Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 02.13 WIB

6 Alasan Mengapa Menyebut Anakmu “Pemilih Makanan” Bisa Lebih Menyakitinya daripada yang Kamu Kira

seseorang yang menyebut anaknya pemilih makanan / foto: Magnific/Jomkwan

 

JawaPos.com - “Anak saya memang pemilih makanan.”

Kalimat ini terdengar sederhana. Bahkan, bagi banyak orang tua, menyebut anak sebagai picky eater atau “pemilih makanan” mungkin terasa seperti cara yang praktis untuk menjelaskan kebiasaan makan mereka.

Anak hanya mau makan makanan tertentu. Menolak sayuran. Tidak mau mencoba makanan baru. Memisahkan makanan di piring. Atau bahkan menangis ketika menu favoritnya tidak tersedia.

Lalu orang tua mengatakan, “Dia memang anak pemilih makanan.”

Tidak ada niat buruk di baliknya.

Namun, dari sudut pandang psikologi anak, sebuah label yang terus-menerus diberikan kepada anak dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita sadari.

Anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan tentang dirinya. Seiring waktu, ia dapat mulai mempercayainya.

Dan ketika sebuah perilaku berubah menjadi identitas—“Aku memang anak yang tidak suka banyak makanan”—anak mungkin semakin sulit melihat dirinya sebagai seseorang yang sebenarnya mampu berubah, mencoba, dan berkembang.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (16/10), terdapat enam alasan mengapa menyebut anak Anda “pemilih makanan” bisa lebih menyakitinya daripada yang Anda kira.

1. Anak Bisa Mulai Menganggap “Pemilih Makanan” sebagai Bagian dari Identitasnya

Anak-anak sedang berada dalam proses membangun konsep diri.

Mereka belajar menjawab pertanyaan seperti:

“Aku ini anak seperti apa?”

“Apa yang bisa kulakukan?”

“Apa yang tidak bisa kulakukan?”

“Apa yang orang lain pikirkan tentang diriku?”

Pada usia dini, anak sangat bergantung pada orang-orang terdekatnya untuk mendapatkan informasi tentang dirinya. Apa yang dikatakan orang tua, guru, atau anggota keluarga dapat menjadi bahan yang digunakan anak untuk membangun gambaran dirinya sendiri.

Karena itu, ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Kamu belum mau mencoba makanan ini.”

dan:

“Kamu memang anak yang pemilih makanan.”

Kalimat pertama menggambarkan perilaku.

Kalimat kedua menggambarkan identitas.

Perilaku dapat berubah. Identitas terasa lebih permanen.

Jika seorang anak berulang kali mendengar bahwa dirinya “pemilih makanan”, ia mungkin mulai berpikir:

“Memang aku seperti itu.”

“Aku tidak suka makanan baru.”

“Aku tidak bisa makan makanan seperti anak-anak lain.”

“Aku memang susah makan.”

Inilah yang membuat label bisa menjadi masalah.

Ketika anak mempercayai sebuah label, ia tidak selalu memiliki motivasi untuk membuktikan bahwa label tersebut salah. Sebaliknya, ia dapat bertindak sesuai dengan label yang sudah melekat padanya.

Dalam psikologi, konsep ini berkaitan dengan bagaimana ekspektasi dan keyakinan tentang diri dapat memengaruhi perilaku.

Jika anak percaya bahwa dirinya adalah “anak yang tidak suka sayur”, misalnya, ia mungkin semakin cepat menolak sayuran bahkan sebelum benar-benar mencobanya.

Bukan karena ia sengaja membangkang.

Melainkan karena otaknya sudah memiliki ekspektasi tentang apa yang akan terjadi.

Apa yang sebaiknya dilakukan?

Alih-alih memberi label, fokuslah pada situasi dan perilaku.

Daripada mengatakan:

“Dia memang pemilih.”

Cobalah:

“Dia masih membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan beberapa makanan.”

Atau:

“Dia belum nyaman mencoba makanan baru.”

Perubahan bahasa ini terlihat kecil, tetapi pesannya berbeda.

Yang satu mengatakan, “Inilah dirimu.”

Yang lain mengatakan, “Inilah yang sedang kamu alami.”

Dan sesuatu yang sedang dialami masih bisa berubah.

