Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 November 2023 | 04.42 WIB

Dinkes Bali Koordinasi Soal Cacar Monyet dengan Komunitas Biseksual

Ilustrasi perbedaan gejala cacar monyet dengan cacar biasa. - Image

Ilustrasi perbedaan gejala cacar monyet dengan cacar biasa.

JawaPos.com–Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali melakukan koordinasi mencegah penyebaran virus cacar monyet atau Monkeypox dengan komunitas biseksual di Pulau Dewata. Hal itu mengingat rata-rata kasus di Indonesia terjadi pada orang dengan HIV dan orientasi biseksual.

”Sosialisasi dan komunikasi sudah dilakukan tim dinkes, kita sudah koordinasi dengan komunitasnya (pemilik orientasi biseksual) bila ada yang bergejala agar melaporkan ke fasilitas kesehatan terdekat,” kata Kepala Dinkes Bali I Nyoman Gede Anom seperti dilansir dari Antara di Denpasar, Senin (13/11).

Anom mengatakan, belum ada laporan kasus cacar monyet di Bali. Namun, berkaca dari kasus yang terjadi di luar Bali, pihaknya mencoba antisipasi terhadap kelompok masyarakat yang berpotensi terjangkit.

Saat ini jumlah populasi yang memiliki orientasi biseksual lelaki seks lelaki (LSL) di Bali sebanyak 4.868 orang berdasar data Dinkes Bali sampai dengan Oktober. Sebanyak 240 orang di antaranya positif HIV.

”Seluruh unit fasilitas pelayanan kesehatan di Bali mulai dari tingkat puskesmas, rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta sudah mendapat sosialisasi penanganan monkeypox sehingga siap melakukan penanganan apabila ada kasus monkeypox,” ujar I Nyoman Gede Anom.

Anom menjelaskan, di negara endemis, penularan virus itu ke manusia dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran hewan, mengolah daging hewan liar, kontak langsung dengan cairan tubuh atau bahan lesi, atau kontak tidak langsung melalui benda yang terkontaminasi.

Cacar monyet merupakan emerging zoonosis yang disebabkan oleh virus MPXV, pertama kali ditemukan pada 1958 di Denmark. Ketika itu ada dua kasus seperti cacar pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian.

Untuk penularan kepada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan hewan ataupun manusia yang terinfeksi, atau melalui benda yang terkontaminasi oleh virus tersebut. Virus masuk ke tubuh melalui kulit yang luka atau terbuka walaupun tidak terlihat, saluran pernapasan, atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut).

”Masa inkubasi cukup panjang dari tertular sampai muncul gejala bisa 3-21 hari tersering 6-10 hari,” sebut Anom.

Untuk pencegahan, Anom meminta agar menghindari kontak langsung atau provokasi hewan penular cacar monyet yang diduga terinfeksi seperti hewan pengerat, marsupial, primata non-manusia, baik mati atau hidup. Selain itu hindari mengonsumsi atau menangani daging yang diburu dari hewan liar (bush meat), membiasakan konsumsi daging yang sudah dimasak dengan benar, dan menggunakan APD lengkap saat menangani hewan terinfeksi.

”Pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit agar segera memeriksakan diri jika mengalami gejala dan menginformasikan riwayat perjalanan. Vaksinasi baru di lakukan di Jakarta pada populasi khusus,” ujar Anom.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa sejauh ini, sudah ada 42 kasus cacar monyet di Tanah Air. Yang terjangkit tersebar di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore