Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 September 2024 | 17.10 WIB

Anak yang Terlalu Banyak Dapat Kritik Cenderung Mengembangkan 8 Sifat Ini di Suatu Hari Menurut Psikologi

Sifat anak yang terlalu banyak mendapat kritik menurut Psikologi. (Pexels/ Monstera Production) - Image

Sifat anak yang terlalu banyak mendapat kritik menurut Psikologi. (Pexels/ Monstera Production)

JawaPos.com – Menurut psikologi, kritik yang terlalu sering diterima oleh anak dapat berdampak signifikan pada perkembangan mental dan emosional mereka di masa depan. Mereka cenderung mengembangkan beberapa sifat yang terbentuk sebagai mekanisme pertahanan diri.

Kritik yang berlebihan ini bisa mempengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri dan hubungannya dengan lingkungan sekitar. Psikologi menunjukkan bahwa sifat tertentu akan muncul sebagai akibat dari apa yang mereka alami secara berulang, membentuk karakter secara tidak langsung.

Ketika kritik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seorang anak, dampak emosionalnya dapat berlanjut hingga dewasa. Mereka mungkin mulai menunjukkan perubahan dalam perilaku dan cara berpikir, yang akhirnya mempengaruhi kehidupan sosial dan psikologis mereka.

Dilansir dari Hack Spirit pada Kamis (19/9), dijelaskan bahwa ada delapan sifat yang akan dimiliki anak yang terlalu banyak mendapat kritik menurut Psikologi.

  1. Kritik berlebihan terhadap diri sendiri

Mereka yang tumbuh dengan kritik berlebihan cenderung mengembangkan sikap sangat kritis terhadap diri sendiri. Kebiasaan ini berakar dari pola pikir yang terbentuk sejak masa kanak-kanak, di mana standar yang terlalu tinggi sering diterapkan pada mereka.

Akibatnya, sebagai orang dewasa mereka kerap menyalahkan diri sendiri atas kesalahan sekecil apapun. Meski hal ini bisa mendorong etos kerja yang kuat, dampak negatifnya bisa berupa stres berkepanjangan dan rasa percaya diri yang rendah.

Mengenali akar masalah ini merupakan langkah awal untuk membangun citra diri yang lebih positif dan realistis.

  1. Perfeksionisme yang berlebihan 

Tuntutan untuk selalu sempurna sejak kecil seringkali berkembang menjadi sifat perfeksionis yang ekstrem di masa dewasa. Orang-orang dengan latar belakang seperti ini cenderung memaksakan standar yang sangat tinggi dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Meski perfeksionisme bisa mendorong prestasi, dampak negatifnya bisa sangat memberatkan secara mental. Mereka mungkin terus-menerus merasa tidak puas dan takut gagal, yang bisa menghambat produktivitas.

Menyadari sifat ini merupakan langkah penting untuk belajar menyeimbangkan ambisi dengan penerimaan diri.

  1. Kesulitan menerima pujian

Bagi mereka yang terbiasa dikritik sejak kecil, menerima pujian bisa menjadi hal yang canggung dan tidak nyaman. Alih-alih menerimanya dengan tulus, mereka cenderung mencurigai motif di balik pujian tersebut atau langsung menolaknya.

Hal ini terjadi karena pujian terasa begitu asing dan bertolak belakang dengan apa yang biasa mereka dengar tentang diri mereka sendiri. Penelitian menunjukkan dibutuhkan sekitar lima komentar positif untuk menetralisir dampak satu komentar negatif.

Meski sulit pada awalnya, dengan latihan mereka bisa belajar menerima pujian dengan lebih baik.

  1. Ketangguhan mental yang tinggi

Di balik dampak negatif kritik berlebihan, ada satu sisi positif yang bisa berkembang yaitu ketangguhan mental. Mereka yang sering menghadapi kritik sejak kecil cenderung lebih cepat bangkit dari kegagalan.

Pengalaman menghadapi berbagai rintangan sejak dini membuat mereka lebih adaptif dan gigih dalam mengejar tujuan. Namun perlu diingat, ketangguhan ini tidak serta merta menghapus dampak negatif lainnya.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore