Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 Januari 2021 | 22.26 WIB

Bukan Diare Biasa, Kenali Gejala Penyakit Autoimun Pada Usus

Minum teh dengan perut kosong bisa menyebabkan gangguan pada perut. (NDTV) - Image

Minum teh dengan perut kosong bisa menyebabkan gangguan pada perut. (NDTV)

JawaPos.com - Terlalu sering diare, sebaiknya jangan disepelekan. Bisa jadi itu bukan diare biasa tetapi merupakan penyakit Inflammatory bowel disease (IBD). Penyakit tersebut merupakan penyakit autoimun yang juga dikenal dengan peradangan usus kronis ini bisa menciptakan komplikasi hingga kematian bagi penderitanya.

Namun sayangnya, sampai saat ini kesadaran masyarakat masih rendah terhadap IBD. Hal ini karena gejala umum IBD adalah diare, di mana masyarakat masih sulit membedakan diare biasa dengan diare yang mengarah pada IBD.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam & Konsultan Gastroenterologi Hepatologi RSCM-FKUI Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH, mengatakan, IBD merupakan sekelompok penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan pada usus kecil dan besar. Ini terjadi saat elemen sistem pencernaan diserang oleh sistem kekebalan tubuh sendiri.

IBD ditandai dengan episode peradangan saluran cerna berulang yang disebabkan oleh respon imun yang abnormal terhadap mikroflora usus. Namun, secara klinis IBD sering secara keliru disamakan dengan irritable bowel syndrome (IBS) atau diare biasa.

Baca Juga: Alasan Penderita Autoimun dan HIV Tak Bisa Disuntik Vaksin Covid-19

"IBD dan IBS adalah dua gangguan pencernaan yang berbeda, meskipun perbedaan keduanya dapat membingungkan banyak orang," kata Prof Murdani dalam konferensi pers virtual, Rabu (20/1).

Baik IBD maupun IBS menyebabkan sakit perut, kram, dan buang air besar yang mendesak (diare). Namun, IBS masih diklasifikasi sebagai gangguan fungsional dan tidak menimbulkan peradangan, sedangkan IBD sudah diklasifikasi sebagai gangguan organik yang disertai dengan kerusakan pada saluran cerna.

"IBD tentu lebih berbahaya karena dapat menyebabkan peradangan yang merusak dan kerusakan ini bisa bersifat permanen pada usus, bahkan salah satu komplikasinya bisa meningkatkan risiko kanker usus besar,” tutur Prof. Murdani.

Pada dasarnya, IBD terbagi menjadi 2 tipe, yaitu Ulcerative Colitis (UC) dan Crohn’s Disease3. Kini terdapat juga tipe yang lain dari IBD, yaitu Colitis Indeterminate (Unclassified).

1. Ulcerative Colitis (UC)

Terjadi peradangan dan luka di sepanjang lapisan superfisial usus besar dan rectum, sehingga sering merasa nyeri di bagian kiri bawah perut.

2. Crohn’s Disease (CD)

Terjadi peradangan hingga lapisan saluran pencernaan yang lebih dalam, sehingga sering merasa nyeri di bagian kanan bawah perut namun pendarahan dari rektum cenderung lebih jarang.

Gejala

Prof. Murdani menambahkan, gejala penyakit radang usus berbeda-beda, tergantung pada tingkat keparahan peradangan dan lokasi terjadinya peradangan. Namun pada UC dan CD, keduanya memiliki tanda dan gejala umum yang perlu diwaspadai seperti diare, kelelahan, sakit perut dan kram, nafsu makan berkurang, darah pada feses, dan penurunan berat badan.

“Pada dasarnya, penyebab IBD belum diketahui jelas. IBD ini tentu disebabkan oleh gangguan sistem kekebalan tubuh. Namun, kesalahan pada diet dan tingkat stres berlebih juga bisa memicu terjadinya IBD. Faktor keturunan juga berperan dalam IBD meskipun angka penderitanya sangat sedikit,” jelasnya.

Dalam perkembangannya, IBD yang dibiarkan bisa memperparah kondisi pasien akibat komplikasi yang ditimbulkan. Pada UC, penderitanya bisa mengalami toxic megalocon (pembengkakan usus besar yang beracun), perforated colon (lubang pada usus besar), dehidrasi berat dan meningkatkan risiko kanker usus besar.

Pada CD, penderitanya bisa mengalami bowel obstruction, malnutrisi, fistulas, dan anal fissure (robekan pada jaringan anus). Jika kedua jenis IBD ini dibiarkan, keduanya bisa menciptakan komplikasi seperti penggumpalan darah, radang kulit, mata, dan sendi, serta komplikasi lainnya.

Presiden Direktur PT Takeda Indonesia Idham Hamzah mendorong peningkatan kesadaran pasien terkait IBD di Indonesia. Kesadaran dan pengetahuan tentang IBD sangat diperlukan, bagi pasien IBD, keluarga, dan caregiver. Bahkan bagi masyarakat luas agar kesadaran terhadap bahaya IBD semakin meningkat.

Saat didiagnosis IBD, pasien perlu memahami bahwa proses peradangan pada penyakit ini dapat mereda jika berkomitmen menjalani pengobatan dan modifikasi gaya hidup dengan pola makan yang sesuai dengan tingkatan IBD serta berolahraga. Disarankan pula untuk berkumpul dengan pasien-pasien IBD lain untuk dapat saling berbagi pengalaman dan saling menguatkan.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/ukLKzKyKvf0

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore