Ilustrasi orang yang merasa kesepian (freepik)
JawaPos.com - Ada perbedaan jelas antara menua bersama orang-orang yang Anda sayangi di sekitar Anda dan berakhir terisolasi di usia tua.
Perbedaan ini sering kali bermuara pada perilaku tertentu yang tanpa kita sadari kita adopsi dari waktu ke waktu.
Seiring bertambahnya usia, tanpa kita sadari kita mungkin terjebak dalam pola yang menjauhkan orang lain alih-alih mendekatkan mereka.
Dan sulit untuk melihat pola-pola ini saat kita berada tepat di tengah-tengahnya.
Mengenali perilaku ini sejak dini dapat membantu kita membuat perubahan untuk memastikan kita tidak berakhir kesepian di masa depan.
Dalam artikel yang dikutip dari
geediting.com, Minggu (15/12) ini, kita akan mengetahui 8 perilaku umum yang biasanya dilakukan orang-orang yang akhirnya terisolasi di usia tua, sering kali tanpa menyadarinya.
1. Resistensi terhadap perubahan
Sering dikatakan bahwa perubahan adalah satu-satunya hal yang konstan dalam hidup. Namun, seiring bertambahnya usia, kita mungkin mendapati diri kita lebih menolak perubahan daripada menerimanya.
Penolakan ini bukan hanya berlaku pada perubahan besar seperti pindah rumah atau perubahan karier.
Itu juga dapat muncul dalam kebiasaan dan rutinitas harian kita, sikap kita terhadap teknologi baru, atau bahkan keinginan kita untuk mencoba makanan atau aktivitas baru.
Masalahnya dengan menolak perubahan adalah bahwa hal itu dapat mengarah pada stagnasi.
Dan ketika kita mandek, kita kehilangan kontak dengan dunia di sekitar kita.
Kita menjadi kurang mudah beradaptasi, kurang terbuka terhadap pengalaman baru, dan kurang mampu terhubung dengan orang lain yang mungkin memiliki pandangan atau gaya hidup yang berbeda.
Ketakutan akan perubahan sering kali membuat orang mengurung diri dalam zona nyaman, yang dapat mengakibatkan isolasi dan kesepian seiring bertambahnya usia.
2. Kurangnya pemahaman diri
Saat kita menjalani hidup, mudah bagi kita melupakan jati diri kita sebenarnya. Kita bisa terjebak dalam peran yang kita mainkan, orang tua, karyawan, teman, dan melupakan identitas individu kita.
Bila kita tidak memahami diri sendiri atau nilai-nilai inti kita, kita berisiko menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan jati diri kita.
Kurangnya keselarasan ini dapat menimbulkan perasaan tidak puas dan terputus hubungan, baik dengan diri kita sendiri maupun orang-orang di sekitar kita.
Dan seperti yang pernah dikatakan Socrates, “Hidup yang tidak diteliti tidak layak dijalani.” Kutipan ini sangat menyentuh hati saya karena menggarisbawahi pentingnya introspeksi dalam menjalani kehidupan yang memuaskan.
Memahami diri sendiri, keinginan Anda, gairah Anda, dan nilai-nilai Anda sangat penting jika Anda ingin membina hubungan yang bermakna dengan orang lain.
3. Tidak adanya tujuan yang bermakna
Seiring bertambahnya usia, bukan hal yang aneh jika kita mendapati diri kita melayang tanpa tujuan, terutama setelah pensiun.
Tanpa tujuan atau cita-cita yang jelas untuk dicapai, hari-hari terasa campur aduk dan kehidupan terasa monoton dan tidak memuaskan.
Sasaran memberi kita arah. Mereka menyediakan peta jalan bagi kehidupan kita dan dapat memotivasi kita untuk terus belajar, bertumbuh, dan terhubung dengan orang lain.
Tanpa mereka, kita berisiko terjerumus ke dalam kebiasaan buruk dan menjadi terisolasi seiring dunia kita semakin menyempit.
Mari kita bersikap apa adanya dan jujur di sini. Menetapkan tujuan yang berarti bagi hidup Anda bukanlah suatu pilihan, melainkan suatu keharusan.
Ini tentang menciptakan visi untuk masa depan Anda yang membuat Anda bersemangat dan selaras dengan nilai-nilai inti Anda.
Ini tentang mengidentifikasi apa yang ingin Anda capai dan membuat komitmen pada diri sendiri untuk mengejarnya. Tidak ada kata terlambat untuk menetapkan tujuan baru.
Entah itu mempelajari keterampilan baru, menjadi sukarelawan di komunitas Anda, atau menekuni hobi yang terlupakan, memiliki sesuatu untuk diperjuangkan dapat memperkaya hidup Anda dan menjauhkan Anda dari rasa kesepian seiring bertambahnya usia.
