Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Agustus 2025 | 02.01 WIB

Memahami Stigma Kesehatan Mental: Pelajari 5 Cara Ini agar Bisa Membangun Dukungan untuk Para Penderita

Seseorang yang sedang melakukan konsultasi (Dok. Freepik) - Image

Seseorang yang sedang melakukan konsultasi (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Stigma kesehatan mental merujuk pada pandangan negatif masyarakat yang sering kali berupa rasa malu, penolakan, atau diskriminasi terhadap individu dengan gangguan mental maupun mereka yang mencari pertolongan karena masalah emosional seperti kecemasan, depresi, gangguan bipolar, atau PTSD.

Stigma ini muncul sebagai sikap sosial yang tidak adil dan melekat pada seseorang atau kelompok karena dianggap memiliki kekurangan atau perbedaan tertentu. Hal ini bisa diterapkan pada orang dengan cara hidup berbeda, keyakinan budaya tertentu, pilihan gaya hidup tertentu, maupun kondisi kesehatan termasuk gangguan mental.  

Stigma bisa muncul dari keluarga, teman, rekan kerja, bahkan lingkungan sosial yang lebih luas. Dalam beberapa kasus, stigma juga dipolitisasi sehingga semakin memperparah diskriminasi.

Bentuk stigma tidak selalu tampak jelas. Kadang hadir dalam bahasa yang merendahkan, istilah yang menyakitkan, atau komentar meremehkan mengenai kondisi mental seseorang. Hal ini membuat penderita merasa sendirian dan tidak dipahami.

Stigma juga sering berbentuk stereotip, yaitu anggapan berlebihan atau penyederhanaan yang salah terhadap kelompok tertentu. Misalnya:

  • Orang dengan depresi dianggap malas.
  • Orang dengan kecemasan dianggap penakut.
  • Orang dengan gangguan mental sering digambarkan berbahaya atau suka melakukan kekerasan.

Dilansir dari Medical News Today, terdapat data di tahun 2024 yang menyatakan bahwa lebih dari 1 dari 10 anak dan remaja (usia 5–24 tahun) di seluruh dunia hidup dengan kondisi kesehatan mental.

Sementara itu, mengutip dari riset Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa, di Indonesia sendiri jumlah masyarakat yang mengalami gangguan kecemasan di tahun 2024 meningkat hingga 16%, sementara kasus depresi naik menjadi 17,1%.

Padahal, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi gangguan kecemasan masih berada di angka 9,8% dan depresi hanya sekitar 6%.

Namun, perlu diketahui bahwa stigma tidak muncul dengan cara yang sama di setiap budaya. Misalnya:

  • Budaya yang mengaitkan "ketegaran" dengan maskulinitas dapat menganggap gangguan mental sebagai kelemahan.
  • Keyakinan agama tertentu melihat gangguan mental sebagai bentuk "cobaan" atau campur tangan ilahi, sehingga bisa menunda pengobatan.
  • Nilai yang menekankan pengendalian emosi membuat orang dengan gangguan mental dianggap gagal secara pribadi.

Cara Mengatasi Stigma Kesehatan Mental 

Stigma kesehatan mental merupakan masalah sosial yang kompleks dan sulit diberantas, namun bukan berarti tidak bisa dilawan. Dengan edukasi, dukungan sosial, serta keberanian untuk berbicara dan berbagi pengalaman, stigma dapat dikurangi. 

1. Edukasi Publik

Meningkatkan kesadaran dengan sumber informasi terpercaya sangat penting agar masyarakat tidak lagi terjebak pada ketakutan atau prasangka.  

2. Membangun Ruang Aman 

Menghentikan penggunaan bahasa yang merendahkan serta menciptakan ruang aman bagi orang untuk berbicara tanpa rasa takut dihakimi.  

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore