Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 Maret 2021 | 17.37 WIB

Waspadai, Pasien Gagal Ginjal Bisa Alami Gangguan Tidur Hingga Depresi

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Pasien Penyakit Ginjal Kronis (PGK) hingga Gagal Ginjal Terminal (GGT) berhak mendapatkan kualitas hidup yang baik. Sayangnya, sebagian dari mereka mengalami komplikasi dari pengobatan yang dialami. Hal itu tak hanya berdampak pada fisik tetapi juga mental pasien.

Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), dr. Aida Lydia, PhD., SpPD, K-GH mengatakan, untuk membuat hidup pasien tetap berkualitas maka pendekatannya harus berbasis keluarga. Pasien dan pendampingnya harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan serta harus mengerti mengenai konsekuensi yang muncul akibat keputusan tersebut.

"Sebagai contoh, pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis (cuci darah), pasien dan pendampingnya hendaknya memahami mengenai pembatasan asupan cairan dan diet, serta obat yang harus rutin dikonsumsi. Pendekatan berbasis kekuatan bertujuan untuk membentuk ketahanan diantara pasien-pasien PGK dengan meningkatkan hubungan sosial antar pasien," katanya dalam webinar Hari Ginjal Sedunia, Kamis (11/3).

Baca Juga: Dokter: Obat Hipertensi dan Diabetes Rusak Ginjal Tidaklah Tepat

Menurutnya, pasien bisa mengalami komplikasi terhadap aspek kejiwaan akibat kondisi penyakit ginjalnya. Misalnya gangguan cemas, depresi, gangguan tidur, dan stres.

"Pendekatan ini juga harus diberikan demi mengoptimalkan peran pasien dalam kehidupannya," kata dr. Aida.

Hidup berkualitas tentunya tidak terlepas dari kondisi fisik pasien yang memadai untuk dapat tetap berpartisipasi dalam kehidupan. Mengenai hal ini, Direktur Utama Dewan Direksi BPJS Kesehatan, Prof Ali Ghufron Mukti mengatakan salah satu strategi pemberdayaan pasien adalah memfasilitasi akses pengobatan yang berkualitas. Sebagai contoh, pasien harus terbebas dari gejala-gejala komplikasi terkait dengan PGK.

"Seperti kecemasan, depresi, gangguan tidur, gangguan penyesuaian, anemia dan gatal-gatal dengan cara identifikasi gejala tersebut dan tersedianya akses untuk mendapatkan pengobatan sesuai dengan gangguan yang dialami pasien," kata Prof Ali.

Selain terapi obat, kata dia, pasien juga dapat dihadapkan pada pilihan terapi pengganti ginjal yang disesuaikan dengan tujuan, prioritas, dan nilai hidup baik pasien, maupun pendamping pasien. Selain itu, peran dari pemangku kebijakan antara lain meningkatkan sumber daya untuk penyediaan layanan kesehatan yang komprehensif.

"Termasuk obat-obatan, nutrisi dan layanan rehabilitasi serta menjamin akses menuju perawatan kesehatan tersebut," tutup Prof Ali.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=wIBoW_kzmfI

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore