
Ilustrasi gangguan mental. (its.ac.id)
JawaPos.com - Sebanyak 1 dari 20 remaja di Indonesia atau sekitar 5,5 persen telah didiagnosis mengalami gangguan mental. Kondisi ini dipengaruhi banyak faktor mulai dari pola asuh orang tua, perubahan yang terjadi pada masa remaja, lingkungan sosial, hingga paparan media sosial.
Ketua Pengurus Pusat IDAI Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., Subsp.Kardio(K) mengatakan, anggapan bahwa gangguan mental hanya dialami orang dewasa masih banyak ditemukan di masyarakat. Padahal, gangguan mental juga dapat terjadi pada anak dan remaja, bahkan sering kali sulit dikenali.
"Kadang-kadang gangguan mental pada anak tidak mudah dideteksi sehingga perlu kepekaan dari orang tuanya," ujar dr. Piprim kepada wartawan, Rabu (22/7).
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI Dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp.T.K.P.S.(K) memaparkan, masalah kesehatan mental pada remaja merupakan persoalan global. Secara global, 1 dari 7 remaja mengalami gangguan mental dengan jenis yang paling banyak berupa depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku.
Di Indonesia, berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey 2022, terdapat sekitar 15,5 juta atau satu dari tiga remaja yang memiliki masalah kesehatan mental. Permasalahan yang paling banyak ditemukan meliputi kecemasan, hiperaktivitas, depresi, gangguan perilaku, dan stres.
Setelah menjalani evaluasi oleh tenaga kesehatan, sekitar 5,5 persen atau satu dari 20 remaja Indonesia didiagnosis mengalami gangguan mental, seperti gangguan cemas, depresi, gangguan perilaku, gangguan stres pascatrauma (PTSD), hingga hiperaktivitas.
Lantas, apa saja penyebab anak mengalami masalah gangguan mental?
Pola Parenting Berpengaruh
dr. Piprim menjelaskan, salah satu penyebab yang dapat memicu gangguan mental pada anak adalah pola pengasuhan di rumah. Selain itu, lingkungan sekolah dan perundungan juga berkontribusi terhadap munculnya masalah kesehatan mental.
Menurutnya, orang tua yang menetapkan target terlalu tinggi kepada anak dapat membuat mereka terus berada dalam tekanan. Ia mencontohkan kasus yang sempat ramai di media sosial, ketika seorang ibu mengeluhkan anaknya yang baru sehari masuk sekolah karena dianggap tidak akan menjadi juara kelas.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Garudayaksa vs Persik di Super League: Tuan Rumah Tak Ingin Malu di Kandang!
Prediksi Skor Sevilla vs Valencia di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Amankan 3 Poin!
Prediksi Susunan Pemain Garudayaksa FC vs Persik Kediri: Septian David Incar Kemenangan!
Prediksi Skor Union Berlin vs Schalke 04 di Liga Jerman: Kans Die Knappen Bikin Tuan Rumah Terpukul
Prediksi Skor Como vs RB Leipzig di Liga Champions: I Lariani Siap Libas Tim Tamu di Sinigaglia
Prediksi Skor Slavia Prague vs Lens di Liga Champions: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Rennes vs Marseille di Liga Prancis: Les Rennais Siap Pesta Gol di Roazhon Park!
Dituduh Netizen Mau Lepas Tanggung Jawab Terhadap Anak, Ini Jawaban Audi Marissa
Krisis Kesehatan Mental Anak: Lingkungan Kita Ikut Membentuknya

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022