
Ilustrasi AI. (Pinterest)
JawaPos.com - Teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai dilirik untuk membantu mempercepat penanganan pasien stroke di Indonesia. Teknologi ini dinilai dapat menjembatani keterbatasan jarak dan akses dokter spesialis, terutama bagi pasien yang berada di wilayah dengan layanan stroke terbatas.
Potensi tersebut diungkap dalam laporan Strengthening Stroke System Readiness Across ASEAN yang diluncurkan Siemens Healthineers dalam ajang Hospital Management Asia 2026 di Bangkok, Thailand. Laporan ini memuat pandangan tujuh pakar kesehatan dari sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Indonesia memiliki tantangan geografis yang cukup besar dalam pemerataan layanan stroke. Sebagian besar fasilitas dengan kemampuan menangani stroke berat atau thrombectomy masih terkonsentrasi di wilayah barat, terutama Jawa.
Akibatnya, pasien stroke berat dari daerah yang belum memiliki fasilitas tersebut harus menjalani proses rujukan ke rumah sakit dengan kemampuan lebih lengkap. Jarak yang jauh dan proses pemindahan pasien dapat membuat waktu penanganan menjadi lebih panjang.
Dalam kondisi tersebut, jaringan tele-stroke berbasis AI dinilai dapat membantu rumah sakit yang tidak memiliki dokter spesialis. Teknologi dapat digunakan untuk mendukung interpretasi hasil pencitraan medis sekaligus membantu dokter dalam menentukan langkah penanganan pasien.
“Di Indonesia, tantangannya adalah memastikan jenis stroke yang dialami pasien dapat diketahui secara tepat dan cepat. Hasil penanganan sangat bergantung pada seberapa baik seluruh sistem layanan stroke bekerja secara terpadu, mulai dari mengenali gejala dan mengaktifkan layanan medis darurat hingga diagnosis, penanganan, dan rehabilitasi yang cepat,” ujar Alfred Fahringer, Presiden Direktur Siemens Healthineers di Indonesia.
Penggunaan AI juga menjadi semakin relevan seiring upaya pemerintah memperluas kemampuan layanan stroke. Hingga April 2026, sebanyak 231 kabupaten/kota telah memiliki kemampuan melakukan thrombolysis, sedangkan 81 kabupaten/kota sudah mampu melakukan thrombectomy.
Namun, kehadiran teknologi tidak otomatis menyelesaikan persoalan layanan stroke. AI tetap membutuhkan tenaga kesehatan yang terlatih, sistem rujukan yang terkoordinasi, serta protokol klinis yang jelas agar dapat digunakan secara efektif.
Model hub-and-spoke yang diterapkan di Yogyakarta dan Bali menjadi salah satu contoh pendekatan yang dapat dikembangkan. Melalui model tersebut, rumah sakit dengan layanan lengkap dapat menjadi pusat rujukan bagi fasilitas kesehatan lain di wilayah sekitarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022