
Angka kematiannya untuk kanker payudara di tahun 2020 lebih dari 22.000 jiwa. (Istimewa)
JawaPos.com - Penderita kanker payudara di Indonesia masih tinggi, penyakit kaum hawa tersebut di tahun 2022 tercatat 66.271 orang. Angak tersebut sekitar 70 persennya baru datang memeriksakan penyakitnya setelah dinyatakan masuk stadium lanjut.
Angka kematiannya untuk kanker payudara di tahun 2020 lebih dari 22.000 jiwa. Di tahun 2022, tercatat total kasus kanker baru di Indonesia sebanyak lebih dari 408.661, dengan kematian hampir 242.099. Dan kanker payudara menempati urutan tertinggi di antara jenis kanker untuk perempuan.
Tak sedikit penderita tak menyadari dan tidak ada kebiasaan medeteksi dini. Terkait hal ini Linda Agum Gumelar, selaku Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengungkapkan banyak perempuan, bahkan dari kalangan dokter sekalipun, memilih untuk menolak kenyataan saat menemukan benjolan di payudara mereka.
"Penolakan ini dipicu beberapa faktor. Pertama, benjolan kanker payudara pada stadium awal seringkali tidak menimbulkan rasa sakit. Tak sedekit mereka meremehkan. Kedua, ada ketakutan yang mendalam terhadap diagnosis itu sendiri. Stigma bahwa kanker adalah vonis mati masih melekat kuat," ujarnya.
Linda menambahkan bahwa pasien membayangkan kemoterapi yang menyakitkan, rambut rontok, dan pengobatan yang mahal.
"Ketakutan ini membuat mereka menunda melakukan pemeriksaan, berharap benjolan itu akan hilang dengan sendirinya," ujarnya.
Akan tetapi gejala fisik yang parah seperti perubahan bentuk payudara atau munculnya luka memaksa mereka berobat pada stadium yang sudah kritis.
Linda Agum Gumelar, selaku Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengungkapkan tak sedikit perempuan, enggan memeriksakan gejala dini kanker Payudara.
Banyak pasien, terutama dari kalangan menengah ke bawah, merasa tidak mampu membiayai pengobatan.
"Banyak pasien menolak periksa karena merasa lebih baik tidak membuang uang untuk perjalanan jauh, menganggap diri mereka orang enggak mampu," kata Linda.
Bahkan situasi ini diperburuk dengan kurangnya dukungan dari lingkungan terdekat. Baik dari segi finansial maupun moral yang dibutuhkan, membuat para penderita merasa berjuang sendirian dan semakin enggan untuk mencari pertolongan medis.
Selain itu juga tantangan geografis dan infrastruktur kesehatan juga berperan pada tingginya kasus kanker stadium lanjut. MIsalnya fasilitas kesehatan jauh hingga keterbatasan jumlah dokter spesialis dan alat mamografi di berbagai daerah.
Kondisi ini dikenal sebagai patient delay dan provider delay, yang semakin memperpanjang waktu antara penemuan benjolan hingga diagnosis dan penanganan medis.
Seiring berjalannya waktu timbul tren baru yang mengkhawatirkan, dengan ditemukannya kasus kanker payudara pada usia yang sangat muda, antara 12--15 tahun. Faktor pemicunya diduga kompleks, mulai dari hormonal, gaya hidup, stres, hingga polusi.
Situasi ini menegaskan betapa krusialnya upaya di sisi hulu, yaitu pencegahan dan edukasi. Terkait hal ini Forvitas berinisiatif meluncurkan kampanye Care Forvita Live yang fokus pada mengedukasi publik terkait pencegahan kanker payudara, dimulai dengan Periksa Payudara Sendiri (SADARI).

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
