Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Juli 2026 | 20.23 WIB

Dinkes Yogyakarta Tangani Gejala Gangguan Mental pada Anak Sekolah

Ilustrasi konseling gangguan mental pada remaja (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi konseling gangguan mental pada remaja (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memprioritaskan penanganan masalah kesehatan atau gejala yang berpotensi mengarah pada gangguan mental pada anak sekolah dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA).  

"Gangguan mental angkanya sih masih satu digit sebenarnya kalau di DIY, tetapi kan memang itu menjadi perhatian kita bersama," kata Kepala Dinkes DIY Gregorius Anung Trihadi dilansir dari Antara di Yogyakarta, Sabtu (4/7).

Menurut dia, gangguan mental kategorinya cukup banyak, ada gangguan mental ringan, gangguan jiwa berat dan sebagainya, masalah ini menjadi concern pada pembicaraan bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). 

"Karena sekarang ini akan dimulai peserta didik tahun ajaran baru, maka kemudian program-program dari kementerian untuk mengatasi gejala gangguan mental akan dijalankan ke arah sana semua," ujar Gregorius Anung Trihadi. 

Dia mengatakan, gejala seseorang atau anak berpotensi mengalami gangguan mental tersebut bisa dilihat dari hasil pemeriksaan kesehatan gratis atau CKG yang telah digencarkan pemerintah salah satunya bagi anak-anak sekolah. 

Dia mengatakan, berdasar data, saat ini di DIY untuk jangkauan cek kesehatan gratis tersebut baru di angka sekitar 11 persen dari dari seluruh penduduk yang ada di kabupaten dan kota provinsi DIY. 

"Nah, 11 persen itu salah satunya adalah di anak SD, SMP, dan SMA. Nah, di SMP dan SMA itu kecenderungannya yang datang, yang sudah CKG itu lima persen mengalami gangguan kecenderungan kecemasan ringan, ada yang kemudian potensi depresi ringan," papar Gregorius Anung Trihadi.

Menurut dia, kecemasan ringan maupun depresi ringan yang dialami anak sekolah dari hasil pemeriksaan kesehatan tersebut sebenarnya adalah potensi gangguan mental ringan.

"Nah kenapa kemudian anak sekolah menjadi fokus, karena merupakan masa pertumbuhan yang relatif rentan terhadap faktor-faktor, baik itu faktor medis maupun faktor lingkungan, itu dimulai di tahapan anak sekolah ini," terang Gregorius Anung Trihadi.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore