Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 November 2022 | 02.10 WIB

Kanker Payudara Berpeluang Sembuh Hingga 90% Bila Dideteksi Lebih Dini

Ilustrasi: Deteksi kanker payudara dengan mamografi. (Womenfitness) - Image

Ilustrasi: Deteksi kanker payudara dengan mamografi. (Womenfitness)

JawaPos.com - Sebanyak 70-80 persen pasien kanker payudara datang sudah terlambat dalam kondisi stadium lanjut. Padahal, jika terdeteksi lebih dini, maka peluang kesembuhan melebihi 90 persen.

Dalam perbincangan dengan JawaPos.com, Dokter Spesialis Onkologi Mayapada Hospital dr. Bajuadji, Sp.B(K)Onk, MARS membenarkan bahwa pasien yang datang mayoritas sudah stadium lanjut atau stadium 3 dan 4. Pasien stadium dini, kata dia, masih sedikit atau rendah.

“Sangat rendah kesadaran kita. Angka kesadaran soal cancer. Dibuktikan dengan angka kunjungan yang datang ke poli. Ini kenapa? Ada beberapa faktor penyebabnya,” jelasnya secara virtual baru-baru ini.

Pertama, kata dia, karena saat ini kanker payudara sudah ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, maka saat ini pasien berobat lebih berani dan datang ke RS. Angka kunjungan lebih meningkat.

Kedua, pasien malu memeriksakan diri jika ada benjolan di payudara. Kemudian, pasien juga dipengaruhi oleh kesadaran, faktor pendidikan, dan faktor sosial budaya.

“Hal ini membuat pasien umumnya tak tahu ini suatu tanda-tanda keganasan, apakah tanda-tanda tumor jinak, enggak tahu sama sekali,” katanya.

Selain itu, terlambatnya pasien datang ke RS dan sudah terjadi keganasan adalah karena pasien sudah menggunakan atau memilih pengobatan herbal. Maka saat datang ke dokter karena tidak kunjung sembuh tetapi sudah terlambat.

“Faktor lainnya karena menggunakan pengobatan alternatif atau herbal. Seringkali berobat ke sana misalnya ke sinshe atau akupuntur, harganya mahal juga. Belum lagi berbagai pulau tak peduli dengan adanya benjolan,” jelasnya.

Pemeriksaan Kanker Payudara
Untuk mencegah terjadinya keparahan kanker payudara dibutuhkan deteksi dini. Sebelum memeriksakan diri secara medis, perempuan bisa mengecek sendiri secara mandiri dengan Sadari (periksa payudara sendiri). Selain itu, pemeriksaan medis bisa dilakukan dengan alat mammogram.

Deteksi dini adalah cara paling tepat untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut. Deteksi yang paling gampang adalah dengan Sadanis (periksa payudara secara klinis). Standar WHO itu harus menggunakan alat mammogram.

“Sebelum pemeriksaan Sadari dan Sadanis, itu kita mesti tahu dulu gejala atau keluhan pada keganasan payudara,” ujar dr. Bajuadji.

Apa Saja Gejalanya?
Keluhan paling sering, 80 persen mengeluh ada benjolan. Bisa disertai rasa nyeri, bisa juga tidak disertai rasa nyeri. Atau benjolan di ketiak.

Keluar cairan dari puting susu bisa warna merah, darah, atau kuning, atau putih, atau bening. Dan bentuk puting susu masuk ke dalam.

Ada perubahan bentuk dan permukaan dari payudara, bisa ukuran lebih besar dari payudara normal. Umumnya payudara yang sakit lebih besar ukurannya.

Ada luka di puting susu atau koreng atau borok. Di puting susu (areola) mirip lecet atau luka biasa.

Ada perubahan pada kulit payudara warna kemerahan, atau seperti gambaran kulit jeruk atau orange. “Kondisi ini jika ada luka, paling tidak sudah stadium 2-3 lanjut,” ungkapnya.