2. Label Dapat Membuat Anak Merasa Ada yang “Salah” dengan Dirinya

Bagi orang dewasa, menjadi pemilih makanan mungkin tampak sebagai kebiasaan kecil.

Bagi seorang anak, pengalaman makan bisa jauh lebih emosional.

Makanan bukan hanya soal nutrisi. Momen makan juga berkaitan dengan kenyamanan, kontrol, pengalaman sensorik, hubungan dengan orang tua, dan suasana emosional di rumah.

Bayangkan seorang anak yang setiap kali duduk di meja makan mendengar:

“Jangan pilih-pilih.”

“Kamu ini susah sekali makannya.”

“Lihat kakakmu, dia mau makan semuanya.”

“Kamu memang pemilih.”

Jika hal tersebut terjadi berulang kali, anak dapat mulai menghubungkan waktu makan dengan perasaan negatif.

Ia mungkin merasa:

“Aku selalu membuat orang tua kecewa.”

“Aku tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar.”

“Ada yang salah dengan diriku.”

Perasaan seperti ini tidak selalu muncul secara sadar. Anak mungkin tidak mampu mengatakan, “Saya mengalami tekanan psikologis karena label yang diberikan kepada saya.”

Sebaliknya, tekanan tersebut dapat muncul dalam bentuk menangis, menghindari meja makan, semakin keras menolak makanan, atau menjadi sangat cemas ketika melihat makanan tertentu.

Dengan kata lain, masalah yang awalnya hanya berupa preferensi makanan dapat berkembang menjadi konflik emosional.

Anak membutuhkan rasa aman, bukan rasa malu

Dalam perkembangan anak, rasa aman sangat penting.

Anak perlu mengetahui bahwa dirinya tetap diterima meskipun ia belum mampu melakukan sesuatu.

Ia boleh belum bisa membaca.

Ia boleh belum pandai mengikat tali sepatu.

Ia boleh takut mencoba sesuatu.

Dan ia juga boleh membutuhkan waktu untuk menerima makanan baru.

Tentu saja, orang tua tetap dapat memberikan batasan dan memperkenalkan makanan bergizi.

Namun, batasan tidak harus disampaikan dengan mempermalukan anak.

Ada perbedaan antara:

“Kamu harus makan semuanya karena kamu anak pemilih.”

dan:

“Kita akan tetap menyediakan makanan ini. Kamu tidak harus langsung menyukainya.”

Pesan kedua memberi ruang bagi anak untuk belajar tanpa merasa dirinya bermasalah.

3. Anak Bisa Menjadi Semakin Cemas terhadap Makanan

Salah satu hal yang sering dilupakan orang dewasa adalah bahwa tekanan dapat mengubah pengalaman makan.

Ketika setiap waktu makan berubah menjadi pertarungan, makanan tidak lagi hanya diasosiasikan dengan rasa lapar dan kenyang.

Makanan dapat diasosiasikan dengan kecemasan.

Anak mungkin mulai berpikir:

“Nanti aku disuruh makan ini lagi.”

“Kalau aku tidak habiskan, Mama marah.”

“Aku akan dimarahi kalau tidak mau mencoba.”

“Aku harus makan supaya Ayah tidak kecewa.”

Akibatnya, waktu makan menjadi situasi yang penuh tekanan.

Dan semakin besar tekanan yang dirasakan anak, semakin sulit baginya untuk mendekati makanan baru dengan rasa ingin tahu.

Padahal, mencoba makanan baru membutuhkan keterbukaan.

Anak perlu merasa cukup aman untuk melihat, mencium, menyentuh, dan mencicipi sesuatu yang belum familiar.

Jika setiap percobaan selalu disertai tekanan, anak dapat belajar bahwa makanan baru adalah sesuatu yang harus diwaspadai.

Karena itu, kalimat seperti “Kamu kan pemilih makanan!” mungkin sebenarnya memperkuat siklus yang ingin dihentikan orang tua.

Orang tua frustrasi karena anak menolak makanan.

Anak merasa tertekan.

Tekanan membuat pengalaman makan semakin negatif.

Anak semakin menolak.

Orang tua semakin yakin bahwa anak memang “pemilih”.

Siklus tersebut kemudian berulang.

Bagaimana memutus siklusnya?

Kurangi fokus pada label dan tingkatkan fokus pada eksplorasi.

