Pixabay
JawaPos.com - Profesor Dr. Ade Arsianti, seorang Guru Besar di bidang Kimia Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), tengah giat mengembangkan obat baru yang diharapkan dapat menjadi terobosan signifikan bagi penderita kanker payudara dan malaria.
Dalam menjalankan penelitian dan pengembangan ini, Prof. Ade Arsianti menyoroti tantangan finansial yang melekat pada pembuatan obat baru secara sintetik, yang memerlukan investasi biaya yang cukup tinggi.
Dilansir dari Antara Rabu (27/12), dalam keterangan yang disampaikannya di Depok pada hari Rabu, Prof. Ade Arsianti menjelaskan bahwa pendekatan yang diambil dalam penelitian ini melibatkan sintesis senyawa analog secara rekayasa struktur kimia.
Metode ini bertujuan untuk menciptakan senyawa baru dengan karakteristik unggul, seperti aktivitas yang lebih tinggi, toksisitas atau efek samping yang lebih rendah, selektivitas yang lebih baik, dan stabilitas yang lebih tinggi.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa inovasi dalam rekayasa struktur molekul berbasis sintesis kimia merupakan strategi yang sangat menjanjikan.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menghasilkan senyawa analog obat sintetik yang dapat melampaui kinerja senyawa bioaktif alami, seperti antimycin dan asam galat.
Dengan demikian, langkah ini diharapkan dapat membuka pintu bagi pengembangan obat baru yang lebih efektif dan aman, memperkuat peran ilmu kimia dalam kemajuan bidang kedokteran.
Dalam penelitiannya yang terfokus pada inovasi rekayasa struktur molekul, Profesor Ade Arsianti mengarahkan perhatiannya pada sintesis senyawa analog Antimycin A3, yang menunjukkan potensi signifikan dalam membunuh sel kanker payudara.
Menurut penelitian sebelumnya, diketahui bahwa dilakton cincin sembilan pada Antimycin A3 kurang efektif sebagai antikanker, menjadi dasar bagi Prof. Ade untuk melakukan modifikasi pada struktur molekul tersebut.
Proses rekayasa struktur molekul dilakukan melalui modifikasi pada gugus aktif tetra lakton cincin 18, menghasilkan senyawa analog 2.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa ini memiliki potensi pengembangan sebagai kandidat obat baru untuk terapi kanker payudara, karena mampu menunjukkan aktivitas yang lebih kuat daripada Antimycin A3.
Tidak hanya pada Antimycin A3, tetapi inovasi rekayasa struktur juga diterapkan pada senyawa asam galat.
Asam galat, yang merupakan asam trihidroksi benzoat yang terdapat dalam tumbuhan dan buah-buahan, telah terbukti memiliki sifat sebagai antioksidan, antijamur, antivirus, antiinflamasi, dan antikanker.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