Faktor Risiko dan Mitos-Mitos
Mitos di masyarakat menyebutkan kanker payudara dipicu karena memakai bra malam hari dibawa tidur atau bra dengan kawat. Atau ada juga mitos yang menyebutkan deodoran menjadi pemicu. Mitos lainnya adalah terlalu banyak gula akan memicu sel kanker.

“Jadi yang tadi disebutkan, bra malam hari kawat atau deodoran atau pewangi, pemakaian bra dan gula, sama sekali tak ada hubungannya, tak ada kaitannya,” ungkapnya.

Lalu apa faktor risiko atau pencetus kanker?
Penggunaan pengobatan hormon seperti KB pil, suntik, atau implan. Atau juga pengobatan hormon lainnya, bisa menjadi faktor risiko karena mengganggu keseimbangan hormon.

Faktor risiko lainnya misalnya pasien memiliki riwayat haid pertama kurang dari 10 tahun
Menopause di atas usia 50 tahun
Anak pertama dilahirkan ibunya usia 35 tahun
Wanita yang tak pernah menyusui
Perempuan tak pernah melahirkan atau punya anak.
Perempuan punya riwayat operasi payudara itu faktor keganasan juga
Genetik

“Perempuan yang mempunyai riwayat keluarganya, ada riwayat dengan keganasan, umumnya bisa memicu,” katanya.

Kanker Payudara Berdasarkan Stadium dan Peluang Kesembuhan

Stadium 1 : Kondisi klinis ukurannya kurang dari 2 cm tak ada penyebaran kelenjar getah bening di ketiak. Angka peluang kesembuhan di atas 90 persen.

Stadium 2 : Kondisi klinis ukuran 2-4 cm. Dan sudah ada penyebaran kelenjar getah bening di ketiak. Angka peluang kesembuhan atau 70-80 persen.

Stadium 3 : Kondisi klinis 4-6 cm atau sudah menyebar menembus ke otot dinding belakang. Sudah ada koreng atau borok di payudara, dan ada penyebaran kelenjar getah bening di ketiak, dan di atas ketiak, bahkan sampai ke leher bagian bawah dan atas. Itu stadium 3 A, B, dan C. Angka peluang kesembuhan 40-60 persen.

Stadium 4 : Berapapun ukuran tumor, sudah ada penyebaran kelenjar getah bening di ketiak, leher bagian bawah dan atas. Dan terjadi penyebaran ke organ jauh, hati, paru dan tulang. Angka peluang kesembuhan 10-20 persen. Pasien mengalami keluhan sesak napas, batuk darah, ada cairan di paru-paru. Angka peluang kesembuhan hanya 10-20 persen.

“Misalnya kalau menyebar ke hati yang dirasakan mual muntah, berat badan turun drastis, mata kuning kulit kuning, HB turun. Lalu usia pasien terlihat lebih tua dari sebenarnya.

Dalam 6 bulan pertama, dari 100 pasien hanya 10 orang yang hidup, sisanya meninggal. Karena sudah terjadi gagal organ,” ungkapnya.

“Pada intinya tak bisa sembuh total. Semua cancer tak bisa sembuh 100 persen. Misalkan pada kanker payudara stadium 1, angka pertumbuhannya bisa 98-99 persen. Namun masih ada 1-2 persen sel-sel kanker yang tidur yang sewaktu-waktu bisa tumbuh lagi dalam tempo beberapa tahun. Kadang tumbuh lagi di organ lainnya, tumbuh di otak, hati, tulang. Makanya pasien setelah melakukan pengobatan tetap harus kontrol,” jelasnya.

Pengobatan Kanker Payudara di Mayapada Hospital
Mayapada Hospital memiliki tim dokter ahli Konsultan Onkologi berpengalaman yang berkolaborasi melalui tumor board agar penanganan kasus pasien dapat dilakukan secara komprehensif sesuai dengan besar tumor dan kondisi pasien.

Tindakan pembedahan dengan kamar operasi tekanan negatif memberikan jaminan keamanan di tengah pandemi. Salah satu terapi pengobatan kanker payudara adalah operasi yang dinamakan mastektomi radikal.

