
Ilustrasi orang yang berselisih dengan keluarga.
JawaPos.com - Perselisihan antara manusia memang tidak bisa dipungkiri, hal itu bisa terjadi dengan teman, pasangan, rekan kerja profesional, bahkan keluarga yang memiliki ikatan darah.
Bahkan banyak beberapa kasus antar saudara atau orang tua dengan dengan anak saling berselisih karena perbedaan sudut pandang, sehingga mereka kerap adu mulut jika sedang bersama.
Dilansir dari laman Small Biz Technology pada (12/01) jika kamu sering berselisih dengan keluarga, kemungkinan kamu sering menunjukkan 9 perilaku ini tanpa disadari:
1. Bersikap defensif
Mereka yang sering berselisih dengan anggota keluarga cenderung mengambil sikap defensif dalam sebagian besar interaksi. Seolah-olah mereka terus-menerus mengharapkan serangan atau kritik.
Sikap defensif ini berasal dari kebutuhan psikologis untuk melindungi diri sendiri, hal ini tidak selalu berarti argumentatif atau konfrontatif. Melainkan, merupakan reaksi bawah sadar terhadap ancaman yang dirasakan, bahkan ketika tidak ada ancaman nyata.
2. Rentan terhadap bias konfirmasi
Sederhananya, ini adalah kecenderungan untuk menafsirkan informasi baru dengan cara yang menegaskan keyakinan atau ide yang sudah ada sebelumnya. Ini seperti memakai kacamata berwarna yang hanya memperlihatkan warna yang ingin mereka lihat.
Dalam interaksi keluarga, mereka yang terus-menerus berselisih sering menunjukkan bias ini. Mereka cenderung memilih dan berfokus pada rincian yang mengonfirmasi asumsi negatif tentang anggota keluarga.
Misalnya, jika mereka yakin saudaranya selalu mengkritik mereka, mungkin mengabaikan pujian dan hanya fokus pada komentar kritis, tidak peduli seberapa jarang atau remehnya komentar tersebut.
3. Kesulitan dalam mengambil perspektif
Mengingat kerentanan mereka terhadap bias konfirmasi, mungkin tidak mengherankan bila mereka kesulitan dalam pengambilan perspektif. Ini tentang menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami pikiran, perasaan, serta motivasi.
Jadi, alih-alih memahami bahwa omelan orangtua disebabkan oleh rasa khawatir, mereka mungkin menganggapnya sebagai perilaku yang mengontrol. Atau mungkin melihat nasihat saudaranya sebagai upaya untuk meremehkan, bukan sebuah sikap yang bermaksud baik.
4. Sulit mengekspresikkan kerentanan
