
Menghadapi gangguan mental, kesadaran mahasiswa untuk mencari bantuan psikologis terus meningkat. (Istimewa)
JawaPos.com–Tekanan akademik, ekspektasi sosial, dan perubahan lingkungan, membuat remaja serta mahasiswa kian rentan mengalami gangguan mental.
Lonjakan pasien dengan keluhan cemas dan depresi terjadi di rumah sakit, termasuk di RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) Surabaya hingga Universitas Ciputra Surabaya.
Dokter spesialis jiwa RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) dr. Riko Lazuardi, Sp.KJ, mengatakan, dalam dua tahun terakhir terjadi peningkatan kunjungan pasien ke poli kejiwaan sekitar 20–30 persen. Sebagian besar datang dari kelompok usia produktif, terutama pelajar dan mahasiswa.
Dalam sebulan total ada 800-1100 pasien yang datang ke BDH. Dari data itu 30 persennya adalah pasien usia di bawah 30 tahun. "Kenaikannya signifikan setahun terakhir ini," ucap Riko.
Gangguan yang paling sering dialami anak muda adalah depresi, kecemasan, serta perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm).
“Tren self-harm memang sempat tinggi tahun lalu, sekarang cenderung menurun, tapi masih ada yang melakukannya diam-diam,” kata Riko.
Banyak pasien remaja datang dengan keluhan kehilangan motivasi, mudah marah, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Menurut Riko, pemicu terbanyak gangguan mental pada remaja saat ini adalah konflik pertemanan dan masalah relasi.
“Banyak yang datang karena merasa teman dekatnya menjauh atau punya teman baru. Mereka sulit menerima, muncul rasa takut ditinggalkan. Itu bentuk insecure attachment,” terang Rijo.
Kondisi itu sering berkembang menjadi depresi karena individu merasa tidak lagi dibutuhkan oleh lingkungannya. Selain masalah pertemanan, tekanan dari keluarga dan lingkungan sekolah juga memperparah kondisi mental remaja.
“Ada yang depresi karena tuntutan orang tua atau cemas akibat bullying. Tekanan sosial dan akademik sering membuat mereka kehilangan arah,” tutur Riko.
Dia berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental meningkat, agar remaja tidak ragu mencari pertolongan sejak dini.
Fenomena meningkatnya stres di kalangan mahasiswa juga dirasakan di kampus. Stefany Livia Prajogo, psikolog dari Universitas Ciputra (UC) Surabaya, mengatakan banyak mahasiswa baru yang mengalami kecemasan karena proses adaptasi.
“Mahasiswa baru masih mencari jati diri, tapi sudah dihadapkan pada tekanan tugas dan ekspektasi orang tua. Itu sering memicu stres dan rasa tidak percaya diri,” ujar Stefany.
Menurut dia, kesadaran mahasiswa untuk mencari bantuan psikologis terus meningkat. Di Universitas Ciputra (UC) Surabaya, jumlah mahasiswa yang memanfaatkan layanan konseling Student Welfare melonjak dua kali lipat dalam dua bulan terakhir.
Jika biasanya hanya sekitar 20 mahasiswa per bulan, kini sudah mencapai 40 orang. Bahkan, hingga pertengahan Oktober ini, sudah 30 mahasiswa yang lebih dulu menjadwalkan sesi curhat. Mereka juga tidak malu untuk datang dan melakukan konsultasi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022