
Ilustrasi update status galau di media sosial (Freepik)
JawaPos.com - Di era modern saat ini banyak orang memanfaatkan media sosial untuk berbagi. Tak hanya berbagai kebahagiaan saja, namun orang-orang terkadang juga berbagi status galau di media sosial.
Lantas bagaimana makna psikologis orang jika sering update status galau di media sosial? Apakah wajar? Dan bagaimana kata psikolog tentang hal itu?
Dilansir dari laman theconversation.com oleh JawaPos.com, Rabu (6/11) orang yang sering update status galau di media sosial biasa disebut dengan 'sadfishing' artinya memancing kesedihan atau memancing simpati orang lain secara daring.
Meskipun istilah sadfishing tergolong baru yakni dicetuskan pada awal tahun 2019 oleh penulis Rebecca Reid banyak orang mungkin familier dengan tindakan memancing simpati daring, baik mereka pernah melihatnya, atau mereka sendiri yang melakukannya.
Reid mendefinisikan sadfishing sebagai tindakan mengunggah materi pribadi yang sensitif dan emosional daring untuk mendapatkan simpati atau perhatian dari orang-orang di media sosial.
Konsep sadfishing di media sosial tergolong baru, yang berarti saat ini belum ada penelitian yang meneliti perilaku ini. Namun ada kemiripan antara sadfishing dan perilaku mencari perhatian secara umum. Yakni seseorang bertindak untuk mendapatkan perhatian, simpati, atau validasi dari orang lain.
Perilaku mencari perhatian dikaitkan dengan harga diri yang rendah, kesepian, narsisme, atau Machiavellianisme (keinginan untuk memanipulasi orang lain).
Akan tetapi, sulit untuk memahami motivasi pengguna media sosial hanya dengan membaca postingan atau aktivitas daring mereka.
Mungkin saja postingan sadfishing dimaksudkan untuk benar-benar menyoroti isu penting atau sensitif, seperti depresi atau kecemasan.
Postingan yang lain mungkin sekadar berbagi informasi tanpa mempedulikan respons yang mungkin ditimbulkannya.
Beberapa postingan sadfishing mungkin hanya ada untuk mengeksploitasi atau memprovokasi pembaca.
Seperti halnya perilaku mencari perhatian di dunia nyata, sadfishing di media sosial mungkin mencerminkan masalah yang lebih dalam, seperti gangguan kepribadian.
Misalnya, gangguan kepribadian histrionik ditandai dengan tingkat pencarian perhatian yang tinggi, dan dimulai pada awal masa dewasa.
Orang-orang ini memiliki kebutuhan yang berlebihan untuk mendapatkan persetujuan, dramatis, melebih-lebihkan, dan mendambakan penghargaan.
Orang-orang yang dengan sengaja bersikap sadfishing harus tahu bahwa tindakan mereka berpotensi memengaruhi kesejahteraan orang lain.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