Faktanya, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam BMC Geriatrics menemukan bahwa orang dewasa yang lebih tua yang menetapkan tujuan pribadi mengalami tingkat kesejahteraan dan kepuasan hidup yang lebih tinggi.
4. Melepaskan kendali atas arah hidup
Seringkali kita membiarkan keadaan, rutinitas, atau bahkan orang lain mengarahkan jalan hidup kita.
Kita menjadi penumpang dalam keberadaan kita sendiri, membiarkan kehidupan terjadi pada kita alih-alih berpartisipasi secara aktif di dalamnya.
Faktanya, saat kita melepaskan kendali dan membiarkan faktor eksternal menentukan jalan kita, kita menciptakan kekosongan.
Dan kekosongan ini dapat menimbulkan perasaan terputus, ketidakpuasan, dan akhirnya, isolasi.
5. Mengabaikan refleksi diri
Dalam kesibukan hidup, kita mudah lupa ke mana kita akan pergi dan mengapa. Di situlah refleksi diri berperan. Menulis jurnal, adalah alat yang ampuh untuk refleksi diri.
Hal ini memungkinkan kita untuk melihat kembali pikiran, emosi, dan pengalaman kita, membantu kita memahami pola dan perilaku kita dengan lebih baik.
Namun, banyak di antara kita yang mengabaikan praktik ini, dan lama-kelamaan, kita bisa kehilangan kontak dengan diri kita sendiri.
Keterputusan ini dapat menyebabkan perasaan terisolasi dan kesepian, terutama seiring bertambahnya usia.
6. Gagal mengubah kebiasaan negatif
Kebiasaan, baik dan buruk, membentuk tulang punggung kehidupan kita sehari-hari.
Seiring berjalannya waktu, hal itu dapat memberi dampak signifikan terhadap hubungan, kesehatan, dan kesejahteraan kita secara keseluruhan.
Namun, banyak di antara kita yang kesulitan melepaskan diri dari kebiasaan negatif. Ini dapat berkisar dari pilihan gaya hidup yang tidak sehat hingga pola pikir atau perilaku yang merugikan.
Masalahnya dengan kebiasaan negatif adalah kebiasaan tersebut dapat mengarah pada kemerosotan.
Mereka dapat merusak hubungan kita, memengaruhi kesehatan fisik dan mental kita, dan akhirnya menyebabkan isolasi dan kesepian seiring bertambahnya usia.
Penting untuk diingat bahwa mengubah kebiasaan ini bukanlah hal yang mustahil.
Itu membutuhkan kesadaran diri, tekad, dan kesabaran.
7. Hidup tanpa tujuan
Ini adalah kebenaran yang pahit, tetapi hidup tanpa tujuan dapat mengakibatkan kurangnya kepuasan dan, akhirnya, isolasi.
Saat kita kehilangan tujuan, hidup kita akan terasa hampa dan tak berarti, dan kekosongan ini dapat menjauhkan orang-orang.
Seperti yang pernah dikatakan Friedrich Nietzsche , “Dia yang memiliki alasan untuk hidup dapat menanggung hampir semua hal.”
Memiliki tujuan memberi kita arahan, menginspirasi kita, dan menarik orang-orang yang berpikiran sama ke dalam hidup kita.
Menjalani hidup yang bertujuan bukanlah tentang meraih ketenaran atau mengumpulkan kekayaan. Ini tentang menemukan sesuatu yang Anda sukai dan menekuninya dengan sepenuh hati.
8. Menyembunyikan jati dirimu yang sebenarnya
Dalam dunia yang sering menghargai kesesuaian, mungkin kita tergoda untuk menyembunyikan jati diri kita yang sebenarnya.
Kita mungkin berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diri kita agar bisa diterima atau menghindari konflik.
Namun, inilah paradoksnya, sementara kita mungkin berpikir bahwa mengikuti aturan akan membuat kita lebih disukai, hal itu sebenarnya malah menjauhkan orang.
Hubungan yang sejati dibangun atas dasar keaslian, bukan kepura-puraan.
Saat kita menyembunyikan jati diri kita, kita menarik orang dan situasi yang tidak sesuai dengan jati diri kita.
Seiring berjalannya waktu, ketidakselarasan ini dapat menimbulkan perasaan terputus dan terisolasi.
Menjalani hidup autentik mungkin tampak berlawanan dengan intuisi dalam dunia yang sering kali lebih mementingkan penyesuaian diri daripada menonjol.
Tetapi hal ini penting untuk membina hubungan yang bermakna dan menangkal kesepian seiring bertambahnya usia.
Jadi, terimalah kekhasan Anda, minat Anda, kekuatan Anda, dan bahkan kelemahan Anda. Karena jujur terhadap diri sendiri adalah salah satu cara terbaik untuk menjalani kehidupan yang memuaskan dan menarik koneksi yang tulus.
Penelitian menunjukkan bahwa keaslian yang dirasakan terkait positif dengan ukuran kebahagiaan subjektif dan kepuasan hidup.