
Ilustrasi
JawaPos.com - Era modern rupanya bisa membuat tubuh malas bergerak. Masyarakat cenderung lebih senang memanfaatkan teknologi secara instan untuk membeli sesuatu atau berbelanja online, ketimbang jalan kaki atau berolahraga. Selain itu, pola makan yang tinggi lemak, garam, dan kalori, memicu munculnya penyakit degeneratif.
Di antaranya, penyakit kardiovaskular. Penyakit kardiovaskular terdiri atas Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan stroke. Kedua penyakit ini sekarang sudah banyak menyerang usia muda di usia 25-30 tahun. Sulitnya mengelola stres dan tumpukan beban pekerjaan tanpa mengenal istirahat, semakin membuat risiko penyakit degeneratif cepat muncul. Jika sudah jantung dan stroke, maka pemicu lainnya bisa terjadi komplikasi seperti diabetes dan gagal ginjal.
Bahkan saat ini, stroke menjadi penyakit paling banyak yang diderita masyarakat Indonesia. Ancaman penyakit degeneratif akibat gaya hidup menambah beban negara dari sisi pembiayaan jaminan kesehatan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan. Ada berbagai macam penyakit katastropik yang menjadi beban di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tak hanya bagi pemerintah, tenaga kesehatan juga menghadapi tantangan yang sama beratnya, termasuk perawat.
Penyakit katastropik adalah penyakit yang berbiaya tinggi dan secara komplikasi dapat terjadi ancaman jiwa yang membahayakan jiwanya. Penyakit akibat gaya hidup menjadi salah satu yang paling banyak diderita peserta BPJS dan menyerap klaim yang tinggi.
"Tentu saja peran kami di era BPJS diorientasikan pada sifat pelayanan yang didukung upaya promotif dan preventif. Mengutamakan pencegahan," tegas Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Achir Yani S. Hamid, Senin (20/11).
Yani juga mencontohkan perawat bisa membimbing dan mengedukasi pasien untuk mencegah berbagai penyakit dari mulai pola makan dan pola hidup sehat. Apalagi banyak pasien seringkali melanggar aturan untuk hidup sehat. Misalnya, pasien diabetes sulit untuk mengatur pola makan agar gula darahnya tetap stabil.
"Biasa ya pasien seperti itu. Kami dibekali cara untuk mengubah perilaku dengan cara persuasif. Cara kami tetap harus tegas tetapi memberikan potensi risiko yang akan terjadi kepada pasien. Jika tetap dilakukan, ini lho konsekuensinya," ungkap Yani.
Sementara data Kementerian Kesehatan Tahun 2016 beban penyakit katastropik menyerap beban anggaran Rp 1,69 triliun atau 29,67 persen. Banyaknya pasien yang berobat membuat beban biaya JKN terserap.
Yani juga mengungkapkan berbagai penyakit yang paling banyak diderita masyarakat akibat gaya hidup. Penyakit-penyakit tersebut umumnya paling banyak dibiayai oleh BPJS.
Penyakit paling banyak diderita masyarakat Indonesia:
1. Stroke 21,1 persen
2. Jantung 12,9 persen
3. Diabetes 6,7 persen
4. TBC 5,7 persen
5. Hipertensi 5,3 persen
6. Paru-paru 4,9 persen
Penyebab kematian tertinggi di Indonesia:
1. Stroke
2. Diabetes
3. Hipertensi
Penyakit katastropik yang paling banyak dibiayai BPJS:
1. Gagal ginjal
2. Kanker
3. Jantung
4. Thalasemia
5. Hemofilia
6. Stroke
7. Leukomia
8. Hepatitis
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022