
Pemeriksaan refleks lutut. (Freepik)
JawaPos.com–Refleks sering dianggap sebagai respons otomatis tubuh terhadap rangsangan dari luar. Namun ternyata, refleks dapat memberikan informasi penting mengenai kondisi kesehatan seseorang secara keseluruhan.
Reaksi tubuh yang cepat dan tidak disadari ini bukan hanya sekadar gerakan spontan. Refleks adalah cermin dari fungsi sistem saraf dan dapat menjadi indikator adanya masalah kesehatan.
Satu di antara fungsi utama refleks adalah melindungi tubuh dari bahaya potensial. Refleks memungkinkan tubuh untuk bereaksi dengan cepat tanpa perlu diproses secara sadar oleh otak.
Contohnya, refleks menarik tangan dari benda panas mencegah kulit terbakar lebih parah. Reaksi cepat ini terjadi sebelum otak sepenuhnya menyadari rasa sakitnya.
Refleks juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan dan koordinasi tubuh. Refleks membantu tubuh menyesuaikan posisi dan gerakan secara otomatis agar tetap stabil.
Ketika keseimbangan terganggu, refleks akan bekerja untuk mengoreksi postur tubuh. Proses ini terjadi tanpa disadari dan sangat penting untuk aktivitas sehari-hari.
Selain itu, refleks dapat memberikan petunjuk tentang fungsi saraf dan otak. Pemeriksaan refleks sering digunakan dalam pemeriksaan neurologis untuk menilai kondisi sistem saraf.
Respons refleks yang abnormal, seperti terlalu lemah atau terlalu kuat, dapat mengindikasikan masalah saraf. Kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada otak, sumsum tulang belakang, atau saraf perifer.
Berbagai jenis refleks ada dalam tubuh manusia, masing-masing dengan fungsi spesifik. Refleks dapat diklasifikasikan berdasar lokasi dan jenis rangsangan yang memicu respons.
Refleks tendon dalam, refleks superfisial, dan refleks primitif adalah beberapa kategori utama. Setiap jenis refleks memberikan informasi yang berbeda tentang kondisi sistem saraf.
Refleks tendon dalam melibatkan kontraksi otot sebagai respons terhadap ketukan pada tendon. Refleks patella atau refleks lutut adalah contoh refleks tendon dalam yang umum diperiksa.
Respons yang normal menunjukkan fungsi saraf motorik dan sensorik yang baik. Respons yang abnormal dapat mengindikasikan masalah pada saraf atau otot yang terlibat.
Refleks superfisial dipicu oleh rangsangan pada kulit atau membran mukosa. Refleks plantar, di mana jari-jari kaki menekuk ke bawah saat telapak kaki digores, adalah contohnya.
Respons yang abnormal pada refleks superfisial juga dapat mengindikasikan masalah neurologis. Perubahan pada refleks ini bisa menjadi tanda gangguan pada jalur saraf tertentu.
Refleks primitif biasanya hadir pada bayi dan menghilang seiring perkembangan. Refleks menggenggam dan refleks Moro adalah contoh refleks primitif yang penting pada bayi.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