Misalnya:

“Coba lihat warnanya.”

“Baunya seperti apa?”

“Kamu mau menyentuhnya dulu?”

“Kamu tidak harus langsung menghabiskannya.”

Pendekatan seperti ini membantu makanan baru terasa lebih aman dan tidak seperti ujian yang harus dilewati.

4. Label Bisa Mengubah Cara Orang Tua Memperlakukan Anak

Ada hal lain yang sering tidak disadari.

Ketika kita sudah memiliki label tertentu tentang seseorang, kita cenderung memperhatikan perilaku yang sesuai dengan label tersebut.

Jika orang tua sudah yakin:

“Anakku pemilih makanan.”

Maka ketika anak menolak satu makanan, penolakan itu dapat terasa seperti bukti.

“Nah, benar kan? Dia memang pemilih.”

Tetapi ketika anak mencoba makanan baru tanpa masalah, pengalaman tersebut mungkin tidak terlalu diperhatikan.

Inilah salah satu risiko dari sebuah label: label dapat memengaruhi cara kita menafsirkan perilaku.

Orang tua mungkin mulai menawarkan pilihan yang semakin sedikit karena berpikir:

“Percuma memberinya makanan itu. Dia pasti tidak mau.”

Akibatnya, kesempatan anak untuk berinteraksi dengan makanan baru menjadi semakin sedikit.

Secara tidak sengaja, label yang diberikan orang tua dapat memengaruhi lingkungan yang diterima anak.

Ini bukan berarti orang tua sengaja melakukan sesuatu yang salah.

Sebagian besar orang tua hanya ingin menghindari konflik.

Namun, dalam jangka panjang, terlalu cepat menerima identitas “pemilih makanan” dapat membuat orang tua berhenti memberi kesempatan kepada anak untuk berkembang.

Perilaku anak bukan sesuatu yang selalu tetap

Anak berubah sangat cepat.

Selera dapat berubah.

Kepekaan terhadap tekstur dapat berubah.

Pengalaman dapat berubah.

Kebiasaan makan juga dapat berubah.

Karena itu, lebih baik melihat perilaku makan sebagai sesuatu yang sedang berkembang daripada sebagai sifat permanen.

Daripada:

“Dia tidak akan pernah suka sayur.”

Cobalah:

“Sampai sekarang dia belum menyukai beberapa jenis sayuran.”

Kedengarannya hampir sama.

Tetapi secara psikologis, kalimat kedua menyisakan ruang untuk kemungkinan bahwa sesuatu dapat berubah.

5. Anak Bisa Belajar Menggunakan Label Itu untuk Menolak Pengalaman Baru

Label tidak hanya memengaruhi cara orang tua melihat anak.

Label juga dapat menjadi “alasan” yang digunakan anak untuk memahami dan mengatur perilakunya sendiri.

Misalnya, seorang anak ditawari makanan baru.

Ia mungkin berkata:

“Aku tidak mau. Aku kan pemilih.”

Kalimat tersebut terdengar sederhana.

Tetapi perhatikan apa yang terjadi.

Anak tidak lagi hanya mengatakan bahwa ia tidak menyukai makanan tertentu.

Ia menggunakan identitasnya sebagai dasar untuk menghindari pengalaman baru.

“Karena aku pemilih, aku tidak perlu mencoba.”

Di sinilah pentingnya memberi anak bahasa yang lebih fleksibel.

Alih-alih:

“Aku anak yang tidak suka makanan baru.”

Ajarkan:

“Aku belum terbiasa dengan makanan ini.”

“Aku belum tahu apakah aku suka.”

“Aku boleh mencobanya sedikit.”

“Aku belum suka teksturnya.”

Bahasa seperti ini membantu anak membedakan antara preferensi saat ini dan kemampuan untuk berubah.

Perbedaan itu sangat penting dalam perkembangan psikologis.

Seorang anak dapat mengatakan:

“Aku tidak suka.”

Tanpa harus menyimpulkan:

“Aku memang tidak akan pernah suka.”

6. Label Dapat Mengganggu Hubungan Positif Anak dengan Makanan

Mungkin inilah alasan yang paling penting.

Tujuan jangka panjang bukan sekadar membuat anak menghabiskan makan malam hari ini.

Tujuannya adalah membantu anak membangun hubungan yang sehat dengan makanan.

Hubungan yang sehat dengan makanan berarti anak secara bertahap belajar mengenali rasa lapar dan kenyang, mengenal berbagai jenis makanan, memahami bahwa selera bisa berbeda, serta mampu menikmati makanan tanpa selalu merasa takut, malu, atau tertekan.

Jika makanan terus menjadi arena konflik, anak dapat belajar bahwa makan adalah sesuatu yang harus dikontrol oleh orang dewasa.

Ia mungkin makan karena takut dimarahi.

Atau menolak makan sebagai bentuk mendapatkan kendali.

Pada beberapa anak, konflik yang terus-menerus juga dapat membuat perhatian terhadap makanan menjadi semakin emosional.

Karena itu, orang tua perlu berhati-hati agar tujuan “membuat anak makan lebih banyak jenis makanan” tidak justru mengorbankan hubungan anak dengan makanan.

Bukan berarti orang tua harus membiarkan anak makan apa saja

Menghindari label bukan berarti membiarkan anak hanya makan makanan favoritnya setiap hari.

Orang tua tetap memiliki peran penting dalam menyediakan makanan yang bergizi, menentukan struktur waktu makan, dan memperkenalkan berbagai pilihan makanan.

Namun, cara menyampaikannya dapat membuat perbedaan besar.

Orang tua dapat menyediakan makanan yang beragam tanpa mempermalukan anak.

Orang tua dapat menetapkan aturan tanpa memberi label.

Orang tua dapat mendorong anak mencoba tanpa memaksa.

Dan orang tua dapat mengatakan “belum” tanpa mengatakan “kamu memang seperti itu.”

Jadi, Apa yang Sebaiknya Dikatakan?

Jika Anda selama ini sering mengatakan anak Anda “pemilih makanan”, jangan langsung merasa bersalah.

Hampir semua orang tua pernah menggunakan istilah tersebut.

Yang penting adalah memahami bahwa bahasa kita dapat membentuk pengalaman anak.

Mulailah mengganti label dengan deskripsi yang lebih netral.

Daripada mengatakan:

“Dia anak pemilih makanan.”

Cobalah:

“Dia sedang belajar menerima makanan baru.”

Daripada:

“Kamu memang tidak suka sayur.”

Cobalah:

“Kamu belum menemukan sayuran yang kamu suka.”

Daripada:

“Kamu susah makan.”

Cobalah:

“Belakangan ini kamu lebih nyaman dengan makanan tertentu.”

Daripada:

“Kamu harus makan semuanya.”

Cobalah:

“Kita akan menyediakan makanan ini. Kamu boleh mulai dengan mencoba sedikit.”

Daripada:

“Kamu selalu menolak makanan baru.”

Cobalah:

“Kamu membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan makanan baru.”

Perubahan bahasa ini bukan trik untuk membuat anak langsung makan.

Tujuannya lebih sederhana: memberikan anak ruang psikologis untuk berkembang.

Anak Tidak Harus Didefinisikan oleh Apa yang Ia Makan

Ada perbedaan besar antara mengamati perilaku dan mendefinisikan seseorang berdasarkan perilaku tersebut.

Anak mungkin hari ini hanya mau makan beberapa jenis makanan.

Namun, itu tidak berarti ia harus menjadi “anak pemilih” dalam cerita tentang dirinya.

Ia adalah anak yang sedang tumbuh.

Selera makan dapat berubah.

Pengalaman dapat berubah.

Keberanian dapat tumbuh.

Preferensi dapat berkembang.

Dan hubungan anak dengan makanan dapat menjadi semakin positif ketika ia mendapatkan kesempatan untuk belajar tanpa rasa malu.

Jadi, ketika Anda hampir mengatakan:

“Anakku memang pemilih makanan.”

Berhentilah sebentar.

Kemudian tanyakan:

“Apakah saya sedang menggambarkan perilakunya, atau sedang memberinya sebuah identitas?”

Karena terkadang, perubahan kecil dalam cara kita berbicara dapat memberikan pesan besar kepada anak:

“Kamu bukan masalah yang harus diperbaiki. Kamu adalah seseorang yang sedang belajar dan berkembang.”

Dan mungkin, itulah salah satu hal paling berharga yang dapat didengar seorang anak.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore