Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Oktober 2026 | 21.41 WIB

Bukan Sekadar Takut Jarum Suntik, 7 Faktor Psikologis Ini Bikin Orang Enggan Berobat

seseorang yang lebih memilih tidak pergi ke dokter. (Freepik/The Yuri Arcurs Collection) - Image

seseorang yang lebih memilih tidak pergi ke dokter. (Freepik/The Yuri Arcurs Collection)

JawaPos.com – Tidak semua orang merasa nyaman ketika harus menjalani pemeriksaan kesehatan. Sebagian justru memilih mengabaikan gejala yang muncul, menunda konsultasi medis, atau menghindari pemeriksaan karena khawatir mengetahui diagnosis yang sebenarnya.

Bagi orang lain, sikap tersebut mungkin sulit dipahami. Padahal, mengetahui kondisi kesehatan sejak dini dapat membantu seseorang memperoleh penanganan yang sesuai. Namun, bagi mereka yang memiliki ketakutan tertentu, proses mencari tahu kondisi tubuh justru bisa memicu kecemasan.

Dalam sudut pandang psikologi, kebiasaan menghindari pemeriksaan medis dapat berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari ketakutan terhadap hasil diagnosis hingga pengalaman buruk di masa lalu. Cara seseorang menghadapi ketidakpastian dan memahami kondisi dirinya juga bisa memengaruhi keputusan untuk mencari pertolongan.

Dilansir dari laman Geediting, terdapat tujuh karakteristik psikologis yang mungkin berkaitan dengan kecenderungan seseorang menghindari dokter. Meski demikian, karakteristik ini bukan diagnosis kepribadian dan tidak berarti semua orang yang menunda pemeriksaan memiliki alasan yang sama.

1. Cenderung Menghindari Ketakutan dan Kecemasan

Sebagian orang memilih tidak memeriksakan diri karena merasa takut terhadap kemungkinan hasil pemeriksaan. Mereka mungkin membayangkan diagnosis yang serius, pengobatan yang panjang, atau perubahan besar dalam kehidupan setelah mengetahui kondisi kesehatannya.

Dalam psikologi, pola menghadapi tekanan dengan menjauh dari sumber kecemasan dikenal sebagai avoidance coping. Seseorang berusaha mengurangi ketidaknyamanan emosional dengan menghindari situasi yang dianggap mengancam.

Misalnya, ketika merasakan gejala tertentu, seseorang berpikir bahwa lebih baik tidak mengetahui penyebabnya daripada harus terus memikirkan kemungkinan penyakit yang menakutkan.

Keputusan tersebut mungkin membuatnya merasa lega untuk sementara waktu. Namun, kecemasan belum tentu benar-benar hilang karena ketidakpastian mengenai kondisi kesehatan masih ada.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan menghindar dapat membuat seseorang menunda penanganan yang sebenarnya diperlukan. Mengakui rasa takut dan mencari informasi medis yang tepat dapat menjadi langkah awal untuk menghadapinya.

2. Merasa Kesehatan Lebih Ditentukan oleh Nasib

Ada orang yang menganggap kondisi kesehatan sepenuhnya bergantung pada takdir, keberuntungan, atau faktor lain di luar kendalinya. Mereka mungkin berpikir bahwa jika memang akan sakit, pemeriksaan tidak akan banyak mengubah keadaan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore