Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 November 2023 | 14.41 WIB

Kasus Cacar Monyet di Indonesia Terus Meningkat, Kemenkes Sebut Stok Vaksin Masih Terbatas dan Mahal

Petugas kesehatan menyosialisasikan penyakit cacar monyet kepada masyarakat di Puskesmas Kedaung, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (1/11)

JawaPos.com - Kasus cacar monyet atau monkeypox di Indonesia terus mengalami peningkatan yang signifikan, hingga 12 November 2023, telah tercatat ada sebanyak 44 kasus positif.


Hal tersebut diungkapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, mengenai kondisi saat ini yang semakin diperparah karena stok vaksin cacar monyet (mpox) masih terbatas dan mahal.

Untuk itu, salah satu solusi untuk mencegah infeksi virus langka dari hewan (zoonosis) ini yakni, dengan tidak melakukan hubungan seks yang berisiko.

"Karena saat ini vaksin sangat terbatas dan cukup mahal yang terbaik menghindari praktik seks berisiko apalagi kalau mengetahui pasangan seks kita memiliki gejala mpox jangan melakukan hubungan seks dan segera isolasi," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi sebagaimana dikutip dari ANTARA di Jakarta, Senin (13/11).

Dia menjelaskan kelompok berisiko yang dimaksud mencakup orang yang melakukan seks dengan berganti-ganti pasangan dan memiliki banyak pasangan, terutama seks sesama jenis. Umumnya, kasus cacar monyet sering terjadi akibat hubungan seks sesama jenis.

Siti Nadia Tarmizi juga mengimbau kepada masyarakat apabila melihat atau merasakan gejala mpox untuk segera melakukan isolasi. Selain itu, orang yang berisiko tinggi harus segera mendapatkan vaksinasi untuk melindungi diri mereka dari penyakit ini.

Baca Juga: Dinkes Bali Koordinasi Soal Cacar Monyet dengan Komunitas Biseksual

"Kalau kita ada gejala mpox segera lapor ke fasilitas kesehatan dan lakukan isolasi. Untuk yang beresiko perlu segera mendapatkan vaksinasi," kata dia.

Dia juga mengungkapkan, cacar monyet dapat menyebar ke provinsi lain karena penyakit ini bersifat menular.

Namun, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir karena penularan mpox jauh lebih lambat dibandingkan dengan COVID-19. Biasanya dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun tidak langsung, sehingga penyebarannya cenderung lebih lambat.

Menurut Kemenkes, masyarakat yang terkonfirmasi cacar monyet biasanya terjadi pada hubungan seks sesama jenis, terutama pada kaum laki-laki yang juga menderita kondisi penyerta seperti HIV dan sifilis.

Gejala cacar monyet umumnya dimulai dengan nyeri kepala, diikuti demam dengan suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celsius, nyeri tenggorokan, dan pembesaran kelenjar getah bening.

Setelah itu, ruam kulit akan muncul dalam waktu satu hingga tiga hari. Ruam ini biasanya berwarna merah dan tersebar di berbagai bagian tubuh seperti lengan, area genital, dan tungkai.

Gejala cacar monyet ini berbeda dengan cacar air yang seringkali ditandai dengan demam tinggi hingga 39 derajat Celsius dan ruam yang muncul dalam jumlah banyak dan beragam seperti bintil, lenting, dan gejala ini dapat muncul dalam berbagai fase.

Kemenkes telah menyediakan 4.500 dosis vaksin cacar monyet dan 1.008 botol antivirus tecovirimat sebagai upaya pengobatan pasien.

Ketersediaan vaksin ini diharapkan pada pekan keempat November 2023 sebagai langkah untuk mengatasi kasus mpox di Indonesia.

 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore