Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Agustus 2025 | 01.04 WIB

Mengapa Kita Sering Menunda Tidur? Pahami Fenomena Revenge Bedtime Procrastination yang Merugikan Kesehatan

Ilustrasi seseorang tidur nyenyak (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa bahwa 24 jam dalam sehari rasanya masih kurang untuk beraktivitas? Selanjutnya, kamu lebih memilih untuk mengorbankan waktu istirahatmu demi kegiatan lain yang menyenangkan. Nah, fenomena ini disebut dengan Revenge Bedtime Procrastination (RBP).

Istilah ini pertama kali populer di Tiongkok sebutan baofuxing aoye (revenge staying up late). Konsepnya sederhana: ketika seseorang merasa waktunya di siang hari habis untuk pekerjaan atau kewajiban, mereka "membalas" kekurangan waktu pribadi dengan menunda tidur.

Aktivitas yang dilakukan bisa beragam, mulai dari menonton drama, bermain game, membaca, hingga sekadar berselancar di media sosial. Faktor yang melatarbelakangi situasi ini seringkali dikaitkan dengan budaya kerja penuh tekanan hingga menyebabkan kesibukan berkepanjangan. Meskipun terasa menyenangkan, kebiasaan ini diam-diam merugikan kesehatan tubuh maupun pikiran.

Penelitian dari Kroese et al. (2016) dalam Journal of Behavioral Sleep Medicine menjelaskan bahwa penundaan tidur bukan semata-mata masalah disiplin, tetapi justru bentuk "pembalasan." Sleep Foundation juga menyatakan ketika seseorang mengorbankan waktu istirahatnya, otomatis sistem imun tubuh akan melemah diikuti sejumlah gejala yang hadir. 

Lemas seharian, sulit fokus, produktivitas menurun sepanjang hari, meningkatnya risiko kecelakaan karena berkurangnya kewaspadaan, bahkan bisa jauh memburuk daripada itu.

Siklus tidur yang tidak teratur juga mempengaruhi mood dan memperburuk stress. Selain itu jika terus dilakukan akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti diabetes, penyakit jantung, hingga risiko obesitas. 

Sebaliknya, tidur yang cukup membantu memperkuat memori, meningkatkan kreativitas, serta menjaga kestabilan emosi. Ketika tidur dikorbankan, bagian otak yang mengatur emosi, yaitu amigdala, menjadi lebih aktif. Dari sisi psikologis, hal ini menyebabkan seseorang lebih mudah marah, cemas, atau stres.

Siklus tidur yang berantakan mengganggu metabolisme tubuh dimana ini menunjukkan bahwa kebiasaan kecil seperti begadang dapat berimbas besar dalam jangka panjang. Fenomena ini juga berkaitan erat dengan betapa pentingnya work-life balance.

Ketika kehidupan sehari-hari didominasi oleh pekerjaan atau akademik, kebutuhan psikologis untuk memiliki waktu pribadi akan semakin besar. Jika tidak dikelola dengan baik, orang akan mencari jalan pintas dengan mengorbankan tidur. Padahal, tidur yang sehat seharusnya menjadi prioritas, sama pentingnya dengan makan dan berolahraga.

Fenomena Revenge Bedtime Procrastination memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan psikologis akan otonomi waktu dan kebutuhan biologis untuk beristirahat. Jika tidak diatasi, kebiasaan ini berpotensi memunculkan masalah kesehatan serius.

Oleh karena itu, strategi manajemen waktu, edukasi tentang pentingnya tidur, serta pembentukan rutinitas yang sehat perlu menjadi prioritas individu maupun masyarakat.

Daripada menjadikan malam sebagai ajang balas dendam terhadap kesibukan, lebih baik menjadikannya sebagai awal dari hari yang lebih produktif. Tidur cukup bukan berarti kita kehilangan waktu, justru tidur adalah cara untuk mendapatkan kembali energi, fokus, dan semangat untuk menjalani hari berikutnya.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore