
Gingerbread, kue ikonik dari jahe yang populer saat perayaan (Dok. English Heritage)
JawaPos.com - Gingerbread telah lama menghiasi perayaan Natal dan akhir tahun di berbagai belahan dunia. Aromanya yang hangat, perpaduan rempah yang khas, serta bentuk-bentuk dekoratifnya menjadikan kue ini tidak sekadar sajian, tetapi juga tradisi kuliner yang terus hidup. Di balik popularitasnya, gingerbread menyimpan sejarah panjang dan manfaat yang melampaui sekedar makanan penutup.
Apa Itu Gingerbread?
Melansir dari Britannica, gingerbread merupakan sajian manis berbentuk kue, roti, atau cookie yang dibumbui rempah, populer di Amerika Utara dan Eropa terutama pada musim gugur dan musim dingin. Terdapat berbagai jenis gingerbread di dunia, seperti Lebkuchen dari Jerman, marranitos dari Meksiko, pryaniki dari Rusia, hingga pepparkakor dari Swedia. Gingerbread kerap dikaitkan dengan Natal dan perayaan lainnya, ketika adonannya dibentuk menjadi berbagai figur dan dihias secara kreatif.
Resep tradisional gingerbread biasanya memadukan tepung, mentega, telur, molases (atau treacle atau madu), serta jahe yang dipadukan dengan rempah hangat lain seperti cengkih, kayu manis, pala, atau allspice. Beberapa variasi bahkan menambahkan citrus, vanila, atau bahan pengembang. Jahe yang digunakan pun beragam, mulai dari yang segar, bubuk, hingga jahe kering berlapis gula.
Fungsi Gingerbread dalam Tradisi Lama
Mengutip dari English Heritage, gingerbread di era abad pertengahan tidak hanya dibuat untuk memanjakan tamu, tetapi juga memiliki fungsi praktis dalam jamuan makan. Gingerbread disajikan sebagai sweetmeat di akhir hidangan, bagian dari ritual yang disebut void atau voidee. Pada awalnya, istilah tersebut merujuk pada pembersihan meja antarhidangan. Namun memasuki abad ke-15, voidee berkembang menjadi hidangan manis penutup untuk membantu pencernaan dan menyegarkan napas.
Sebagai bahan tersendiri, jahe telah lama dipercaya memiliki khasiat melancarkan pencernaan. Pada era Elizabethan, gingerbread digambarkan sebagai kue untuk menenangkan perut, dan dipercaya pula bermanfaat meredakan kembung hingga mempertajam penglihatan. Dengan demikian, gingerbread bukan hanya hidangan penutup, tetapi juga bagian penting dari praktik kesehatan tradisional pada masa tersebut.
Sejarah dan Perkembangan Gingerbread
Menurut PBS, tidak ada makanan yang lebih identik dengan musim liburan selain gingerbread dalam berbagai bentuknya, mulai dari rumah-rumahan kue, gingerbread man berhias permen, hingga roti berbumbu. Di Inggris abad pertengahan, istilah "gingerbread" awalnya hanya berarti "jahe yang diawetkan," dan baru pada abad ke-15 digunakan untuk menyebut kue-kue berbumbu jahe seperti yang kita kenal saat ini. Kini, istilah tersebut mencakup berbagai sajian yang mengombinasikan jahe dengan madu, treacle, atau molases.
Akar jahe sendiri berasal dari Tiongkok kuno, tempat rempah ini digunakan sebagai obat. Jahe kemudian menyebar ke Eropa melalui Jalur Sutra dan menjadi rempah favorit di abad pertengahan. Raja Henry VIII bahkan dikabarkan menggunakan ramuan jahe untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap wabah. Hingga kini, jahe tetap digunakan sebagai obat alami untuk mual dan gangguan perut.
Menurut Making Gingerbread Houses karya Rhonda Massingham Hart, resep gingerbread tertua diketahui berasal dari Yunani pada 2400 SM. Tiongkok mengembangkan versinya pada abad ke-10, sementara Eropa menciptakan varian mereka sendiri pada akhir abad pertengahan. Pada masa itu, cookie gingerbread yang keras sering dilapisi daun emas dan dibentuk menyerupai hewan, raja, atau ratu. Hidangan ini kemudian menjadi populer di festival abad pertengahan di Inggris, Prancis, Belanda, dan Jerman. Ratu Elizabeth I disebut memulai tradisi menghias gingerbread menyerupai tamu kehormatannya. Gingerbread yang dihias rumit pun menjadi simbol kemewahan dan keanggunan di Inggris.
Selanjutnya, gingerbread dibawa ke Amerika oleh para penjajah Inggris, dan bahkan pernah digunakan sebagai alat kampanye untuk menarik dukungan pemilih Virginia. Buku masak Amerika pertama, American Cookery karya Amelia Simmons, memuat tiga resep gingerbread termasuk versi lembut yang dipanggang dalam bentuk loaf, menandai semakin luasnya varian gingerbread dalam budaya Barat.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
