
Ilustrasi memerangi virus Korona (Adnan Reza Maulana/Jawa Pos)
JawaPos.com – Di tengah pandemi Covid-19, banyak informasi yang bertebaran terkait cara meningkatkan imunitas demi menangkal serangan virus. Salah satunya, berjemur. Kapankah waktu paling tepat untuk berjemur? Ada berbagai versi yang muncul. ”Memang hal itu sedang jadi topik diskusi. Ada yang bilang sebelum jam 10, ada yang malah setelah jam 11,” ujar dr Ni Putu Ary Widhyasti Bandem MKes SpKK FINSDV FAADV.
Ary mengatakan, belum ada bukti ilmiah kuat bahwa sinar matahari bisa membunuh virus korona. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Cabang Surabaya tersebut lebih menekankan agar masyarakat juga memikirkan risiko berjemur.
Adanya gelombang UV pada sinar matahari sudah lama menjadi ”musuh” kulit. Ia dikenal sebagai penyebab adanya photo aging dan kanker kulit. Menurut hasil penelitian WHO melalui proyek INTERSUN, paparan UV berlebihan bisa menimbulkan sunburn. Derajatnya beragam, mulai kulit kemerahan hingga rasa perih pada kulit. Paparan UV berlebihan juga disebutkan berisiko mengakibatkan tumor dan kanker pada kulit.
Ary mengatakan, dampak buruk paparan sinar UV tersebut bisa diminimalkan melalui penggunaan sunscreen atau photo protection. ”Jangan takut penggunaannya mengurangi manfaat baik dari sinar matahari itu sendiri,” ucap dokter spesialis kulit dan kelamin di National Hospital tersebut.
Vitamin D disebut mampu meningkatkan imunitas tubuh terhadap infeksi virus. ”Tapi, ingat. Berapa lama berjemur, jam terbaik, caranya, hingga vitamin D tersintesis itu tidak bisa digeneralisasi,” tegasnya. Sebab, hal tersebut juga dipengaruhi banyak hal. Di antaranya, cuaca, ketinggian, ada tidaknya awan, serta kondisi musim. Jenis sunscreen dan pakaian yang digunakan juga berpengaruh pada penyerapannya.
Selain kondisi eksternal, sintesis vitamin D dipengaruhi pigmentasi setiap orang. ”Kalau warna kulit gelap berarti punya melanin lebih untuk proteksi UV, jadi tahan lebih lama berada di bawah sinar matahari,” jawabnya. Begitu pula dipengaruhi faktor makanan yang dikonsumsi, fungsi enzim, dan fungsi liver. Ada juga kondisi khusus yang membuat seseorang defisiensi vitamin D, hal tersebut hanya bisa diketahui saat pemeriksaan darah.
Ary menyarankan, seseorang perlu mengecek level UV sebelum berjemur. Ary mengatakan, indeks UV yang aman bagi kulit berada di angka 3. Paling mudah, angka tersebut bisa dilihat melalui aplikasi prakiraan cuaca di ponsel masing-masing. Kemarin, Ary sempat mendemonstrasikan indeks UV sekitar pukul 11 siang. ”Nah, ini sampai 11 lho UV index-nya, ini nggak aman bagi kulit,” tegasnya. Karena itu, Ary menegaskan pentingnya penggunaan sunscreen demi meminimalkan dampak negatif dari sinar UV.
Kondisi berjemur juga sebenarnya tidak berarti cukup duduk diam. Menurut Ary, seseorang bisa sambil melakukan hal kesukaan. Misalnya, yang dicontohkan Nadia Soewandito. Pegiat triatlon itu menggunakan waktu berjemurnya sembari pemanasan atau olahraga. ”Jadi, tubuh dipakai gerak sekaligus menyerap vitamin D,” ucapnya.
Tetap Aman Nikmati Sinar Matahari

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
