Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 November 2023 | 17.40 WIB

Pakar Kedokteran UI Ungkap Tiga Kendala Pengobatan Malaria, Salah Satunya Pasien Tak Menuntaskan Pengobatan

Pakar Kedokteran UI dengan Oxford University Clinical Research Unit - Indonesia (OUCRU Indonesia), Selasa (21/11). - Image

Pakar Kedokteran UI dengan Oxford University Clinical Research Unit - Indonesia (OUCRU Indonesia), Selasa (21/11).

JawaPos.com - Kendala pengobatan malaria semakin dirasakan oleh masyarakat, lantaran banyaknya kasus yang membuat Kemenkes kewalahan, dan penanganannya pun belum maksimal.

Dari data Kemenkes pada April 2023 lalu, jumlah kasus malaria tahun ini telah ditemukan sebanyak 55.525 kasus.

Adanya pasien malaria yang masih tinggi ini, dapat disimpulkan bawah program dari Kemenkes belum maksimal, dan kendala pengobatan malaria masih saja ditemui.

Pakar dari Divisi Penyakit Tropik Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI Erni Juwita Nelwan mengungkapkan ada tiga kendala pengobatan malaria yang dialami Kemenkes.

Kendala ini mengakibatkan program mereka  belum maksimal. Berikut masalah yang menyebabkan pengobatan malaria belum maksimal:

  1. Pasien Malaria Tidak Menuntaskan Pengobatan

Menurut Erni Juwita Nelwan, pasien malaria idealnya mengoptimalkan dosis obat untuk mencegah kekambuhan selama 14 hari menggunakan obat primakuin.

Namun dalam prosesnya, pasien biasanya sudah merasa lebih baik secara kondisi setelah melewati hari ketiga atau keempat. Ini kerap membuat sang pasien memilih untuk tidak melanjutkan minum obat sesuai dosis yang telah ditentukan.

"Saya akui, kesulitan pasien melakukan pengobatan menggunakan obat primakuin itu lama, selama 14 hari harus konsisten minum itu," ujar Erni saat acara Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dengan Oxford University Clinical Research Unit - Indonesia (OUCRU Indonesia), Selasa (21/11).

"Artinya jika orang tidak ada gejala, obatnya tetap harus dilanjut tidak boleh stop. Kalau bosen dan stop obat bisa terjadi kekambuhan lagi," lanjutnya.

Jika pasien malaria kambuh, disebabkan karena tidak disiplin menghabiskan dosis obat. Mereka pun akan kembali tercatat sebagai kasus baru alias menambah angka tingginya malaria di Indonesia.

  1. Nyamuk dengan Parasit Plasmodium Vivax

Jenis parasit yang dibawa nyamuk anopheles di Indonesia ternyata cukup berbeda dengan nyamuk anopheles di Afrika. Ini pun membuat eliminasi malaria di Tanah Air menjadi sebuah tantangan yang lebih sulit.

Parasit itu adalah plasmodium vivax, parasit yang dapat menimbulkan kekambuhan yang berulang-ulang pada satu pasien. Sementara di Afrika kebanyakan nyamuknya membawa parasit plasmodium falciparum.

  1. Populasi Nyamuk yang Tak Terkontrol dan Perubahan Iklim

Nyamuk anopheles memang tidak di semua tempat ada. Mereka biasanya hidup di hutan dan rawa-rawa.

Namun sampai saat ini populasinya masih terhitung tinggi sebab punya berbagai macam breeding phase yang berbeda-beda, hal inilah yang membuat sulit untuk dikontrol.

Selain itu, ada faktor perubahan iklim yang cukup ekstrim, banyak daerah yang melaporkan kasusnya mulai meningkat.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore