa lalu membuat seseorang lebih memilih menjaga jarak agar tidak kembali terluka. Namun, sikap ini bisa menjadi penghalang dalam membangun koneksi sehat dengan orang lain.

Sementara itu, Ananza, S.Psi menyebut fenomena ini berkaitan dengan rendahnya self-esteem. Orang dengan rasa percaya diri yang kurang sering kali merasa dirinya tidak layak dipercaya atau takut dianggap lemah. Akibatnya, mereka memasang “tembok” sebagai pelindung, meskipun sebenarnya membutuhkan hubungan yang dekat.

Dari perspektif lain, akun TikTok @zharifahsalma menyoroti faktor pola asuh. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kecurigaan atau ketidakstabilan emosional orang tua lebih cenderung sulit percaya pada orang baru ketika dewasa. Lingkungan awal yang tidak aman membuat otak belajar bahwa membuka diri sama dengan risiko disakiti.

Psikolog Fardiyandi juga menambahkan, rasa sulit mempercayai orang baru bisa muncul karena kecenderungan overthinking. Orang dengan kebiasaan berpikir berlebihan sering kali membayangkan skenario negatif sebelum interaksi benar-benar terjadi. Alih-alih memberi kesempatan, mereka lebih fokus pada potensi kegagalan atau rasa sakit yang mungkin datang.

Mengapa ini penting?

Kesulitan mempercayai orang baru tidak hanya menghambat hubungan romantis, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan sosial dan profesional. Di dunia kerja, misalnya, rasa sulit percaya bisa memicu konflik tim, kesalahpahaman, bahkan memperlambat produktivitas.

Dampak jika terus berlanjut

Menurut Satu Persen, ketika seseorang selalu menutup diri, risiko terisolasi secara sosial akan semakin besar. Kondisi ini dapat menimbulkan kesepian, rasa cemas berlebihan, hingga depresi. Padahal, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dan dukungan dari orang lain.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore