Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Agustus 2024 | 21.44 WIB

Cek! 10 Tanda Ini Menunjukkan Jika Anda Sebenarnya Pasangan yang Toxic, Menurut Psikologi

Ilustrasi: Pasangan. (Pexels)

JawaPos.com – Toxic relationship atau hubungan toxic merupakan sebutan untuk sebuah hubungan yang tidak sehat dan harus segera diatasi atau diakhiri.
 
Banyak orang yang sayangnya tidak sadar bahwa mereka sedang berada dalam hubungan yang toxic.
 
Di lain sisi, ada juga yang tidak sadar bahwa mereka justru menjadi ‘pelaku’ dari hubungan toxic itu terjadi, karena menganggap apa yang mereka lakukan selama menjalin hubungan itu normal.
 
Oleh karena itu, melansir laman Ideapod, Senin (19/8), berikut adalah 10 tanda bahwa Anda sebenarnya adalah pasangan yang toxic tanpa Anda sadari, menurut psikologi.
 
1. Anda selalu playing victim
 
Psikologi memberi tahu kita bahwa orang yang selalu melihat dirinya sebagai korban atau playing victim, sering kali tidak mampu mengenali kesalahan mereka sendiri dan malah menyalahkan pasangannya.
 
 
Keengganan untuk mengambil tanggung jawab dapat menjadi tanda jelas adanya toksisitas. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan dalam hubungan dan menumbuhkan kebencian.
 
2. Anda cemburu berlebihan
 
Kecemburuan bisa menjadi emosi yang kuat dan merusak dalam suatu hubungan. Psikologi menunjukkan bahwa meskipun tingkat kecemburuan tertentu adalah normal, kecemburuan yang berlebihan dapat mengindikasikan pola perilaku yang toxic.
Hal ini sering kali berasal dari rasa insecure dan dapat mengarah pada controlling behaviour.
 
3. Terus-menerus mengkritik pasangan Anda
 
Jika sebagian besar percakapan Anda dengan pasangan berkisar pada hal yang menunjukkan kesalahan atau kekurangannya, Anda mungkin menciptakan lingkungan yang toxic.
 
Meskipun penting untuk mengomunikasikan masalah dalam hubungan, ada perbedaan besar antara menangani masalah dengan cara yang penuh hormat dengan terus-menerus menjatuhkan pasangan Anda.
 
Kritik harus bersifat membangun atau memperbaiki, dan ditujukan untuk memperbaiki hubungan, bukan digunakan sebagai senjata untuk menyakiti atau mengendalikan.
 
 
4. Meremehkan perasaan pasangan Anda
 
Salah satu landasan dari hubungan yang sehat adalah empati atau kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan pasangan Anda. Namun, jika Anda sering mengabaikan atau meremehkan perasaan pasangan Anda, ini bisa menunjukkan perilaku toxic.
 
Misalnya, saat mereka mengungkapkan kesedihan, Anda memberi tahu mereka bahwa mereka bereaksi berlebihan, atau saat mereka bersemangat tentang sesuatu, Anda gagal ikut merasakan kegembiraan mereka. Hal ini bisa membuat pasangan Anda merasa perasaan mereka tidak valid dan sendirian.
 
Bersikap meremehkan tidak hanya menyakiti pasangan, tapi juga menciptakan jarak dalam hubungan Anda.
 
5. Anda suka mengontrol
 
Kontrol dalam suatu hubungan harus seimbang dan saling menguntungkan. Namun, jika Anda yang menentukan setiap keputusan, mulai dari hal sepele sampai penting, Anda memasuki kategori toxic.
 
Bersikap terlalu mengontrol sering kali merupakan tanda rasa insecure dan keinginan untuk berkuasa. Ini menunjukkan kurangnya kepercayaan pada penilaian pasangan Anda dan dapat membuat mereka merasa tercekik dan tidak dihargai.
 
 
6. Anda menggunakan kasih sayang sebagai alat tawar-menawar
 
Cinta dan kasih sayang adalah sumber kehidupan dari hubungan apa pun. Namun, jika hal ini menjadi alat untuk manipulasi, hal ini jelas merupakan tanda perilaku toxic.
 
Misalnya, saat Anda sedang kesal Anda bersikap seolah tidak pernah mencintainya, atau menggunakan cinta dan kasih sayang sebagai hadiah ketika pasangan Anda berperilaku sesuai keinginan Anda.
 
Hal ini dapat membuat pasangan Anda merasa tidak yakin tentang cinta Anda padanya.
 
7. Tidak mendukung impian pasangan Anda
 
Perilaku seperti ini adalah toxic. Ini berasal dari rasa insecure dan ketakutan akan tertinggal. Namun, hal itu hanya akan menciptakan keretakan antara Anda dan pasangan.
 
Pasangan yang suportif bersukacita atas pencapaian orang yang mereka cintai, dan mendorong mereka untuk meraih kesuksesan.
 
 
8. Anda menghindari konflik dengan cara apa pun
 
Mungkin terdengar aneh. Namun, menghindari konflik tidak selalu merupakan hal yang baik dalam suatu hubungan.
 
Perdamaian memang selalu lebih baik daripada perang. Namun, jika Anda menyembunyikan masalah atau mengubur perasaan Anda demi menjaga perdamaian, Anda justru melakukan
lebih banyak kerugian daripada kebaikan.
 
Psikologi memberi tahu kita bahwa sebuah konflik bisa menyehatkan. Hal ini menjernihkan suasana, memungkinkan pemahaman yang lebih baik, dan membuka jalan bagi kompromi. Menghindarinya hanya akan menimbulkan kebencian dan masalah yang tidak terselesaikan.
 
9. Terus menguji kesetiaan pasangan Anda
 
Misalnya, Anda selalu memeriksa ponselnya, atau Anda membuat skenario drama untuk melihat reaksi mereka.
 
Hal ini tidak hanya menunjukkan kurangnya kepercayaan, tetapi juga menciptakan drama dan ketegangan yang tidak perlu.
 
Jika Anda meragukan kesetiaan pasangan Anda tanpa alasan yang jelas, mungkin masalahnya lebih pada rasa insecure Anda daripada perilakunya.
 
 
10. Tidak menghormati batasan pasangan Anda
 
Batasan adalah hal mendasar dalam suatu hubungan yang membantu setiap orang memahami kebutuhan dan harapan pasangannya, serta menciptakan rasa aman dan hormat.
 
Jika Anda terus-menerus mendorong batasan pasangan Anda, baik itu ruang pribadi, waktu bersama teman, atau bahkan tingkat kenyamanannya dalam situasi yang berbeda, Anda memasuki perilaku toxic.
 
Menghormati batasan pasangan Anda berarti mengakui individualitasnya dan memahami bahwa dia memiliki kebutuhan yang terpisah dari hubungan.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore