
Ilustrasi eco-anxiety./Freepiik
JawaPos.com – Eco-anxiety atau kecemasan lingkungan adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa cemas, takut, atau stres berlebihan karena dampak perubahan iklim.
Fenomena ini makin sering dibicarakan karena perubahan iklim bukan lagi isu jauh di depan mata.
Melainkan kenyataan yang kita rasakan sehari-hari mulai dari cuaca ekstrem, polusi, hingga bencana alam yang semakin sering terjadi.
Data terbaru menunjukkan, 57% orang dewasa di Inggris mengaku krisis iklim memengaruhi kesehatan mental mereka.
Angka ini bahkan naik menjadi 63% pada kelompok usia 16 hingga 24 tahun, menandakan bahwa anak muda adalah generasi yang paling rentan.
Sebuah studi global pada 2021 juga menemukan, 59% anak dan remaja merasa sangat atau amat cemas terhadap perubahan iklim.
45% di antaranya juga mengatakan kecemasan tersebut mengganggu aktivitas serta fungsi sehari-hari.
Melihat data ini, jelas bahwa eco-anxiety bukan sekadar istilah tren, melainkan fenomena nyata yang berakar dari krisis lingkungan global.
Lantas, mengapa kecemasan iklim begitu kuat dirasakan terutama oleh generasi muda? Simak penjelasannya berikut yang dilansir dari penelitian Kurt dan Pihkala (2022) dan Newport Institute.
Eco-anxiety atau kecemasan lingkungan bukan sekadar rasa khawatir biasa, melainkan reaksi emosional kompleks terhadap ancaman perubahan iklim.
Para peneliti menyebut bahwa eco-anxiety sering kali merupakan gabungan dari berbagai emosi negatif, seperti rasa cemas, sedih, bersalah, bahkan marah ketika melihat kondisi bumi yang semakin memburuk.
Bedanya dengan kecemasan umum, eco-anxiety berakar pada kesadaran bahwa krisis iklim adalah masalah nyata yang akan berdampak langsung pada kehidupan kita dan generasi mendatang.
Lebih jauh lagi, eco-anxiety kerap disebut sebagai bentuk practical anxiety.
