
Ilustrasi Suplemen Astaxanthin. (Freepik/chormail)
JawaPos.com - Astaxanthin merupakan pigmen alami yang memberikan warna merah pada banyak organisme laut, dan telah menjadi fokus penelitian karena potensi manfaat kesehatannya yang sangat luas.
Astaxanthin dikenal sebagai salah satu antioksidan paling kuat yang ditemukan dalam alam, dan telah dikaitkan dengan berbagai manfaat.
Manfaat-manfaat yang terkadung dalam astaxanthin termasuk melawan radikal bebas, mendukung kesehatan jantung, meningkatkan kinerja otak, dan bahkan meningkatkan kesehatan kulit.
Namun, perlu diperhatikan bahwa ada dua jenis suplemen astaxanthin yang tersedia yakni, alami dan sintetis. Dengan begitu, penting untuk mengetahui perbedaan antara keduanya, karena sumber astaxanthin dapat mempengaruhi efektivitas dan keamanannya.
Dengan memahami karakteristik unik dari masing-masing jenis astaxanthin, Anda dapat membuat pilihan yang lebih cerdas dan sesuai dengan kebutuhan kesehatan Anda.
Dilansir dari Natural Algae Astaxanthin Association pada Rabu (13/3), astaxanthin alami berasal dari organisme alami, yaitu mikroalga Haematococcus pluvialis.
Astaxanthin alami dihasilkan melalui proses biologis di mana Haematococcus pluvialis memproduksi astaxanthin sebagai respons terhadap perubahan kondisi lingkungan. Sementara itu, astaxanthin sintetis diproduksi secara kimiawi dalam skala laboratorium.
Selain itu, perbedaan lainnya antara astaxanthin alami dan sintetis terletak pada proses esterifikasi. Astaxanthin alami memiliki lebih dari 95% esterifikasi, di mana asam lemak alami terikat pada molekulnya.
Sementara itu, astaxanthin sintetis tidak mengalami proses esterifikasi, sehingga berada dalam bentuk bebas atau tidak teresterifikasi.
Hal ini dapat memengaruhi cara tubuh memproses dan menyerap astaxanthin, serta mungkin mempengaruhi efek dan manfaatnya bagi kesehatan.
Ketika astaxanthin tidak teresterifikasi dan berada dalam bentuk bebas, ini dapat memengaruhi cara tubuh memproses dan menyerapnya.
Beberapa studi telah menunjukkan bahwa esterifikasi astaxanthin alami dapat meningkatkan stabilitasnya dalam sistem pencernaan dan meningkatkan penyerapan oleh tubuh, dibandingkan dengan astaxanthin sintetis yang tidak teresterifikasi.
Menurut sebuah studi yang diterbitkan di Nutrafoods, astaxanthin alami 20 kali lebih efektif dalam menghilangkan radikal bebas daripada astaxanthin sintetis, dan menurut para peneliti, varietas sintetis "mungkin tidak cocok sebagai suplemen nutraseutikal manusia."
Namun, efek yang pasti terjadi juga tergantung pada berbagai faktor, termasuk dosis, keberadaan zat lain dalam makanan atau suplemen, dan karakteristik individu.
Keputusan antara mengonsumsi astaxanthin alami dan sintetis tergantung pada preferensi individu, kebutuhan kesehatan, dan sumber daya yang tersedia.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
