Ilustrasi pasien gagal ginjal. (pixabay)
JawaPos.com - Kondisi gagal ginjal kronik (GGK) bisa dialami oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin. Namun, menurut Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), perempuan memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami penyakit ginjal kronis jika dibandingkan pria.
Hal ini diperkuat melalui beberapa studi yang menunjukkan prevalensi penyakit ginjal kronis pada perempuan mencapai sekitar 14 persen, sedangkan pada pria sekitar 12 persen. Tak hanya faktor gaya hidup, komplikasi dari kehamilan seperti preeklampsia dan eklampsia juga turut menjadi salah satu penyebab utama gagal ginjal kronik pada perempuan.
Kondisi ini turut dialami oleh A, 39, seorang perempuan asal Jawa Tengah yang didiagnosis gagal ginjal kronik akibat eklampsia saat kehamilannya. 2014 lalu menjadi titik awal ujian terberat dalam hidupnya. Saat itu dirinya berusia 28 tahun dan mengalami kehamilan prematur. Nahasnya, bayinya hanya bertahan hidup beberapa hari dan dirinya divonis menderita gagal ginjal kronik.
Sejak itulah, dokter kemudian menyarankan A menjalani transplantasi ginjal. Usianya yang masih muda jelas memberi harapan lantaran organ tubuh lainnya masih berfungsi baik. Sayangnya mencari pendonor bukanlah hal mudah. Terlebih, ayahnya yang memiliki golongan darah O seperti dirinya turut mengalami gagal ginjal dan harus menjalani hemodialisis.
Sementara itu, ibunya memiliki golongan darah AB, sehingga tidak kompatibel dengan golongan darah O miliknya. Kondisi ini membuat A harus bertahan dengan hemodialisis selama dua setengah tahun.
Selanjutnya, mukjizat terjadi dua setengah tahun kemudian. Ibunya bersikeras memeriksa ulang golongan darahnya dan meyakini adanya perubahan. Hasilnya, mengejutkan semua orang termasuk dokter lantaran golongan darah sang ibu ternyata berubah dari AB menjadi O. Bahkan, tes kompatibilitas ginjal turut menunjukkan kecocokan mencapai 86 persen.
“Saya tidak percaya. Kami pergi ke empat laboratorium berbeda untuk memastikan, dan semuanya menunjukkan hasil yang sama,” ujar A dalam keterangannya.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan ilmiah mengenai perubahan golongan darah. Terlebih, golongan darah merupakan sifat genetik yang stabil.
Akhirnya, keajaiban tersebut menjadi titik balik hidup A. Pada Mei 2017, dirinya menjalani transplantasi ginjal di sebuah rumah sakit Jawa Tengah. Hasilnya, kondisinya berangsur pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, dirinya tetap harus rutin melakukan pemeriksaan untuk menjaga kestabilan fungsi ginjal barunya.
Efisiensi Berisiko Fatal
Selama delapan tahun setelah menjalani transplantasi, A dapat hidup dengan kondisi yang cukup stabil. Kadar kreatininnya berkisar antara 0,8 hingga 1,2, berkat konsumsi rutin enam jenis obat setiap hari. Salah satu obat utamanya adalah imunosupresan originator, yang berfungsi menekan sistem kekebalan tubuh agar organ baru tidak ditolak.
Namun, pada September 2024, pemerintah memutuskan mengganti obat imunosupresan originator tersebut dengan versi non-originator demi efisiensi anggaran. Pergantian ini segera berdampak pada kondisi A. Kadar kreatininnya perlahan meningkat, dari 1,3 menjadi 1,4, kemudian 1,5 hingga mencapai 1,6 pada Agustus 2025, melewati batas aman 1,3.
Situasi ini ternyata tidak dialami A seorang diri. Berdasarkan survei Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) terhadap 23 pasien transplantasi, 39 persen mengalami kenaikan kadar kreatinin, dan 13 persen di antaranya bahkan sudah melebihi batas normal. Selain itu, 52 persen pasien juga melaporkan munculnya efek samping setelah mengonsumsi imunosupresan non-originator.
Untuk mengatasi peningkatan kadar kreatinin, dokter menaikkan dosis methylprednisolone, salah satu obat yang membantu menjaga fungsi ginjal pada pasien transplantasi.

Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Skor DPMM FC vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026: Misi Dalberto Tebar Pesona di Klub Baru!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
An Se Young Mundur dari China Open 2026 karena Cedera, Fokus Pulihkan Kondisi Jelang Kejuaraan Dunia
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