Operasi mastektomi radikal adalah pengangkatan payudara yang terkena kanker dan kelenjar getah bening di sekitarnya. Salah satu komplikasi yang sering terjadi pasca operasi adalah terjadinya limfedema yaitu pembengkakan karena penumpukan cairan pada anggota tubuh.

Dan untuk mencegah limfedema, tindakan Lymphatic Venous Anastomosis/Anastomosis vena limfatik (LVA) bisa dilakukan. LVA adalah tindakan intervensi bedah mikro advance di mana beberapa pembuluh limfatik dihubungkan (beranastomosis) ke vena kecil di dekatnya. Dengan menghubungkan pembuluh limfatik yang masih berfungsi ke vena kecil, LVA mencoba untuk melewati pembuluh limfatik yang rusak.

Setelah itu bisa dilakukan Advance Therapy. Penatalaksanaan kanker payudara juga dilakukan dengan pemberian obat-obatan yang dapat diberikan sebelum atau setelah tindakan pembedahan yang disebut sebagai terapi sistemik karena dapat mencapai sel kanker hampir di mana saja dalam tubuh. Beberapa dapat diberikan melalui mulut, disuntikkan ke otot, atau dimasukkan langsung ke dalam aliran darah. Tergantung pada jenis kanker payudaranya. Urutannya adalah Operasi, kemoterapi, radiasi, terapi hormonal, dan terapi target.

Mengenal Radioterapi Linac
Radioterapi merupakan terapi yang relatif aman dan bahkan menjadi terapi terpilih untuk pasien-pasien usia lanjut yang tidak dapat menjalani operasi ataupun kemoterapi.

Teknik radiasi eksterna yang digunakan dipersonalisasi dengan jenis penyakit, stadium, dan disesuaikan dengan kondisi tiap individu yang berbeda-beda.

Mayapada Hospital memiliki pesawat Radioterapi LINAC (Linear Accelerator) yang dilakukan oleh dokter ahli onkologi radiasi di mana memiliki keunggulan mendistribusi sinar radiasi maksimal pada target sel kanker sehingga pada sel jaringan sehat akan lebih sedikit terkena paparan sinar radiasi. Perlu diketahui pula, penyakit kanker tidak bisa disembuhkan, namun bisa ditangani agar menjadi remisi.

Akselerator linier (Linear Accelerator, LINAC) adalah alat yang menghasilkan sinar x berenergi tinggi dengan kemampuan ionisasi tersebut (sinar pengion), berasal dari sumber partikel elektron yang dipercepat dan ditabrakkan pada target logam berat sehingga menghasilkan sinar x berenergi tinggi.

Radioterapi dengan menggunakan Linac relatif lebih nyaman dan aman dari segi proteksi radiasi selama memenuhi standar dan regulasi yang ditetapkan, karena ketika alat dimatikan maka tidak ada radiasi yang terpancar, berbeda dengan sumber radioaktif alami yang terus menerus mengeluarkan radiasi.

Oncology Center Mayapada Hospital didekasikan untuk pencegahan, deteksi dini, diagnosis, terapi kanker, sampai perawatan berkelanjutan setelahnya. Tim Onkologi Center didukung oleh tim multidisiplin yang terdiri dari Dokter Bedah Onkologi, Dokter Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi, Dokter Onkologi Radiasi, Dokter Ginekologi Onkologi, dan spesialis lainnya sesuai dengan kebutuhan pasien. Tim Dokter Bedah Onkologi Mayapada Hospital di antaranya:

1. dr. Bayu Brahma, Sp.B(K) Onk dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan
2. dr. Ramadhan, Sp.B(K) Onk dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan
3. dr. Ismairin Oesman, Sp.B(K) Onk dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan
4. dr. Bajuadji, Sp.B(K) Onk, MARS dari Mayapada Hospital Tangerang dan Mayapada BMC Bogor
5. dr. Iskandar, Sp.B(K) Onk dan dr. Umar Suratinojo, Sp.B(K) Onk dari Mayapada Hospital Kuningan
6. dr. Jemmy Sasongko, Sp.B(K) Onk dari Mayapada Hospital Surabaya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore