
Ilustrasi Standar Kecantikan (Freepik)
JawaPos.com - Media sosial menjadi cermin sekaligus panggung yang memantulkan citra ‘sempurna’, yang kadang tak realistis dan memperkuat citra kecantikan sempit dalam benak remaja. Dilansir dari Kultu Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, disebutkan bahwa paparan visual yang sering dimanipulasi di media sosial memicu ketidakpuasan terhadap tubuh, menurunkan harga diri, bahkan meningkatkan tingkat kecemasan dan depresi di kalangan remaja perempuan.
Dilansir dari Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN) menyoroti bahwa media sosial kerap menyajikan konten estetis semu, memupuk perbandingan sosial (social comparison) yang kerap mengarah pada gambaran diri ideal yang tak terjangkau, yang membuat remaja merasa tak pernah cukup baik.
Ketika filter dan edit foto menjadi norma, batas antara realita dan kreasi digital menjadi kabur, membuat remaja butuh intervensi kritis dalam menyaring apa yang mereka tonton. Standar yang dijadikan standar kecantikan “ideal” justru mereduksi ragam kecantikan menjadi homogen, seperti kulit putih, tubuh kurus, dan fitur wajah tertentu.
KPIN menegaskan pentingnya pendekatan apresiatif yang mengajak remaja untuk lebih bersyukur terhadap keunikan diri dan melawan narasi mainstream dengan konten yang mendorong self-love dan body positivity. Ini menciptakan ruang bagi kecantikan yang berbeda dan otentik di tengah tekanan visual yang kuat.
Remaja perempuan yang terus menerus terpapar image ideal di media sosial menunjukkan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi daripada mereka yang mengonsumsinya secara sadar dan kritis.
Sayangnya, banyak remaja tidak memiliki literasi digital visual yang memadai untuk membedakan antara tampilan alami dan hasil manipulasi, ini memperdalam ketidakpuasan atas citra diri mereka.
Namun, ketika remaja diberi ruang untuk melihat konten yang menampilkan keberagaman tubuh, dengan rasa cinta dan penerimaan terhadap diri sendiri, proses membangun kepercayaan diri bisa jauh lebih sehat.
Orang tua, guru, serta pembuat konten, bisa berperan penting sebagai penyeimbang, dengan menghadirkan konten media sosial yang realistis dan mendukung kesejahteraan psikologis.
Pelatihan kritik media dan body positivity sebaiknya masuk ke kurikulum pendidikan, membantu remaja mengembangkan pandangan untuk melihat kecantikan melalui mata yang lebih bijak dan lebih inklusif.
Kesadaran bahwa media sosial bukan representasi sejati kehidupan memberi ruang bagi remaja untuk memilih bagaimana mereka ingin merasa dan tampil dan bukan harus berubah demi standar digital tak realistis.
Semakin banyak remaja yang sekarang berani membagikan foto tanpa filter dan cerita soal perjalanan self-love mereka, ini pelan tapi pasti menumbuhkan perubahan positif dalam kultur visual media sosial.
Dengan pemilahan konten yang bijak dan dukungan positif, kita bisa membantu remaja menavigasi dunia media sosial tanpa kehilangan rasa cinta kepada diri mereka sendiri, karena kecantikan sejati datang dari kepercayaan diri yang tulus, bukan ilusi layar. (*)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
