Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 27 Agustus 2025 | 21.53 WIB

Berani Coba Balut? Kuliner Ekstrem Telur Berembrio dari Filipina yang Mulai Mendunia dan Jadi Perdebatan

Balut, telur ibebek berembrio yang jadi camilan favorit di beberapa Asia Tenggara (Dok. Phillife.co)

JawaPos.com - Balut, telur bebek berembrio yang direbus dan disantap langsung dari cangkangnya, telah lama menjadi ikon kuliner jalanan di Filipina, Vietnam, dan Kamboja.

Meski sering dianggap ekstrem oleh lidah Barat, balut justru menyimpan sejarah panjang dan nilai budaya yang mendalam. Kini, makanan ini mulai mendapat tempat di panggung kuliner global sebagai sajian yang eksotis dan penuh cerita.

Menurut artikel ilmiah dari Journal of Ethnic Foods, balut merupakan bagian penting dari industri perbebekan di Filipina dan telah dikonsumsi sejak abad ke-16, ketika teknik pengawetan telur diperkenalkan oleh pedagang Tiongkok.

"Balut tetap menjadi makanan otentik Filipina meski juga dikonsumsi di negara-negara Asia lainnya, karena makna lokal yang melekat pada cara penyajian dan konsumsinya," tulis Alejandria et al. dalam studi mereka.

Di balik tampilannya yang kontroversial, balut menyimpan cita rasa yang kompleks dengan perpaduan gurih, sedikit gamey, dan tekstur yang unik.

Di beberapa restoran modern, balut bahkan diolah menjadi hidangan pembuka berkelas seperti sorpresa de balut, yakni balut yang dibalut tepung dan dipanggang dengan mentega atau minyak zaitun. 

Transformasi ini menunjukkan bagaimana balut mulai diterima sebagai bagian dari "kuliner kapital" di diaspora Filipina, sebagaimana dijelaskan oleh Margaret Magat dalam bukunya Balut: Fertilized Eggs and the Making of Culinary Capital in the Filipino Diaspora.

Namun, balut tak lepas dari kontroversi. Di negara-negara Barat, makanan ini kerap menjadi bahan perdebatan etis karena keberadaan embrio yang belum menetas.

Meski demikian, bagi masyarakat Asia Tenggara, balut bukan sekadar makanan, melainkan simbol tradisi, keberlanjutan, dan identitas.

"Balut adalah cerminan dari sejarah dan cara hidup masyarakat Filipina," tulis Magat, seraya menyoroti bagaimana migrasi dan media sosial turut membentuk persepsi global terhadap makanan ini.

Dengan semakin banyaknya restoran yang menyajikan balut dalam bentuk inovatif, serta meningkatnya minat wisata kuliner terhadap makanan ekstrem, balut kini menjadi kuliner yang menarik untuk dijelajahi.

Bagi para penikmat rasa dan cerita, balut bukan hanya soal keberanian mencicipi, tapi juga tentang memahami budaya yang membentuknya.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore